Kesehatan di Balik Kesucian dan Kebersihan Air

Kesehatan di Balik Kesucian dan Kebersihan Air

Sebagai sarana bersuci paling vital, kebersihan air sangat diperhatikan dalam Islam. Islam melarang umatnya untuk kencing di air yang menggenang. Larangan itu semakin tegas jika genangan air tersebut menjadi sarana untuk wudhu, mandi, atau minum.

NAbi SAW bersabda, “Janganlah engkau kencing di air yang menggenang atau tidak mengalir, kemudian engkau mandi darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, Nabi SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kamu kencing di air menggenang, kemudian ia berwudhu atau minum darinya.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

Kencing di air menggenang atau air yang tidak mengalir akan mengakibatkan air tersebut menjadi najis. Apalagi jika airnya kurang dari dua qullah dan merubah bau, warna, atau rasa air tersebut. Di sisi lain, ilmu kedokteran modern telah menemukan fakta bahwa genangan air kotor seperti itu menjadi sebab timbulnya berbagai macam penyakit.

Penyakit Kutu Air

Kutu air merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur Dermatofit atau Trikofiton. Pada dasarnya, infeksi jamur terjadi pada daerah kaki. Namun, tidak menutup kemungkinan jika bagian tubuh lainnya terkena infeksi, di antaranya pada tangan, kulit kepala, maupun daerah pangkal paha. Infeksi jamur penyebab kutu air pada awalnya akan menyerang jari kaki, lalu kemudian menyebar ke daerah kaki lainnya.

Air yang menggenang dan kotor biasanya mengandung banyak jamur Dermatofit atau Trikofiton. Jika seseorang merendam kaki, menyeberangi, atau mandi dalam genangan air tersebut; kemungkinan untuk terkena jamur tersebut sangatlah besar. Awalnya, kulit di daerah kaki tampak kemerahan dan sangat gatal, sehingga ia akan sering menggaruknya. Setelah itu, jamur memproduksi sel kulit dengan lebih banyak lagi, sehingga kulit kaki tampak kering dan bersisik.

Selanjutnya, di antara jari kaki dan telapak kaki akan terasa panas. Hal itu bisa berlanjut hingga melepuh dan bahkan bernanah. Pada akhirnya kulit akan membengkak. Kutu air bisa menular melalui perantara, seperti air mandi, air di kolam renang, atau penggunaan handuk yang bergantian.

Penyakit Infeksi Cacing Pipih

Schistosomiasis (bilharziasis) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih atau cacing pita. Ini seringkali menyebabkan ruam (bintil-bintil merah pada kulit), demam, panas-dingin, dan nyeri otot. Kadangkala, juga menyebabkan nyeri perut dan diare atau nyeri berkemih dan pendarahan.

Schistosomiasis mempengaruhi lebih dari 200 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Ada lima jenis schistosoma yang paling menyebabkan kasus schistosomiasis pada manusia, yaitu: (1) Schistosoma hematobium menginfeksi saluran kemih, termasuk kantung kemih. (2-5) Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, dan Schistosoma intercalatum menginfeksi usus dan hati.

Schistosomiasis diperoleh dari berenang, menyeberangi, atau mandi di air bersih yang terkontaminasi dengan parasit yang bebas berenang. Schistosomes berkembang biak di dalam keong jenis khusus yang menetap dan berenang bebas di dalam air. Jika mereka mengenai kulit seseorang, mereka masuk ke dalam dan bergerak melalui aliran darah menuju paru-paru, tempat mereka menjadi dewasa menjadi cacing pita dewasa.

Cacing pita dewasa tersebut masuk melalui aliran darah menuju tempat terakhir di dalam pembuluh darah kecil di kandung kemih atau usus, tempat mereka tinggal untuk beberapa tahun. Cacing pita dewasa tersebut meletakkan telur-telur dalam jumlah besar pada dinding kandung kemih atau usus. Telur-telur tersebut menyebabkan jaringan setempat rusak dan meradang, yang menyebabkan borok, pendarahan, dan pembentukan jaringan luka parut. Beberapa telur masuk ke dalam tinja atau kemih. Jika kemih atau kotoran pada orang yang terinfeksi memasuki air bersih, telur-telur tersebut menetas, dan parasit memasuki keong untuk mulai siklusnya kembali.

Ketika schistosomes pertama kali memasuki kulit, ruam yang gatal bisa terjadi. Sekitar 4 sampai 8 minggu kemudian (ketika cacing pita dewasa mulai meletakkan telur), demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut bisa terjadi. Batang getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal.

Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi schistosomes secara kronis, maka perut akan tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan (terlihat pada tinja), yang bisa mengakibatkan anemia. Jika hati terkena schistosomes dan tekanan pada pembuluh darah tinggi, maka akan terjadi pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak.

baca juga: Daur Ulang Air Najis

Jika kandung kemih terinfeksi schistosomes secara kronis maka akan terasa sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah, dan resiko kanker kandung kemih pun meningkat. Adapun jika saluran kemih terinfeksi schistosomes dengan kronis, maka akan terjadi peradangan dan akhirnya luka parut yang bisa menyumbat saluran kencing.

Sumber:

www.susukolostrum.com

www.news-medical.net

%d bloggers like this: