Melipat Ujung Pakaian Saat Shalat

Melipat Ujung Pakaian Saat Shalat

Terkadang kita dapati orang yang melaksakan shalat ketika ia hendak melaksanakan sujud, maka ia menggulung lengan baju atau celananya. Bahkan bagi beberapa orang, hal tersebut telah menjadi kebiasaan. Terkadang juga di antara kita terbiasa melipat celana sebelum shalat sebab panjangnya melebihi mata kaki atau karena sebab lain. Bagaimana keterangan para ulama mengenai amalanamalan semacam ini? Kita simak bersama penjelasannya di bawah ini.

Imam an-Nawawi rahimahumullah menjelaskan,

فَكُلُّ هَذَا مَكْرُوْهٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ وَهِيَ كَرَاهَةٌ تَنْزِيْهٌ فَلَوْ صَلَّي كَذَلِكَ فَقَدْ ارْتَكَبَ الْكَرَاهَةَ وَصَلَاتُهُ صَحِيْحَةٌ

“Maka, semua ini (melipat atau menggulung pakaian dalam shalat) adalah terlarang menurut kesepakatan ulama, yaitu larangan yang sifatnya makruh tanzih. Jika dia shalat dalam kondisi seperti itu, maka dia telah melakukan perbuatan yang makruh, meskipun shalatnya tetap sah.

وَاحْتَجَّ لِصِحَّتِهَا أَبُوْ جَعْفَر مُحَمَّدٌ بِنْ جَرِيْر الطَّبَرِيْ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمِاءِ

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menyatakan tetap sahnya salat dalam kondisi seperti itu berdalil dengan ijma’ (kesepakatan) ulama.

وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرُ الِاعَادَةُ فِيْهِ عَنِ الْحَسَنِ الْبَصَرِي ثُمَّ مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجُمْهُوْرِ أَنَّ النَّهْيَ لِكُلِّ مَنْ صَلَّي كَذَلِكَ سَوَاءٌ تَعَمَّدَهُ لِلصَّلَاةِ أَمْ كَانَ كَذَلِكَ قَبْلَهَا لِمَعْنَى آخَرٍ وَصَلَّي عَلَى حَالِهِ بِغَيْرِ ضَرُوْرَةٍ

Sedangkan Ibnul Mundzir menceritakan dari al-Hasan al-Bashri bahwa wajibnya mengulangi shalat. Kemudian, menurut madzhab kami (madzhab Syafi’i) dan madzhab jumhur bahwa larangan itu berlaku mutlak bagi orang yang shalat dalam keadaan seperti itu, sama saja apakah dia sengaja melakukannya untuk shalat atau dia telah melakukan sebelumnya untuk maksud lain sehingga ia shalat dalam kondisi seperti itu, padahal tidak dalam keadaan mendesak.

 وَقَالَ مَالِكٌ النَهْيُ مُخْتَصٌّ بِمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ لِلصَّلَاةِ والاَوَّلُ الَذِى يَقْتَضِيْهِ اطْلَاقُ الْاَحَادِيْثُ الصَّحِيْحَةُ وَهُوَ ظَاهِرُ المَنْقُوْلُ عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

Imam Malik berkata, “Larangan itu hanya khusus bagi orang yang menyengaja melakukannya untuk shalat.” Pendapat yang lebih utama adalah yang menghukuminya secara muthlak sebagaimana keumuman hadits-hadits shalih. Dan inilah pendapat yang lebih kuat yang dinukil dari para sahabat.” (al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 4/98)

BACA JUGA: SHALAT ISBAL, DOSA TAPI TIDAK BATAL

 Zakariya al-Anshari rahimahumullah berkata,

وَيُكْرَهُ لِلْمُصَلِّي ضَمُّ شَعْرِهِ وَثِيَابِهِ في سُجُودِهِ أو غَيْرِهِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ أُمِرْت أَنْ أَسْجُدَ على سَبْعَةِ أَعْظُمٍ وَلَا أَكُفَّ ثَوْبًا وَلَا شَعْرًا.

Bagi orang yang shalat dimakruhkan menggulung rambut dan pakaiannya ketika hendak sujud atau kondisi yang lainnya tanpa ada kebutuhan. Hal ini karena terdapat hadits shahihain “Aku diperintah untuk sujud dengan tujuh anggota badan, tidak menahan rambut, tidak pula menahan pakaian”. (Asna al-Mathalib fi syarhi Raudhi at-Thalib, Zakaria al-Anshari, 1/ 163)

Muhammad bin Abdullah al-Kharasyi al-Maliki rahimahumullah berkata,

يُكْرَهُ لِلْمُصَلِّي تَشْمِيرُ كُمِّهِ وَضَمُّهُ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ ضَرْبًا مِنْ تَرْكِ الْخُشُوعِ وَأَوْلَى ذَيْلُهُ عَنْ السَّاقِ وَمِثْلُهُ إذَا صَلَّى مُحْتَزِمًا أَوْ جَمَعَ شَعْرَهُ وَهَذَا إذَا فَعَلَهُ لِأَجْلِ الصَّلَاةِ

Dimakruhkan bagi orang yang shalat untuk menggulung dan melipat pakaiannya. Terutama menggulung atau melipat ujung pakaian sampai ke betis jika itu dilakukan karena hendak melaksanakan shalat. Sebab itu dapat menghilangkan kekhusyukan.

أَمَّا لَوْ كَانَ ذَلِكَ لِبَاسُهُ أَوْ كَانَ لِأَجْلِ شُغْلٍ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى بِهِ فَلَا كَرَاهَةَ فِيهِ قَالَهُ ابْنُ يُونُسَ.

Namun jika pakaiannya memang sudah tergulung atau terlipat karena ada kepentingan tertentu harus dilipat hingga datang waktu shalat, maka ketika ia shalat dalam kondisi pakaiannya tergulung atau terlipat tidaklah dimakruhkan, ini adalah pendapat Ibnu Yunus. (Syarhu Mukhtashar Khalil lil Kharasyi, Muhammad bin Abdullah al-Kharasyi, 3/ 222)

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Hanbali rahimahumullah menuturkan,

إِنْ كَفَّهُ لِأَجْلِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يَدْخُلُ فِيْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُمِرْتُ اَنْ اَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ اَعْظُمٍ وَلاَ اَكُفَّ ثَوْبًا وَلاَ شَعْرًا.

Apabila melipat atau menggulung pakaian karena hendak melaksanakan shalat, maka hal itu termasuk dalam kategori sabda nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diperintah untuk sujud dengan tujuh anggota badan, tidak melipat rambut, tidak pula melipat pakaian(saat shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَإِنْ كَانَ قَدْ كَفَّهُ مِنْ قَبْلِ لِعَمَلٍ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ فِيْ الصَّلَاةِ أَوْ كَفَّهُ لِكَثْرَةِ الْعِرْقِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ فَلَيْسَ بِمَكْرُوْهٍ.

Jika dia telah melipat pakaiannya sebelum melaksanakan shalat karena tuntutan sebuah pekerjaan, atau melipatnya karena banyaknya keringat dan semisalnya, maka itu tidak dimakruhkan.

أَمَّا إِذَا كَانَ كَفَّهُ لِأَجْلِ أَنَّهُ طَوِيْلٌ فَيَنْبَغِي عَلَيْهِ تَقْصِيْرُهُ حَتَى لَا يَدْخُلَ فِيْ الْخُيَلَاءِ.

Adapun jika dia melipatnya karena pakaiannya terlalu panjang, maka hendaknya dia memotongnya agar tidak termasuk kategori sombong. (Majmu’ Fatawa war Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 13/308) Wallahu a’lam. [ ]

%d bloggers like this: