Melafalkan Niat, Bid’ahkah?

Melafalkan Niat, Bid’ahkah?

Bagi sebagian kaum muslimin, melafalkan niat dalam setiap ibadah merupakan suatu keharusan. Sebaliknya, bagi sebagian yang lain, melafalkan niat adalah perkara yang baru (bid’ah) dalam din ini. Permasalahan ini telah dijelaskan oleh para ulama madzhab, di antaranya:

Zainal Abidin bin Ibrahim bin Nujaim, salah seorang ulama madzhab Hanafi, mengatakan:

أَقُولُ: اخْتَارَ فِي الْهِدَايَةِ الْأَوَّلَ لِمَنْ لَمْ تَجْتَمِعْ عَزِيمَتُهُ، وَفِي فَتْحِ الْقَدِيرِ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّلَفُّظُ بِالنِّيَّةِ لَا فِي حَدِيثٍ صَحِيحٍ وَلَا فِي ضَعِيفٍ وَزَادَ ابْنُ أَمِيرِ الْحَاجِّ أَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ.

Menurut saya, bagi orang yang belum memiliki kemantapan hati hendaknya memilih pendapat yang pertama (melafalkan niat). Dalam kitab Fathul Qadir disebutkan bahwa dalam masalah melafalkan niat, tidak ada keterangan dari Nabi SAW baik hadits shahih maupun hadits dha’if. Ibnu Amir al-Hajj menambahkan bahwa perkara tersebut juga tidak ditemukan keterangan dari para imam empat madzhab. (alAsybah wa an-Nadhair ‘ala Madzhab Abi Hanifah an-Nu’man, Zainal Abidin bin Ibrahim bin Nujaim, 48).

Para fukaha madzhab Malikiyah memperbolehkan melafalkan niat, akan tetapi meninggalkannya (tidak melafalkannya) lebih utama, sebagaimana yang disebutkan oleh salah seorang ulama madzhab Maliki, ash-Shawi dalam Hasyiyah-nya:

وَالنِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ وَجَازَ التَّلَفُّظُ بِهَا وَالْأَوْلَى تَرْكُهُ فِي صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهَا وَهِيَ فَرْضٌ فِي كُلِّ عِبَادَةٍ.

“Niat adalah berkeinginan terhadap sesuatu; tempatnya adalah di dalam hati; diperbolehkan melafalkannya, akan tetapi lebih utama adalah meninggalkanya, baik dalam shalat atau ibadah lainnya; niat hukumnya wajib dalam setiap ibadah. (Hasyiyah ash-Shawi ‘ala asy-Syarhi ash-Shaghir, Ahmad bin Muhammad ash-Shawi al-Maliki, 2/42).

Al-‘Allamah ad-Dardir al-Maliki menyebutkan dalam kitab asy-Syarhu al-Kabir:

(وَلَفْظُهُ) أَيْ تَلَفُّظُ الْمُصَلِّي بِمَا يُفِيدُ النِّيَّةَ كَأَنْ يَقُولَ نَوَيْتُ صَلَاةَ فَرْضِ الظُّهْرِ مَثَلًا (وَاسِعٌ) أَيْ جَائِزٌ بِمَعْنَى خِلَافِ الْأَوْلَى .وَالْأَوْلَى أَنْ لَا يَتَلَفَّظَ لِأَنَّ النِّيَّةَ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ وَلَا مَدْخَلَ لِلِّسَانِ فِيهَا.

Melafalkannya yaitu pengucapan orang yang hendak shalat dengan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi niat (menguatkan niat) seperti mengucapkan, “Saya berniat shalat fardhu Zhuhur.” Luas yaitu boleh, maksudnya boleh menyelisihi pendapat yang lebih utama. Adapun yang lebih utama adalah tidak melafalkannya (niat), karena niat tempatnya di dalam hati dan tidak ada tempat masuk bagi lisan. (Syarhu al-Kabir, Ad-Dardir, 233).

baca juga: Peran Niat Dalam Mu’amalah

Al-‘Allamah ad-Dasuqi al-Maliki berkata dalam Hasyiyah ‘ala Syarhi al-Kabir:

…لَكِنْ يُسْتَثْنَى مِنْهُ الْمُوَسْوَسُ فَإِنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ الْتَلَفُّظُ بِمَا يُفِيْدُ الْنِيَّةَ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللُّبْسُ.

“…Akan tetapi, yang dikecualikan adalah orang yang memiliki penyakit was-was, maka dianjurkan baginya untuk melafalkan sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi niat (menguatkan niat) agar sesuatu yang mengganggu pikirannya hilang. (Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Syarhi al-Kabir, ad-Dasuki, 2/367).

Imam an-Nawawi, tokoh ulama madzhab Syafi’i berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab:

النِيَّةُ الْوَاجِبَةُ فِيْ الْوُضُوْءِ هِيَ النِيَّةُ بِالْقَلْبِ وَلَا يَجِبُ الْلَفْظُ بِالْلِسَانِ مَعَهَا، وَلَا يُجْزِئُ وَحْدَهُ وَإِنْ جَمَعَهُمَا فَهُوَ آكَدُّ وَأَفْضَلُ، هَكَذَا قَالَهُ الْأَصْحَابُ وَاتَّفَقُوْا عَلَيْهِ.

Niat yang wajib dalam wudhu adalah niat dalam hati dan tidak diwajibkan untuk melafalkan bersama dengan lisan. Tidak diperbolehkan hanya melafalkannya saja, jika menyatukan keduanya (niat di dalam hati dan mengucapkannya) maka hal tersebut lebih kuat dan lebih baik. Inilah pendapat sahabat kami (para ulama madzhab Syafi’i), mereka sepakat demikian. (al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, 1/ 316).

Ibnu Qudamah, salah seorang ulama madzhab Hambali menyebutkan dalam kitab al-Mughni:

وَمَعْنَى النِيَّةِ الْقَصْدُ وَمَحَلُهَا الْقَلْبُ وَإِنْ لَفَظَ بِمَا نَوَاهُ كَانَ تَأْكِيْداً

Arti niat adalah berkeinginan, tempatnya di dalam hati, dan jika seseorang melafalkan apa yang ia niatkan, maka itu sebagai penguat. (al-Mughni, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, 1/544).

Demikianlah penjelasan dari para ulama empat madzhab, bahwa tempat niat adalah di dalam hati. Melafalkan niat diperbolehkan bagi orang yang belum memiliki kemantapan hati.

 

%d bloggers like this: