Lomba sepeda santai berhadiah mobil

Lomba sepeda santai berhadiah mobil

Sebuah lembaga pendidikan Islam terkenal di sebuah kota dalam Propinsi Jawa Tengah memperingati hari jadinya dengan menggelar berbagai event meriah. Salah satu event tersebut adalah lomba sepeda santai dengan hadiah utama sebuah mobil baru. Ribuan peserta diprediksikan dan diharapkan turut menyemarakkan lomba sepeda santai tersebut.

Untuk bisa mengikuti lomba tersebut, setiap peserta wajib mendaftarkan diri kepada panitia dengan biaya Rp. 50.000,00. Setiap peserta mendapatkan nomor dan kupon, yang akan diundi oleh panitia. Peserta yang nomornya keluar dalam undian akan diumumkan sebagai pemenang yang berhak membawa pulang hadiah.

Hukum Sepeda Santai Dengan Hadiah

Bagaimana hukum lomba sepeda santai dengan hadiah dan syarat-syarat seperti kasus di atas?

Dalam kasus lomba sepeda santai di atas, setiap peserta menyerahkan biaya dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan nomor peserta lomba. Pemenang lomba akan diumumkan dari hasil undian nomor-nomor peserta lomba. Dari ribuan peserta yang mengeluarkan biaya, panitia hanya akan memilih beberapa orang pemenang saja. Biaya-biaya yang disetorkan oleh para peserta lomba tentu akan dikumpulkan oleh panitia. Dari sekian besar biaya tersebut, panitia akan menyisihkan sebagiannya untuk menyediakan hadiah lomba.

Boleh jadi pula, panitia tidak mengeluarkan biaya apapun untuk menyediakan hadiah, karena hadiah telah disiapkan terlebih dahulu oleh pihak-pihak sponsor yang digandeng oleh panitia. Buktinya adalah hadiah lomba telah disiapkan dan dipajang oleh panitia, jauh hari sebelum hari H lomba sepeda santai tersebut digelar. Pemajangan hadiah di depan khalayak umum tersebut tentu saja memiliki tujuan iklan, yaitu mengundang minat masyarakat untuk menjadi peserta lomba. Akhirnya, ribuan orang akan mengikuti lomba, dengan tujuan mencari peruntungan; siapa tahu bisa membawa pulang sebuah mobil.

Kemasan lomba tersebut cukup canggih dan menarik. Namun hakekatnya tidak berbeda dengan kasus SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang populer pada masa orde baru. Dalam SDSB, ratusan ribu orang atau bahkan jutaan orang berlomba-lomba mengeluarkan uang dalam  jumlah tertentu untuk sekedar mendapatkan kupon nomor. Kupon nomor jutaan orang tersebut diundi setiap pekan, dan pemenang undian adalah orang yang kupon nomornya keluar dalam undian. Majelis Ulama Indonesia dan lembaga-lembaga fatwa ormas-ormas Islam menegaskan bahwa SDSB adalah sebuah bentuk perjudian dan pengundian nasib.

Lomba sepeda santai berhadiah mobil dan SDSB memiliki kesamaan hakekat yaitu mempertaruhkan sebagian harta dengan harapan mendapatkan hadiah atau hasil yang puluhan kali lipat lebih besar dari modal yang dikeluarkan. Harapan meraih hadiah tersebut tidak diikuti dengan usaha dan kerja keras apapun yang bersifat memutar modal dalam kegiatan ekonomi. Harapan tersebut semata-mata digantungkan kepada peruntungan nasib, melalui proses undian kupon.

Inilah hakekat dari perjudian; mengeluarkan modal dengan harapan meraih hasil yang lebih besar, tanpa melakukan kegiatan ekonomi apapun yang bersifat pengelolaan modal tersebut dalam kegiatan ekonomi yang konkrit. Ia hanya mengharapkan hasil yang besar dari proses undian.

Boleh jadi ia selalu mengeluarkan modal tanpa meraih hasil apapun. Boleh jadi pula ia baru mengeluarkan sedikit modal, namun ia memperoleh hasil yang luar biasa besar. Hasil luar biasa besar tersebut bukan merupakan hasil kerja keras dirinya secara halal, melainkan hasil dari harta-harta orang lain yang dihimpun oleh panitia dan sebagiannya diserahkan kepada dirinya sebagai “pemenang”. Maka harta tersebut adalah harta orang lain yang ia makan secara zalim.

baca juga: Doorprize Sepeda Santai Halalkah?

Perjudian dan mengundi nasib adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (najis), merupakan perilaku setan, maka jauhilah oleh kalian agar kalian beruntung.” (QS. Al-Maidah [5]: 90)

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيَّ أَوْ حُرِّمَ الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْكُوبَةُ قَالَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas diriku atau diharamkan atas diriku khamr, judi, dan kuubah, dan setiap hal yang memabukkan adalah haram.” Di akhir riwayat disebutkan bahwa perawi Sufyan bertanya kepada Ali bin Badzimah: “Apakah kuubah itu?” Maka Ali bin Badzimah menjawab: “Gendang.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan lain-lain)

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاءَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr, judi, kuubah, dan ghubaira’, dan setiap hal yang memabukkan adalah haram.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan lain-lain) Ghubaira’ adalah minuman penduduk Habasyah, yang memabukkan dan terbuat dari perasan jagung.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

%d bloggers like this: