LGBT Merebak, Dunia Rusak

LGBT Merebak, Dunia Rusak

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ النَّاسَ بِهَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Di kesempatan yang mulia ini kembali Allah mempertemukan kita, di salah satu dari rumah Allah. Bukan karena dunia yang mengumpulkan kita. Bukan karena senasab atau bukan karena satu keturunan kita bertemu di tempat yang penuh barokah ini. Tapi kita bertemu karena mencari ridha Allah Subhanahu Wata’ala dan merealisasikan perintah Allah Subhanahu Wata’ala yaitu melaksanakan shalat Jumat berjamaah.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jamaah sekalian. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebenar-benarnya dengan berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang sudah Allah dan Rasulnya jelaskan, baik di dalam al-Quran maupun hadits Nabi ﷺ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala

Baru-baru ini marak kembali pembahasan eksistensi perilaku sosial yang menyimpang di negeri ini, yaitu tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Di media sosial bahkan kaum LGBT mulai tak malu lagi untuk tampil. Mereka membentuk basis komunitas, entah itu sesama gay, lesbian, dan lainnya. Di Indonesia, gerakan kampanye menuntut legalitas LGBT juga marak dan mendapatkan dukungan dari akademisi dan pegiat feminisme.

Di bidang politik, usaha ini diwujudkan dengan mengupayakan lolosnya undang-undang yang memberikan celah bagi pernikahan sesama jenis. Para akademisi Muslim liberal menulis publikasi jurnal ilmiah tentang dukungan semua jenis ekspresi seksual dan mengajak masyarakat untuk setuju terhadap legalisasi perkawinan sejenis dan pengakuan untuk para penyimpang seksual lainnya.

Para aktivis HAM mengatakan bahwa adalah hak manusia untuk menentukan nasibnya, termasuk menentukan pasangan hidupnya. Mengapa mereka begitu getol membela LGBT padahal semua agama sudah sangat jelas melarangnya? Salah satu jawabanya adalah karena persoalan mengikuti hawa nafsu.

Perlu diketahui jamaah shalat Jumat rahimakumullah, bahwa untuk memuluskan perilaku menyimpang LGBT agar bisa diterima, ada kucuran dana melimpah sebesar USD 8 juta atau sekitar Rp107,8 miliar di Indonesia. Dana melimpah itu berasal dari kemitraan regional antara UNDP, Kedutaan Besar Swedia di Bangkok dan USAID.

Proyek ini dimulai Desember 2014 hingga September 2017 dan tentunya masih berjalan sampai saat ini. “Inisiatif ini bertujuan untuk memajukan kesejahteraan lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI), dan mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI),” demikian keterangan tertulis yang dikutip Sindonews dari situs resmi UNDP, Jumat (12/2/2016).

 

HUKUMAN BAGI PELAKU LGBT

Dalam memandang LGBT, para ulama sepakat mengatakan bahwa LGBT haram, tapi berbeda pendapat dalam menentukan hukumannya. Dalam bahasa arab homoseksual dinamakan al-liwath. Pelakunya dinamakan al-Luthiy. Sedangkan lesbian dinamakan Sihaaq. Sebagian besar ulama menjelaskan tentang hukuman Allah Subhanahu Wata’ala terhadap kaum homoseks dalam Surat Hud ayat 82-83,

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ.  مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

Perilaku menyimpang seperti ini sejatinya telah ada sejak kurang lebih empat belas abad yang lalu, al-Quran telah memperingatkan umat manusia ini, supaya tidak mengulangi perbuatan kaum Nabi Luth. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 165-166,

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ.  وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚبَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُون

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Setelah Rasulullah ﷺ menerima wahyu tentang berita kaum Luth yang mendapat kutukan dari Allah dan merasakan azab yang diturunkanNya, maka beliau merasa khawatir sekiranya peristiwa itu terulang kembali kepada umat di masa beliau dan sesudahnya. Rasulullah bersabda di dalam haditsnya yang diriwayatakan oleh Ibnu Majah, Tirmidzi dan Al-Hakim,

“Sesuatu yang paling saya takuti terjadi atas kamu adalah perbuatan kaum Luth, dan dilaknat orang yang memperbuat seperti perbuatan mereka itu, Nabi mengulangnya sampai tiga kali, Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth; Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth; Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth.”

Para ulama sepakat mengatakan bahwa LGBT haram, tapi berbeda pendapat dalam menentukan hukumannya,

Jamaah jumat yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala

Imam Adz-Dzhahabi dalam kitab AlKabaair, memasukan LGBT di antara jajaran 17 dosa paling besar. Sebab apa? Karena besarnya dosa dan ancaman yang Allah berikan bagi para pelakunya.

Ibnu Abbas c berkata, Hukuman pelaku homoseks adalah dibawa ke tempat tertinggi di negerinya, lalu dijatuhkan dan dilempari dengan bebatuan.

Sedangkan Madzhab Syafi’iyyah menyatakan hukuman pelaku homoseks, sama dengan hukuman pelaku zina.

 

PERAN PENGUASA MENOLAK LGBT

Jamaah shalat jumat rahimakumullah

Ummat ini dikatakan sebagai ummat yang terbaik, bukan karena banyaknya jumlah kaum Muslimin pada hari ini. Ummat ini dikatakan sebagai ummat yang terbaik, bukan karena banyaknya orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah. Akan tetapi ummat ini dikatakan sebagai ummat yang terbaik karena mereka mau menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Di dalam Surat al-Imran ayat 110 Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Semua orang mampu untuk melaksanakan ibadah shalat, puasa. Semua orang bisa membaca al-Quran, akan tetapi tidak semua orang bisa melaksanakan ibadah amar makruf nahi munkar.  Para penguasalah yang akan mampu melaksanakan ini dengan maksimal.

Oleh karenanya, siapa saja yang mempunyai kekuasaan maka manfaatkanlah kesempatan itu untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu Wata’ala. Siapa saja yang mendapatkan amanah dari rakyat untuk membuat undang-undang, gunakanlah dengan sebaik-baiknya untuk menjalankan syariat Allah Subhanahu Wata’ala. LGBT akan marak kalau tidak ada peraturan yang melarangnya. LGBT akan marak kalau ada peraturan yang melindunginya, naudzubillah min dzalik.

Perlu kita ingat bersama bahwa jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Maka pantaslah kalau para pendahulu kita akan berusaha menolak jika mereka ditawari sebuah jabatan. Tetapi kalau mendapatkan amanah itu, mereka akan berusaha untuk menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Sejenak mari kita melihat di zaman sahabat Rasulullah saat Abu Bakar dalam pidato politiknya yang pertama beliau berkata, “Wahai rakyat, aku dipilih untuk memimpin kalian bukan berarti aku terbaik dari kalian. Kalau aku benar, dukunglah, dan kalau salah, luruskan. Kejujuran adalah amanat, kebohongan adalah khianat. Orang kuat di antara kalian adalah orang lemah disisiku sampai kuambil hak daripadanya. Orang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku sampai kuambilkan hak untuknya, insnya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan ditimpakan kehinaan. Tidaklah suatu kebejatan (gay) melanda suatu bangsa, kecuali Allah akan meratakan siksaannya. Taatlah kepadaku, selama aku taat kepada Allah. Bila aku melanggar Allah dan Rasul-Nya, tidak usah ditaati. Lakukanlah shalat kalian semoga Allah merahmati kalian.”

Prinsip dasar itu diikuti oleh Umar bin Khatab, bermodal jiwa besar, ia berkhutbah, “Barangsiapa mendapatkan ketidakberesan padaku, hendaklah diluruskan.” Lalu berdiri seorang seraya berkata, “Sungguh kalau anda tidak beres kami akan luruskan dengan pedang kami.” Umar tidak marah sambil menyambut dengan ungkapannya, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara umat Muhammad ﷺ ada yang berani meluruskan Umar dengan pedangnya.”

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mengkaruniai ummat ini sosok pemimpin yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah kedua

Pada khutbah kedua ini mari kita berdo’a kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ.اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.ا

اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ.اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

 

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

%d bloggers like this: