Kitab Wajib Pesantren Salafiyah, Fathul Mu’in bisyarhi

Kitab Wajib Pesantren Salafiyah, Fathul Mu’in bisyarhi

Kitab : Fathul Mu’in bisyarhi
Karya : Syaikh Zainuddin bin Abdul
Qurratil ‘Aini
Aziz Al-Ma’bari Al-Malibari

 

Bagi pemerhati kitab Turatst tentunya tidak asing lagi dengan kitab yang berjudul Fathul Mu’in. Sebuah kitab kecil yang banyak memiliki keunggulan dibanding kitab-kitab lainnya. Kitab ini adalah karya seorang ulama bernama Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Ma’bari Al-Malibari. Merupakan salah satu karya monumental ulama muta’akhirin dari mazhab Syafi’i yang menjadi standar kitab di beberapa pesantren Indonesia. Bahkan di beberapa pesantren tersebut kitab ini sebagai tolok ukur santri dalam penguasaan kitab salaf.

Penulis Fathul Mu’in bisyarhi

Beliau adalah seorang ulama yang dilahirkan di Malabar, India Selatan. Tidak tahu persis kapan beliau dilahirkan bahkan kapan beliau wafat. Dalam perkiraannya beliau wafat pada tahun 970-990 H dan dikuburkan di kota Ponani, India.

Selain dikenal sebagai ulama fikih yang bermazhab Syafi’i, beliau juga dikenal sebagai ahli tasawuf, sejarah dan sastra. Beliau mempunyai beberapa karya dalam litelatur ilmu, di antaranya adalah Fathul Mu’in ini sendiri yang merupakan syarah dari kitab Qurratul ‘Aini fi Muhimmatid Dini, Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’, Tuhfatul Mujahidin dan lain sebagainya. Dikenal juga sebagai ulama yang sangat tegas, kritis dan memiliki pendirian teguh. Beliau pernah menjadi seorang hakim dan penasehat kerajaan.

Kitab ini tidak jauh beda dengan kitab-kitab fikih yang lain, membahas semua persoalan fikih dari ibadah, mu’amalah, pernikahan, jinayat yang disusun sesuai dengan bab-babnya. Kendati demikian kitab ini masih terdapat kekurangan, terkadang tidak disebutkan sebuah pembahasan yang sebenarnya penting untuk disebutkan. Sehingga sering sekali Syaikh Abu Bakar al-Syatha dalam kitabnya Hasyiyah I’anatut Thalibin mengkritik tentang tidak adanya penyebutan pembahasan tersebut. Di antara kritikan tersebut adalah tentang pembahasan Istihadhah, Istikhlaf, Ju’alah, dan lainnya. Bahkan ada sebuah permasalahan yang telah disebutkan dalam judul ternyata tidak masuk dalam pembahasan, yaitu masalah menjual buah-buahan (bai’u tsimar). [Abu Bakar al-Syatha, Hasyiyah I’anatu Talibin, 1/90, 2/111, 3/146]

Menurut beliau pembahasan yang tidak disebutkan dianggap tidak perlu, karena jarang terjadi pada masa itu atau kurang diperhatikan di kalangan kaum awam. Pasalnya, beliau mengarang kitab ini memang diperuntukkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Jika kitab-kitab fikih biasanya dimulai dengan pembahasan thaharah sebagai instrumen penting sebelum melakukan shalat, namun beliau mengawali kitab ini dengan pembahasan shalat. Sebagai Ibadah yang paling fital dalam Islam dan secara otomatis juga akan membahas soal thaharah, karena shalat tidak akan sah kecuali dengan thaharah.

Dalam pembahasan shalat, kitab ini menyajikannya secara runtut dibanding dengan kitab-kitab yang lain. Dalam penyebutannya tidak diklasifikasikan sesuai dengan mana yang fardhu dan mana yang sunnah, melainkan disebutkan sesuai dengan kaifiyyahnya. Metode seperti ini juga diterapkan dalam pembahasan Haji dan Umrah.

Di antara keistimewaan lain kitab ini adalah menyebutkan beberpa khilaf ulama yang dinukil dari kitab-kitab mereka yang mu’tabar dengan mentarjih pendapat mereka, baik secara langsung maupun secara isyarat. Dan kebanyakan pendapat yang dipilih oleh beliau adalah pendapat gurunya, Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitsami, dan guru inilah yang dikehendaki ketika beliau menyebut istilah syaikhuna (guru kami).

Kitab ini dicetak untuk yang pertama kalinya pada tahun 1287 H di salah satu penerbit bernama Bulaq, kemudian dicetak ulang pada tahun 1304 H dan tahun 1309 H. Dicetak pula di penerbit lain bernama Wadi An-Nail (Mesir) pada tahun 1297 H, kemudian di penerbit Al-Khairiyyah (Mesir) pada tahun 1306 H, dan di penerbit Maimaniyyah (Mesir) pada tahun 1304 H dan 1306 H. Inilah pencetakkan kitab Fathul Mu’in di awal-awalnya.

Pada tahun 1424 H/ 2004 M, kitab ini dicetak dalam 1 jilid; 757 halaman di salah satu pernerbit bernama Ibnu Hazm. Sebagaimana juga telah disinggung di atas, secara rinci kitab ini terdiri dari 13 pembahasan pokok, diawali dengan pembahasan shalat, zakat, puasa, haji dan umrah, jual-beli, pernikahan, jinayat, murtad, hadd, jihad, pengadilan, kepenuntutan, dan diakhiri dengan pembahasan i’tikaf. [Basyam Abdul Wahab Al-Jabi, Fathul Mu’in, Mukaddimah, hal. 1-34]

baca juga: Refrensi Singkat Madzhab Hambali, Dalilu ath-Thalib li Naili

Inilah kitab Fathul Mu’in, secara ringkas telah dijelaskan di atas, yaitu kitab fikih yang berhubungan dengan sahnya ibadah atau mu’amalah yang dilakukan oleh seseorang, menjelaskan perkara yang halal, haram, makruh, mubah dan lain sebagainya. Maka kitab ini sangat penting untuk dipelajari, dikaji dan diamalkan dengan mengharap Allah menunjukkan jalan menuju ridha-Nya. Wallahu a’lam. []

 

 

# Fathul Mu’in bisyarhi # Fathul Mu’in bisyarhi # Fathul Mu’in bisyarhi # Fathul Mu’in bisyarhi #

%d bloggers like this: