Lima Kali Penyusuan Menjadi Mahram

Lima Kali Penyusuan Menjadi Mahram

Menurut sebagian ulama fikih, seorang ibu berkewajiban untuk menyusui anak kandungnya selama ayah dari anak tersebut (yaitu suaminya) tidak menceraikan dirinya. Allah berfirman, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.” (QS. Al-Baqarah: 233).

Apabila ibu dari anak yang disusui bukan lagi menjadi istri dari suaminya maka ia tidak berkewajiban untuk menyusui anaknya, hanya saja dianjurkan. Allah berfirman, “Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anakmu) untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (QS. Ath-Thalaq: 6).

Penyusuan ini menjadi sangat penting, karena penyusuan dapat menjadikan seseorang berstatus mahram dengan orang lain. Islam telah menetapkan beberapa hukum dan batasan tentang saudara sesusu yang telah menjadi mahram.

Pertama, hubungan mahram. Suami wanita yang menyusui menjadi bapak dari anak yang disusui dan saudara-saudaranya akan menjadi pamannya.

Kedua, tidak boleh menikahi mahram. Saudara sesusu yang telah menjadi mahram diperlakukan sebagaimana saudara kandung dalam soal pernikahan, sehingga tidak boleh untuk menikahinya.

Ketiga, boleh berkhalwat (atau pergi bersafar) dengan saudara sesusuan.

Keempat, boleh melihat bagian-bagian yang tidak ditampakkan kepada orang selain mahram, seperti wajah, tangan, mata kaki, lengan, dan bagian-bagian yang serupa dengan itu.

BACA JUGA: Mahram Bagi Perempuan

Oleh karena itu, ada beberapa syarat penyusuan yang dapat menjadikan seseorang mahram dengan wanita yang menyusuinya dan saudara-saudaranya. Pertama, adalah berasal dari susu manusia. Kedua sebanyak lima kali penyusuan atau lebih. Ketiga, terjadi sebelum usia dua tahun.

DARI AIR SUSU MANUSIA

Syarat pertama adalah air susu tersebut berasal dari manusia. Dua orang anak meminum susu yang berasal dari perahan satu kambing misalnya, maka tidak menjadikan mereka dua saudara mahram. Para ulama tidak mensyaratkan dari manusia yang masih hidup, contohnya seorang wanita yang menyusui anak sebanyak empat kali penyusuan lalu ia meninggal, kemudian anak tersebut masih meminum susunya untuk yang kelima kalinya, maka ia menjadi mahram dengan anak-anak lain yang pernah disusui oleh wanita tersebut. (Ibnu Qudamah, alMughni, 8/175).

LIMA KALI PENYUSUAN

Syarat kedua adalah lima kali penyusuan atau lebih, yang sebenarnya oleh para ulama persoalan ini diperselisihkan. Sebagian ulama berpendapat tidak ada batasan tertentu dalam penyusuannya, berdasarkan keumuman firman Allah, “Dan ibu-ibumu yang menyusui kamu,” (QS. an-Nisa’: 23).

Sebagian lain berpendapat harus tiga kali penyusuan atau lebih, berdasarkan sabda Rasulullah, Satu kali hisapan atau dua kali tidak menjadikan mahram, sebagaimana satu kali penyusuan atau dua kali penyusuan.” (HR. Muslim).

Ada juga yang berpendapat lima kali penyusuan, yaitu pendapat mazhab Syafi’i dan Hanbali. Berdasarkan hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

“Di antara yang diturunkan dalam alQur’an adalah sepuluh kali penyusuan yang diketahui akan menjadikan sebagai mahram, dan dihapus menjadi lima kali penyusuan yang diketahui, kemudian Rasulullah wafat. Dan ini adalah bagian dari apa yang diajarkan al-Qur’an.” (Abu Husain Yahya al-Imrani, al-Bayan, 11/145. Ibnu Qudamah, al-Mughni, 11/171).

Ibnu Qayyim menjelaskan, cara penyusuannya adalah sebagaimana wajarnya anak menyusu. Anak yang tengah menyusu kemudian melepaskan hisapan susunya dengan sendirinya maka disebut dengan satu penyusuan. Berhenti sejenak untuk bernafas, istirahat, atau untuk sesuatu yang digemari, kemudian ia menyusu kembali maka tetap disebut dengan satu kali penyusuan. Apa yang tertera dalam syara’ bersifat umum, sehingga dibawa kepada kebiasaan yang ada. (Ibnu Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/507).

SEBELUM UMUR DUA TAHUN

Syarat ketiga adalah penyusuan dilakukan sebelum anak disapih atau sebelum umur dua tahun menurut pendapat yang shahih. Dalam beberapa kasus anak telah disapih oleh ibunya pada umur satu tahun, namun sebelum ia berumur dua tahun sempat menyusu kembali –dengan cara apa pun sebanyak lima kali penyusuan— kepada selain ibunya, maka penyusuannya tersebut dapat menjadikan mahram bagi wanita yang menyusui.

Sependapat dengan Ibnu Taimiyyah, beliau menjelaskan bahwa penyusuan tidak memberi pengaruh kecuali dilakukan sebelum usia penyapihan (sebelum dua tahun), berdasarkan sabda Rasulullah, “Tidak ada penyusuan (yang menyebabkan sebagai mahram) melainkan yang dapat menumbuhkan tulang, yaitu sebelum usia penyapihan.” (HR. Abu Dawud). Maknanya, ASI yang diminum oleh anak sebelum usia dua tahun akan berperan sebagai gizi yang mampu memberi pertumbuhan pada anak, dan ASI tersebut tidak memberi pengaruh apa pun pada anak di atas dua tahun maupun orang dewasa. (AlUtsaimin, Fiqhul Mar’ah Al-Muslimah, 424427). Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: