Kode E Belum Tentu Haram

kode e pada makanan

Code E pada kandungan makanan sering dianggap sebagai kode rahasia dari lemak babi. Tak sekali dua kali, hoax dan kabar palsu mengenai kode ini beredar. Bahkan, beberapa produk yang telah mendapat sertifikat halal dari LPPPOM MUI pun dituduh haram karena mengandung bahan berkode E dengan nomor tertentu. Apa sebenarnya kode E (E codes) dalam makanan?

Kode E atau E numbers adalah kode bahan tambahan makanan yang telah dikaji oleh Uni Eropa. Kode ini digunakan untuk mempermudah identifikasi bahan dan memastikan kesamaan nama bahan secara internasional. Sebenarnya, kode E tidak boleh dicantumkan pada kemasan kecuali dengan menyebutkan nama lain dari bahan tersebut yang bisa dimengerti konsumen. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kerancuan dan tanda Tanya, apa maksud dari bahan makanan tersebut.

Misalnya, pada produk akan disebutkan seperti berikut: stabilizer (E430, E4521), Emulsifer (E471,E472e). kode E dan angka dibelakangnya menunjukkan pada bahan, apakah stabilizer, emulsifier, penstabil dan lain sebagainya. Emulsifier E471 misalnya, merupakan emulsifier yang bisa berasal dari nabati atau hewani. Jika berasal dari hewani juga belum tentu berasal dari babi karena kode E471 bukanlah kode zat dari hewan tertentu.

Situs Guideways.com merilis kode E dari E100 sampai E1500 berikut status halal atau syubhatnya. Jumlah bahan tambahan berkode E memang sangat banyak karena kode E bukan hanya untuk bahan yang berasal dari hewan tapi juga dari bahan lain; tumbuhan, senyawa tertentu dan juga bahan sintetis.

Intinya, kode E pada makanan, berapapun nomornya, bukanlah kode rahasia dari zat yang berasal dari babi. Itu adalah kode jenis bahan tambahan yang bisa berasal dari bahan apapun. Kita tidak bisa memastikan bahwa bahan berkode E tersebut pasti berasal dari hewan haram. Untuk memastikan apakah bahan berkode E tersebut halal atau tidak, kita bisa mengecek kehalalan produk tersebut dengan ada tidaknya label halal.  Jika produk tersebut berlabel halal, dapat dipastikan bahwa bahan berkode E tersebut bebas dari unsur haram, sesuai analisis dari MUI.
Berikut adalah daftar bahan tambahan makanan dengan kode E yang statusnya syubhat:

NO NAMA BAHAN KODE FUNGSI KETERANGAN
1 riboflavin (vitamin B2) E101

 

pewarna kuning jika berasal dari hati atau ginjal babi atau hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i)
2 Cochineal (asam karminat) E120 Pewarna merah statusnya halal, namun ulama-ulama dari Inggris dan Afrika Selatan mengharamkannya karena pewarna merah ini dibuat dari serangga.

 

3   E160a- pewarna kuning oranye alami alpha, beta, gamma-karotene (dari tanaman, seperti jagung, wortel, dll statusnya syubhat, haram jika ditambahi gelatin non-halal.
4   E160e pewarna merah alami annatto, bixin, norbixin (dari tanaman) statusnya syubhat, haram jika ditambahi gelatin non-halal.
4  antioksidan butylated hydroxyanisole (BHA)

= antioksidan butylated hydroxytoluene (BHT)

 

E320

E321

 

antioksidan statusnya syubhat. BHA sendiri adalah senyawa kimia murni, statusnya halal. Namun, dalam skala industry terkadang pembuatan BHA dan BHT melibatkan karier lemak. Maka statusnya tergantung status kehalalan lemak yang dipakai. Jika ia menggunakan karier lemak nabati maka ia halal. Namun, kalau menggunakan lemak hewan haram atau lemak hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, maka statusnya haram
5 lecithin (lesitin)

disembelih secara syar’i.

 

E322 emulsifier Bahan pengemulsi ini statusnya syubhat, halal jika dibuat dari kedelai atau kuning telur, dan haram jika dibuat dari lemak babi atau lemak  hewan halal yang tidak
6 garam sodium (Na), potassium (P) atau kalsium (Ca) dari asam lemak E470-E483 emulsifier Status kehalalannya tentu tergantung asal lemak yang dipakai. Jika ia berasal dari lemak nabati, maka ia halal dikonsumsi. Namun, jika ia berasal dari lemak hewan haram (babi) atau hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, maka ia haram dikonsumsi
7 Gliserol E420-E422 pelembab Jika dihidrolisis dari lemak hewan haram (babi) atau lemak hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, maka ia haram dikonsumsi.

 

 

baca juga: 4 Zat Dari Babi Yang Sulit Dihindari

%d bloggers like this: