Kitab Idola Santri Salafiyyah

Kanzu ar-Raghibin

Judul Kitab: Kanzu ar-Raghibin

Penulis: Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Muhalli.

Nama Populer: Al-Muhalli.

Jilid: 2 (1/751 hal., 2/752 hal.)

Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi.

Mazhab: Syafi’i.

Link Download: Jilid 1 (https://archive.org/download/FP148979/01_148979.pdf), jilid 2 (https://archive.org/download/FP148979/02_148980.pdf)

 

 

Kitab Idola Santri Salafiyah

Kanzu ar-Raghibin merupakan salah satu kitab idola para santri yang ingin mendalami mazhab Syafi’i. Kanzu ar-Raghibin adalah syarah dari kitab Minhaju ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi.

Minhaju ath-Thalibin adalah ringkasan dari kitab al-Muharrar karya Imam ar-Rafi’i yang beliau ringkas dari kitab al-Wajiz karya Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali sendiri meringkasnya dari karya beliau sendiri yang berjudul al-Wasith yang diringkas dari al-Basith yang juga merupakan karya beliau. Imam al-Ghazali meringkaskan kitab al-Basith ini dari kitab an-Nihayah karya Imam al-Haramain. Kitab an-Nihayah merupakan syarah dari Mukhtashar al-Muzani, sedangkan Mukhtashar al-Muzani diringkas dari al-Umm. Pendapat lain menyebutkan bahwa kitab an-Nihayah merupakan ringkasan dari empat kitab, yaitu al-Umm, al-Imla’, al-Buwaithi dan Mukhtashar al-Muzani.

Menyandang kitab penting di kalangan mazhab Syafi’i menjadikan Minhaju ath-Thalibin banyak dilirik oleh ulama setelahnya. Banyak dari mereka yang menuliskan syarah, mukhtashar ataupun nazham dari kitab ini.

Di Indonesia, Minhaju ath-Thalibin menjadi kitab yang wajib diajarkan di pesantren-pesantren Salafiyah dan menjadi kitab panduan dalam majelis-majelis ilmu. Tentunya untuk mendapatkan kitab ini tidaklah sulit.

Ahmad Maiqary Syumailah al-Ahdal dalam kitabnya yang berjudul Sulam al-Muta’allim al-Muhtaj ila Ma’rifah Rumuz al-Minhaj, mengatakan bahwa sekurang-kurangnya terdapat 20 kitab yang memberi syarah atas Minhaju ath-Thalibin. Dari 20 tersebut terdapat beberapa kitab yang populer dan menjadi bahan bacaan di kalangan pesantren, salah satunya adalah Kanzu ar-Raghibin karya Imam al-Muhalli yang akan menjadi topik dalam tulisan ini.

Tentu tidak kalah dengan matannya, Kanzu ar-Raghibin juga mampu menarik perhatian para santri dan ulama nusantara, sehingga di beberapa pesantren Kanzu ar-Raghibin malah dikaji secara bersanad dari seorang Syaikh, sangat wajar karena sebagian besar umat Islam Indonesia menganut mazhab Syafi’i.

 

Baca Juga: Kitab Fikih Khusus Ibu

 

Kanzu ar-Raghibin selesai ditulis oleh al-Muhalli pada tahun 860 H. Apa yang beliau lakukan memang bukan suatu yang baru karena beberapa ulama juga melakukan persyarahan terhadap matan Minhaju ath-Thalibin. Meskipun demikian, Kanzu ar-Raghibin berhasil mengambil hati para ulama dan kaum muslimin sehingga masuk dalam kategori kitab syarah yang masyhur dari kitab Minhaju ath-Thalibin.

Bagaimana pun, masing-masing orang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan kemampuan merangkai kata yang mudah dipahami, ulasan yang sederhana dan runtut maka penulis telah berhasil menarik perhatian kaum muslimin.

Hal menarik lainnya adalah, Kitab Kanzu ar-Raghibin ini sudah di tahkik oleh beberapa ulama mutaakhirin, salah satunya Syaikh Mahmud Shalih Ahmad Hasan al-Hadidi.

Beberapa hal yang beliau lakukan dalam penahkikkannya adalah:

Pertama, membandingkan cetakan Kanzu ar-Raghibin terbaru dengan beberapa cetakan lama, kemudian merubah dan membenarkan kesalahan-kesalahan di dalamnya.

Kedua, menandai ayat al-Qur’an dengan kurung buka – kurung tutup, kemudian menggantinya dengan khat al-Qur’an yang biasa dipakai hari ini dengan mengacu pada riwayat Hafsh bin ‘Ashim.

Ketiga, mentakhrij hadits-haditsnya secara ringkas dengan merujuk pada kitab ulama hadits dan menyebutkan perawi yang belum disebutkan oleh penulis.

Keempat, membuat judul pada beberapa paragraf untuk memudahkan pembaca dalam mengingat dan menelaah.

Kelima, meletakkan matan di bagian atas dengan harakat penuh di setiap huruf dan meletakkan syarah di bawahnya.

Keenam, dalam mukaddimah kitab ini pentahkik menyebutkan biografi lengkap Imam an-Nawawi sebagai penulis Minhaju ath-Thalibin dan Imam Jalaluddin al-Muhalli sebagai penulis Kanzu ar-Raghibin. Pentahkik juga menyebutkan beberapa keistimewaan daripada dua kitab tersebut di dalamnya.

Ketujuh, menyusun daftar isi pada bagian akhir untuk memudahkan pembaca mencari pembahasan yang diinginkan.

Dengan adanya pentahkikkan ini secara otomatis menampilkan keistimewaan tersendiri pada kitab Kanzu ar-Raghibin. Wallahu a’lam. [-]

 

(** Disarikan dari mukaddimah kitab Kanzu ar-Raghibin, Jalaluddin al-Muhalli, cet. 2 – 2003 M, Dar Al-Minhaj – Berut, dan beberapa sumber lainnya)

%d bloggers like this: