Kifayatul Akhyar

Kifayatul Akhyar

PENULIS            : TAQIYYUDDIN ABU BAKAR BIN MUHAMMAD AL-HUSHNI

Kitab yang berjudul Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayatil Ikhtishar merupakan sebuah kitab fikih mazhab Syafi’i, yang disusun oleh Syaikh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hushni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Beliau adalah seorang ulama mazhab Syafi’i yang lahir pada abad ke-9 Hijriyyah.

Merupakan salah satu kitab fikih yang sangat populer di negeri kita. Banyak dijadikan sebagai kurikulum pendidikan di berbagai pesantren, serta karena banyaknya keunggulan kitab ini para ulama dan intelektual muslim berusaha menterjemahkannya ke berbagai bahasa, di antaranya adalah bahasa Indonesia, Malaysia, Thailand, Inggris, Perancis dan lainnya.

Dengan kemampuannya, penulis membuat kitab ini sebagai ringkasan dari kitab Raudhatu at-Thalibin yang ditulis oleh Imam an-Nawawi sekaligus sebagai syarah dari Matan Abu Syuja’ yaitu al-Ghayah wa at-Taqrib. Ishtilah dan isinya diambil dari kitab Raudhatu at-Thalibin namun sistematika penulisannya sesuai dengan urutan Matan Abu Suja’.

Metode penulisan kitab ini pun dibuat sangat sederhana, dimana matan al-Ghayah wa at-Taqrib ditulis di bagian atas, lalu di bawahnya ada penjelasan yang merupakan kitab Kifayatul Akhyar ini. Selain yang telah disebutkan di atas, di antara keistimewaan lainnya adalah:

Pertama, penjabaran syarah dalam kitab ini disampaikan secara ringkas namun mencukupi kebutuhan thalibul ilmi untuk mempelajari fikih dari dasar. Seperti kitab-kitab fikih lainnya, diawali dengan bab thaharah, shalat, puasa, zakat, haji, wasiyat, perwarisan, perkawinan, dan diakhiri dengan bab pembebasan.

Kedua, dalam penjelasannya disertakan dalil-dalil yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Terlebih dahulu penulis memaparkan dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, kemudian mulai menjelaskan dengan syarahnya.

Apabila dalam matan al-Ghayah wa at-Taqrib kita hanya menemukan hasil akhir dari ilmu fikih, tanpa disebutkan dalil-dalilnya, maka dalam kitab ini kita akan mendapati dalil-dalil yang melatarbelakangi hasil akhir tersebut. Bahkan terkadang penulis menyebutkan lebih dari satu dalil dalam sebuah permasalahan, juga menyebutkan beberapa riwayat hadits yang lain, serta menjelaskan sebagian kalimat yang sulit untuk difahami.

Ketiga, menyebutkan perbedaan pendapat antara Imam ar-Rafi’i dan Imam an-Nawawi. Sebagaimana telah diketahui, dalam mazhab Syafi’i mulai banyaknya penulisan kitab mazhab bermula dari dua imam besar, yaitu Imam ar-Rafi’i dan Imam an-Nawawi. Dalam persoalan yang disepakati oleh dua imam ini, tentunya setelah dikaji dan ditarjih maka akan dijadikan sebagai pendapat mazhab Syafi’i. Adapun jika mereka berselisih pendapat maka pendapat Imam an-Nawawi lah yang diambil, atau jika terdapat pendapat ulama lain dalam mazhabnya yang rajih maka pendapat itulah yang diambil.

Adapun ishtilah-ishtilah yang digunakan dalam kitab ini tidak seperti kitab fikih pada umumnya. Ishtilah yang digunakan adalah ishtilah Imam an-Nawawi dalam kitab Raudah dan ishtilah yang menjadi kesepakatan dalam mazhab Syafi’i secara umum. Ketika beliau menyebut “Imam” maka yang dimaksud adalah Imam al-Haramain al-Juwaini, ishtilah “al-Qadhi” maksudnya adalah Imam al-Qadhi Husain, ishtilah “asy-Syaikhani” maksudnya adalah Imam ar-Rafi’i dan Imam an-Nawawi, dan masih banyak ishtilah-ishtilah lainnya.

Selain kitab ini sebagai ringkasan dari kitab Raudhatu ath-Thalibin, sudah barang tentu banyak merujuk pendapat dari kitab tersebut, namun penulis juga merujuk pada kitab-kitab yang lain, seperti al-Umm dan ar-Risalah karya Imam asy-Syafi’i, al-Mukhtashar karya Imam al-Buwaithi dan Imam al-Muzani, al-Furuq karya Imam al-Juwaini, al-Hawi al-Kabir karya Imam al-Mawardi, dan kitab-kitab lainnya

Sesuai dengan namanya, Kifayatul Ahkyar, nampaknya Imam al-Hushni menginginkan kitab ini menjadi pilihan utama dan terbaik dalam pembahasan masalah-masalah fikih, terutama dalam mazhab Syafi’i. Beliau mengharapkan kepada umat Islam yang mempelajari kitab ini untuk menekuninya secara giat. Menurutnya, seorang yang sungguh-sungguh mempelajari kitab ini serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari maka ia telah membuat sebuah jalan menuju surga.

Demikian itu beliau ungkapkan dalam mukaddimah kitabnya, “Karena sebab kemuliaan dan keistimewaan mempelajari fikih maka bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya merupakan sebuah keutamaan. Bahkan akan lebih baik jika seseorang menekuninya sepanjang hayat, sebab menekuni fikih sama halnya dengan membuat sebuah jalan menuju surga.” []

 

baca juga: Al-Muatta`

Rujukan: Imam al-Hushni, Kifayatul Akhyar fi Hilli Ghayatil Ikhtishar, bab: Mukaddimah Kifayatul Akhyar, hal. 13-27, cet. Dar al-Minhaj (2008), secara ringkas.

 

(Arif Hidayat)

%d bloggers like this: