Khiyar Dalam Transaksi (bag II)

Khiyar Dalam Transaksi (bag II)

Khiyar merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada hambaNya. Sebagai wujud perlindungan terhadap hak kepemilikan manusia. Sehingga kedhaliman antar sesama dapat dicegah. Merasa nyaman dalam bertransaksi. Tanpa rasa khawatir dikhianati. Terlebih lagi dengan adanya khiyar yang berlaku secara otomatis meskipun tanpa disepakati oleh masing-masing pelaku transaksi.

KHIYAR

KHIYAR MAJLIS

Khiyar majlis merupakan hak bagi pelaku transaksi untuk tetap meneruskan transaksinya atau tidak setelah terjadi ijab qabul selama keduanya masih dalam majelis transaksi dan belum ada kesepakatan yang menegasikan berlakunya khiyar. (Lihat Sayyid Sabid, Fiqih Sunah, (Kairo: Dar Misr), 115)

Para ulama berbeda pendapat tentang berlaku atau tidaknya khiyar ini. Mayoritas ulama salaf dan khalaf dari madzhab hambali dan syafii berpendapat bahwa khiyar ini berlaku. Sehingga menurut mereka suatu transaksi tidak mengikat kecuali setelah berpisahnya pelaku transaksi atau adanya pilihan pasti untuk melangsungkan transaksi. (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, (Dar al-Fikr, TT), 9/223-224 dan Ibnu Qudamah, Al-Mughni, (versi syamela), 3/483-484)

Diantara dasar yang mereka gunakan adalah riwayat dari Ibnu Umar, Nabi SAW bersabda, “Penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak khiyar kepada rekannya selama keduanya belum berpisah kecuali pada jual beli dengan khiyar” atau dalam riwayat lain “salah satu meminta ketegasan yang lain untuk menentukan pilihan”. (HR Bukhari, No: 2109)

Banyak juga atsar dari para shahabat dan tabiin yang menunjukkan berlakunya khiyar ini. Dan khiyar ini sesuai dengan kebutuhan manusia, sebab terkadang ada penyesalan setelah transaksi terjadi, sehingga dengan adanya khiyar ini dia dapat menganulirnya. (Ibnu Abdi Salam, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Ta’liq: Thaha Abdu Rauf, (Kairo: Ummul Qura, 1414 H), 2/148)

Sedangkan menurut Madzhab Hanafi dan Maliki serta sebagian fuqaha salaf, khiyar majlis ini tidak berlaku. Sebab menurut mereka hanya dengan adanya ijab dan qabul dalam transaksi, maka transaksi sudah mengikat.

Mereka berdalih dengan keumuman firman Allah SWT dalam surat An-nisa ayat 29, tentang kebolehan mendapat harta secara mutlak dengan transaksi yang didasari kerelaan.

Kemudian Hadits Rasul n dari Ibnu Umar, “Sesiapa yang membeli makanan tidak boleh menjualnya sehingga dimiliki secara sempurna” (HR. Bukhari Muslim) Dijelaskan dalam hadits ini bahwa kesempurnaan kepemilikan tidak dibatasi dengan berpisahnya pelaku transaksi.

Kedua kelompok ini berbeda pendapat terkait dengan lafal hadits yang bermakna tafarruq (berpisah). Menurut kelompok pertama artinya berpisah secara jasmani dari tempat transaksi. sedangkan kelompok kedua maksudnya adalah selesainya ijab dan qabul.

Namun berdasarkan keterangan dari Ibnu Bathal dan Imam Nawawi, jika dimaknai ijab dan qabul, maka hadits yang disebutkan tidak ada faidahnya. (Lihat Fathul Bari Ibnu Bathal, 6/238-240 dan Syarh Muslim, 10/173-174)

Dengan melihat maslahat yang ada, dan didukung argumentasi kelompok pertama, memberlakukan khiyar majlis itu lebih mendatangkan masalahat. Dan ini berlaku ketika belum berpisah atau belum ditentukan secara pasti tidak adanya lagi hak khiyar.

KHIYAR RU’YAH

Jika ada pembeli yang belum melihat barang yang akan dibeli, maka berlaku baginya khiyar ketika melihat barang tersebut. Dia dapat membatalkan atau meneruskan transaksi yang dilakukan. Sama saja apakah memang barang itu tidak ada ditempat transaksi atau tertutup oleh sesuatu sehingga tidak kelihatan. (Musthafa Zarqa, Aqd al-Bai’, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet-2, 1433 H), 64)

Jumhur ulama selain madzhab syafi’i berpendapat bahwa khiyar ini disyariatkan dalam islam. Menurut madzhab hanafi khiyar ini hanya berlaku bagi pembeli saja, baik ketika membeli barang yang diketahui spesifikasinya saja atau tidak. Sedangkan madzhab Maliki dan Hambali berpendapat bahwa khiyar ini berlaku ketika barang yang hanya diketahui spesifikasinya itu tidak sesuai dengan kriteria yang disebutkan sebelumnya. (DR. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi al-Fiqh al-Islami, (Damaskus: Dar al-Fikr, Cet-2, 1427 H), 2/73)

Sedangkan menurut syafiiyah khiyar ru’yah tidak berlaku, sebab transaksi pada barang yang ghaib (tidak ada) sendiri itu tidak sah, baik disebutkan kriterinya atau tidak. Dengan dalih keumuman dalil yang melarang jual beli gharar.

Namun larangan jual beli gharar ini disanggah oleh kalangan madzhab Hanafi bahwa yang dimaksud adalah larangan menjual pada barang yang tidak diketahui. Sementara dengan adanya khiyar ru’yah, ketidak tahuan barang ditepis dengan penyebutan sifat dan adanya pilihan disaat melihat barang yang hendak dibeli. (Lihat As-Sarkhasi, Al-Mabsuth, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, TT, 1414 H), 13/70-71)

KHIYAR ‘AIB

Khiyar aib adalah hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akad bila mana ditemukan aib/cacat pada obyek jual beli, sedang pembeli tidak tahu tentang hal itu pada saat akad berlangsung. Atau dengan kata lain membeli barang yang mengandung aib atau cacat yang tidak diketahui hingga berpisah pelaku transaksi, maka pihak pembeli berhak mengembalikan barang dagangan tersebut kepada penjual. (Lihat Abdul Adhim Badawi, Al-Wajiz fi Fiqh as-Sunah wa al-Kitab al-Azis, (Mesir: Dar Ibnu Rajab, Cet-3, 1421 H) 345).

Dasar dari khiyar aib adalah sabda Rasulullah SAW:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلاَّ بَيَّنَهُ لَهُ

Sesama muslim itu bersaudara, tidak halal bagi seorang muslim menjual barangnya kepada muslim lain, padahal pada barang tersebut terdapat aib/cacat melainkan dia harus menjelaskan cacatnya itu”. (HR. Ibnu Majah, No: 2246)

Para ulama madzahib berbeda pendapat perihal ketentuan cacat yang memperbolehkan khiyar ini. Menurut mazhab Hanafi aib yang dianggap adalah yang mengurangi nilai berdasarkan prediksi ahlinya.

Sementara menurut madzhab syafi’i yaitu segala yang dipandang mengurangi nilai atau wujud barang sehingga apa yang diinginkan dari objek dagang itu hilang atau tidak ada, seperti sempitnya sepatu, patahnya tanduk binatang untuk udhiyah.

 

baca juga: Khiyar Dalam Transaksi (bag. I)

 

Sedangkan menurut madzhab Hambali apabila ada sesuatu yang berkurang dari objek, baik nilainya berkurang atau tidak, atau bahkan justru bertambah, maka tetap dianggap sebagai aib. Dan juga dikembalikan kepada kebiasaan yang berlaku diantara pedagang. Dari beberapa pendapat yang ada As-Subki menjelaskan, pendapat madzhab syafii adalah yang lebih tepat bilamana kriteria berdasarkan kebiasaan yang ada tidak ditemukan. (Lihat Wizarah al-Auqaf wa Syu`un al-Islamiyah, Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, (Kuwait: Dar Salasil, Cet-2), 20/117-118)

Apabila pembeli dan penjual berselisih pada siapa terjadi aib, dan tidak ada bukti yang menguatkan salah satunya maka perkataan penjual yang diterima berdasarkan hadits:

إِذَا اخْتَلَفَ الْبَيِّعَانِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْبَائِعِ وَالْمُبْتَاعُ بِالْخِيَارِ

Apabila penjual dan pembeli berselisih maka perkataan yang diterima adalah perkataan penjual, sedangkan pembeli memiliki hak pilih “. (HR. At-Tirmidzi, no: 1270, dan Ahmad, no: 4444). Akan tetapi harus disertai dengan sumpah sebagaimana sabda Nabi SAW :

الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينَ عَلَى الْمُدَّعَى عَلَيْه

Al-Bayyinah (mendatangkan bukti) bagi pengklaim/penuduh dan harus bersumpah bagi yang tertuduh”. (HR. Bukhari, No: 2514 dan Tirmidzi, No: 1341)

Wallahu A’lam bi showab.

 

Ilyas Mursito

 

 

%d bloggers like this: