Menggunakan Alat Bantu Untuk Melihat Hilal

melihat hilal

Rasulullah SAW telah memberikan contoh cara menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal. Setiap kali tanggal 29 Sya’ban dan 29 Ramadhan kaum muslimin melihat hilal untuk memastikan apakah bulan baru sudah terlihat atau belum. Seiring dengan berkembangnya teknologi, pada zaman dahulu untuk melihat bulan baru masih menggunakan mata telanjang, adapun sekarang, sudah banyak alat moderen yang digunakan untuk melihanya. Dibawah ini kami tuliskan beberapa fatwa ulama tentang keabsahan melihat hilal dengan alat bantu.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin RA,

وَأَمَّا اسْتِعْمِالُ مَا يُسَمَّى «بِالدَّرْبِيْلِ» وَهُوَ المِنْظَارُ المُقَرِّبُ فِيْ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَلَا بَأْسَ بِهِ وَلَكِنْ لَيْسَ بِوَاجِبٍ لِأَنَّ الظَاهِرَ مِنَ السُّنَّةِ أَنَّ الْاِعْتِمَادَ عَلَى الرُّؤْيَةِ الْمُعْتَادَةِ لَا عَلَى غَيْرِهَا وَلَكِنْ لَوِ اسْتَعْمَلَ فَرَآهُ مَنْ يُوْثِقُ بِهِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ بِهَذِهِ الرُّؤْيَةِ وَقَدْ كَانَ النَّاسُ قَدِيْماً يَسْتَعْمِلُوْنَ ذَلِكَ لَمَّا كَانُوْا يَصْعُدُوْنَ المَنَائِرَ فِيْ لَيْلَةِ الثَّلَاثِيْنَ مِنْ شَعْبَانَ أَوْ لَيْلَةِ الثّلَاثِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ فَيَتَرَاءُوْنَهُ بِوَاسِطَةِ هَذَا المِنْظَارِ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ مَتَى ثَبَتَتْ رُؤْيَتُهُ بِأَيِّ وَسِيْلَةٍ فَإِنَّهُ يَجِبُ الْعَمَلُ بِمُقْتَضَى هَذِهِ الرُّؤْيَةِ لِعُمُوْمِ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا.

Adapun menggunakan alat yang disebut dengan (ad-Darbil), alat ini adalah alat teropong yang digunakan untuk melihat hilal dan tidak ada masalah untuk digunakan. Akan tetapi menggunakan alat ini tidaklah wajib. Hal ini karena yang dapat difahami secara jelas dari sunnah adalah bersandar kepada ru’yah yang sudah biasa digunakan, bukan disandarkan kepada selainnya. Namun ketika yang menggunakan teropong dan orangnya dapat dipercaya menyatakan melihat, maka hendaknya melaksanakan hasil ru’yah tersebut. Sungguh orang-orang zaman dahulu menggunakan alat itu ketika mereka naik ke atas menara pada malam tiga puluh bulan Sya’ban atau malam tiga puluh bulan Ramadhan untuk melihat hilal dengan perantara alat teropong tersebut. Dan bagaimanapun tatkala ru’yahnya telah ditetapkan walau melihatnya dengan alat apapun, maka wajib beramal karena konsekwensi dari ru’yah ini. Hal ini karena keumuman hadits SAW: “apabila kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya (hilal) maka berbukalah. (Majmu’ Fatawa wa Rasail li Ibni Utsaimin, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 19/ 36)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz RA,

أَمَا الْآلَاتُ فَظَاهِرُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ عَدَمُ تَكْلِيْفِ النَّاسِ بِالْتِمَاسِ الهِلَالِ بِهَا بَلْ تَكْفِي رُؤْيَةُ الْعَيْنِ وَلَكِنْ مَنْ طَالَعَ الْهِلَالُ بِهَا وَجَزَمَ بِأَنَّهُ رَآهُ بِوَاسِطَتِهَا بَعْدَ غُرُوْبِ الشَّمْسِ وَهُوَ مُسْلِمٌ عَدْلٌ  فَلَا أَعْلَمُ مَانِعًا مِنَ الْعَمَلِ بِرُؤْيَتِهِ الْهِلَال لِأَنَّهَا مِنْ رُؤْيَةِ الْعَيْنِ لَا مِنَ الْحِسَابِ.

Adapun alat (teropong) maka yang dapat difahami secara jelas dari dalil-dalil syar’i adalah manusia tidak terbebani untuk menggunakannya, akan tetapi cukup melihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, apabila ada yang melihat hilal dengan alat tersebut dan telah ditetapkan bahwa dia melihat hilal setelah matahari tenggelam sedang dia adalah seorang muslim yang adil, maka saya tidak mengetahui penghalang untuk beramal berdasarkan ru’yah hilalnya. Karena hal itu termasuk ru’yah hilal dengan menggunakan mata bukan dengan hisab. (Majmu’ Fatawa, Abdullah bin Baz, 15/69)

Para ulama yang ada dalam Lajnah ad-Daimah,

تَجُوْزُ الْاِسْتِعَانَةُ بِآلَاتِ الرَّصَدِ فِيْ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَلَا يَجُوْزُ الْاِعْتِمَادُ عَلَى الْعُلُوْمِ الْفَلَكِيَّةِ فِيْ إِثْبَاتِ بَدَءِ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُباَرَكِ أَوِ الْفِطْرِ لِأَنَّ الله لَمْ يَشْرَعْ لَنَا ذَلِكَ لَا فِيْ كِتَابِهِ وَلَا فِيْ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا شَرَعَ لَنَا إِثْبَاتَ بَدَءِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَنِهَايَتِهِ بِرُؤْيَةِ هِلَالِ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيْ بَدَءِ الصَّوْمِ وَرُؤْيَةِ هِلَالِ شَوَّالٍ فِيْ الْإِفْطَارِ وَالْاِجْتِمَاعِ لِصَلَاةِ عِيْدِ الْفِطْرِ وَجُعِلَ الْأَهِلَّةُ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَلِلْحَجِّ.

Diperbolehkan menggunakan alat bantu teropong dalam melihat hilal dan tidak diperbolehkan bersandar kepada ilmu falak dalam menetapkan awal bulan Ramadhan yang penuh berkah atau idul fitri. Hal ini karena Allah tidak mensyariatkan kita akan hal tersebut, tidak di dalam al-Qur’an dan tidak pula di dalam sunnah Nabi-Nya n. Adapun yang disyariatkan kepada kita untuk menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan adalah dengan melihat hilal bulan Ramadhan ketika hendak memulai shaum dan melihat hilal bulan Syawal ketika hendak berbuka dan berkumpul untuk melaksanakan shalat idhul fitri dan menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji. (Fatawa Lajnah ad-Daimah, 10/ 99)

 

Oleh: Luthfi Fathani

%d bloggers like this: