Mandi Janabat Bagi Wanita

Mandi Janabat Bagi Wanita

Mandi janabat (mandi besar) bukan sekedar mandi biasa, ini adalah mandi yang disyari’atkan, dengan mencuci seluruh anggota badan tanpa terkecuali disertai dengan niat untuk menghilangkan hadats besar seperti junub dan haid. Maksud mencuci seluruh anggota badan adalah mengguyur dengan air pada bagian tubuh yang bisa untuk dibasahi. Jika sedikit saja ada bagian tubuh yang bisa dibasahi namun tidak basah maka itu tidak diperbolehkan. Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Ma’idah ayat 6, “Dan jika kamu junub maka mandilah.”

Dalam mandi janabat, wajib untuk mensucikan seluruh anggota badan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena itu, dalam mandi ini, wajib berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, sebab keduanya mungkin dilakukan. Terkecuali pada bagian tubuh yang tidak mungkin dibasahi, seperti bagian dalam dari kedua mata, karena bisa menimbulkan bahaya, atau bagian tubuh yang luka yang tidak boleh tersentuh oleh air. [Abdul Karim Zaidan, al-Mufashal fi Ahkami al-Mar’ah wa al-Bait al-Muslim, 1/120].

Selain bertujuan untuk mensucikan, mandi janabat juga bermanfaat untuk memperbarui dan meningkatkan semangat. Sebab, junub menimbulkan pengaruh pada tubuh seperti lemah dan lesu, yang dapat dihilangkan dengan mandi atau berwudhu.

Mandi Untuk Hadats Besar

Dari sinilah kita bisa membedakan antara hadats besar dan hadats kecil. Hadats besar harus disucikan dengan mandi, sedangkan hadats kecil cukup disucikan dengan berwudhu. Ada beberapa macam hadats besar yang mewajibkan seorang muslimah untuk mandi, di antaranya:

  • Keluarnya mani. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim bertanya kepada Rasulullah apakah wanita yang bermimpi harus mandi? Dan Rasulullah menjawab, “Iya, apabila melihat mani.”
  • Bersetubuh. Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadits berbunyi: “Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (berhubungan badan), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.”
  • Haid dan nifas. Rasulullah bersabda kepada Fatimah binti Hubaisy, “Jika engkau mendapati haid maka tinggalkanlah shalat, jika ia telah pergi maka mandilah kemudian kerjakanlah shalat.” Adapun nifas adalah bagian dari haid, karena darah nifas adalah kumpulan dari darah haid.
  • Wanita muslimah yang meninggal dunia. Wajib dimandikan oleh kaum muslimin yang lain. Rasulullah pernah memerintahkan untuk memandikan seorang yang jatuh dari tunggangannya dan meninggal. Ini adalah dalil bahwa seorang muslim yang telah meninggal wajib untuk dimandikan.
  • Masuk Islam. Baik karena murtad atau lainnya. Menurut ulama Maliki dan Hanbali wajib mandi bagi orang yang masuk Islam. Berdasarkan hadits ‘Ashim, ketika ia masuk Islam Nabi memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara. [Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, 1/359-367].

Tata Cara Mandi

Tata-cara mandi dimulai dari mencuci tangan sebanyak tiga kali, mencuci kemaluan dan bagian-bagian tubuh yang kotor. Kemudian berwudhu seperti wudhu untuk shalat, hanya saja mengakhirkan mencuci kaki setelah selesai mandi. Kemudian menyiramkan air pada kepala dan seluruh tubuh sebanyak tiga kali dengan niat mandi dari hadats yang mewajibkannya mandi. Dimulai dari bagian tubuh yang kanan kemudian bagian kiri, memijat-mijat tubuh dengan tangan. Disunnahkan untuk menyela-nyela rambutnya dengan air sebelum menyiram air ke seluruh tubuh. Kemudian berpindah dari tempat (posisi) mandinya dan mencuci kedua kaki sampai mata kaki. [Ibnu Qudamah, al-Mughni, 1/217].

Dalam mandi junub, seorang wanita tidak wajib mengurai rambutnya. Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang menganyam rambut kepalaku, haruskah aku mengurainya saat mandi junub?” Beliau menjawab, ‘Tidak, cukup engkau menyiramkan air ke kepalamu sebanyak tiga kali, kemudian siramlah yang lain dengan air, maka kamu telah suci.” [An-Nawâwi, Syarhu Shahih Muslim, 4/11].

Dalam kitab al-Mufasshal fi Ahkami al-Mar’ah (1/122-124), ditulis oleh Abdul Karim Zaidan disebutkan, bahwa jika terdapat penghalang pada rambut yang mengakibatkan air tidak sampai ke rambut (membasahi) seperti inai yang tebal, maka wajib bagi wanita untuk menghilangkannya sampai air dapat membasahi sela-sela rambut beserta kulit kepalanya.

Adapun mengurai rambut saat mandi haid dan nifas, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mewajibkannya, yaitu pendapat al-Hasan dan sebagian madzhab Hambali. Namun sebagian besar ulama lainnya menyatakan hukumnya sunnah, bukan wajib.

baca juga: Hikmah Medis di Balik Ibadah Mandi

Dianjurkan secara syar’i untuk menggunakan wewangian saat membersihkan haid. Manfaatnya adalah untuk menghilangkan aroma tidak enak. Dengan cara mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersuci dengannya, untuk membersihkan bekas darah. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: