Keseharian Wanita Muslimah di Zaman Nabi

keseharian wanita muslimah di zaman nabi

Pada dasarnya, tempat aktifitas kaum wanita itu di dalam rumahnya. Rumahnya adalah tempat di mana ia memperbanyak ibadah kepada Allah dan menjalankan berbagai aktivitas yang lain, kaum wanita tidak keluar dari rumahnya kecuali ada kebutuhan.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. AlAhzab: 33)

Meskipun ayat di atas ditujukan kepada ummahatul mukminin, istri-istri Rasulullah, tetapi seluruh wanita kaum muslim masuk dalam perintah tersebut. Istri-stri Nabi adalah wanita pilihan yang Allah anugerahkan kepada Nabi, mereka adalah wanita mulia, suci dan suri tauladan bagi seluruh wanita kaum muslimin. Jika perintah itu ditujukan kepada mereka, istri-istri Nabi, maka wanita kaum muslimin akan lebih layak mendapatkan perintah tersebut.

BACA JUGA: DI INDONESIA WANITA BISA JADI WALI NIKAH

Ditegaskan juga oleh para ulama dalam Fatwa Lajnah ad-Daimah, bahwa ayat di atas tidak hanya untuk istri-istri Nabi, tetapi untuk seluruh wanita kaum muslimin. Meskipun pada dasarnya ayat di atas memang diturunkan berkenaan dengan istri-istri Nabi. (Fatwa Lajnah adDaimah, 17/222)

Istri-istri Nabi mencukupkan diri mereka untuk berkhidmat kepada Nabi di rumah beliau. Mereka menemui tamutamu yang diperbolehkan untuk ditemui. Mereka tidak keluar rumah untuk bekerja atau lainnya, kecuali untuk mendirikan shalat dan untuk suatu keperluan yang mendesak.

LANTAS, BAGAIMANA DENGAN ISTRI-ISTRI PARA SAHABAT?

Mereka juga berkhidmat kepada suaminya di rumahnya. Terkadang mereka keluar rumah untuk membantu suaminya dan untuk suatu kebaikan atau maslahat lain yang sangat diperlukan.

Aktivitas sehari-hari wanita kaum muslimin pada generasi pertama dilakukan di rumah mereka, menunaikan hak-hak suami, mendidik putra-putri mereka, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Terkadang mereka perlu keluar rumah untuk membantu pekerjaan suaminya. Jika mereka keluar, mereka akan keluar dengan berhijab, menjaga kehormatan, dan menjauhkan diri dari segala perbuatan hina. Apabila hajat mereka telah terpenuhi maka mereka akan kembali ke rumah mereka. (Fatawa Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid, https://islamqa.info/ar/145492)

Banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya seorang wanita keluar dari rumahnya untuk suatu kebutuhan. Kaum wanita juga diperbolehkan bekerkerja di luar rumah, hanya saja ada hal-hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan ketika seorang wanita memutuskan diri untuk bekerja di luar rumah.

Di antara hal-hal tersebut adalah, pertama: Diperbolehkan ketika benarbenar membutuhkan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Kedua, bekerja dengan pekerjaan yang sesuai dengan tabi’at wanita. Ketiga, di tempat yang tidak bercampur dengan laki-laki. Keempat, tertutup dengan hijab syar’i. Kelima, tidak menggunakan atau memakai sesuatu yang dapat mengundang fitnah. Keenam, di antar oleh mahram jika perjalanannya jauh. Ketujuh, tidak mengabaikan kewajiban yang ada di rumahnya. Dan lain sebagainya.

Syaikh Utsaimin menjelaskan, lapangan kerja bagi kaum wanita adalah pekerjaan yang layak dilakukan oleh para wanita, seperti menjadi guru bagi anak-anak, menjahit pakaian di rumahnya, dan pekerjaan-pekerjaan yang serupa dengan itu. Sedangkan bekerja di tempat yang mayoritas terdiri dari lakilaki maka tidak diperbolehkan, dengan alasan akan menimbulkan ikhtilath (bercampurnya kaum laki-laki dan wanita dalam satu tempat), di mana hal itu akan mengakibatkan terjadinya fitnah yang besar.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita, dan fitnah yang menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari). (AlUtsaimin, Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, 2/981)

Selain mengetahui seperti apa aktivitas kaum wanita zaman Nabi, dapat disimpulkan pula bahwa Islam datang benar-benar menjaga kehormatan kaum wanita, yaitu dengan adanya larangan dan batasan-batasan di atas.

Namun demikian, Islam tidak mengekang kaum wanita untuk berdiam diri di rumah dan tidak mengizinkan keluar dari rumahnya. Di samping adanya larangan tersebut ada pula syari’at yang membolehkan kaum wanita keluar dari rumahnya, seperti diperbolehkan pergi ke masjid, berangkat haji dan umrah, menghadiri shalat hari raya, berkunjung ke sanak keluarga, menuntut ilmu dan lain sebagainya. Hanya saja aktifitas wanita di luar rumah ini harus selalu menjaga ketentuan-ketentuan syari’at, terutama dari sisi kehormatan, keamanan, dan hal lain yang telah disebutkan di atas. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: