Adakah Keringanan Bagi Pembunuh Dibawah Umur

Adakah Keringanan Bagi Pembunuh Dibawah Umur

Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap seorang karyawati PT Polyta Global Mandiri, Kosambi, Kabupaten Tangerang, pada Kamis (12/5/2016) lalu. Marah karena ajakannya untuk berzina ditolak oleh si karyawati, pacar korban berinisial RA (16 tahun) dibantu dua orang kawannya melakukan pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan keji terhadap korban.

Atas kejahatan sadis tersebut, polisi menjerat ketiga tersangka dengan Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan Berencana. Ancaman maksimal berupa hukuman mati. Namun, RA akan mendapatkan keringanan karena pertimbangan faktor anak di bawah umur.

Kasus kejahatan ganda di Tangerang tersebut sempat menjadi headline media massa dan media elektronik di Indonesia. Umat Islam layak mengkritisi penyelesaian kasus tersebut, agar di kemudian hari tidak timbul kasus-kasus kejahatan serupa.

HUKUM SEKULER BELANDA

Permasalahan pertama adalah, sebagaimana diketahui bersama, KUHP yang diberlakukan di Indonesia adalah hukum sekuler peninggalan penjajah Belanda.

Definisi kejahatan dan sanksi atas kejahatan dalam KUHP seringkali sangat kontras dengan hukum Islam. Dalam prakteknya, jarang sekali pelaku kejahatan pembunuhan di Indonesia dijatuhi hukuman mati. Mayoritas mereka hanya dihukum sekian tahun penjara. Dalam hukum sekuler, nyawa pelaku pembunuhan lebih mulia dan lebih berharga daripada nyawa korbannya.

Sanksi tersebut tentu bertentangan dengan syariat Islam yang mewajibkan qishash atau hukuman mati bagi pelaku pidana pembunuhan secara sengaja (QS. Al-Baqarah [2]: 178-179 dan Al-Maidah [5]: 45).

PERTANDA BALIGH

Permasalahan kedua adalah tentang definisi umur pelaku pidana. RA akan diberi keringanan sanksi pidana karena dianggap masih di bawah umur, yaitu 16 tahun. Hukum sekuler menganggap orang yang belum berusia 17 tahun bukanlah orang yang telah cukup umur.

Ketentuan ini jelas sangat bertentangan dengan syariat Islam. Dalam Islam, seseorang yang telah berusia baligh (cukup umur) telah terkena perintah dan larangan syariat Islam. Ia telah bertangggung jawab penuh atas segala ucapan dan perbuatannya sendiri. Jika ia melaksanakan perintah syariat Islam, ia akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika ia melanggar larangan syariat Islam, ia akan terkena dosa dan sanksi.

Menurut syariat Islam, seseorang dianggap telah berusia baligh apabila mengalami salah satu dari beberapa tanda berikut:

Pertama, mengalami mimpi basah sehingga keluar air maninya. Tanda ini terjadi pada orang laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasar sabda Nabi SAW , “Pena (pencatat pahala dan dosa) diangkat dari tiga golongan; orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia mimpi basah, dan orang gila sampai ia sembuh dari gilanya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Kedua, keluar darah haidh atau hamil pada perempuan. Hal ini berdasar firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq [65]: 4.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Para ulama sepakat bahwa haidh adalah pertanda usia baligh bagi wanita.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 5/312)

Ketiga, tumbuhnya bulu rambut di sekitar kemaluan pada orang laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasar hadits Athiyah Al-Qurazhi x:

عُرِضْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظَةَ، فَكَانَ مَنْ أَنْبَتَ قُتِلَ، وَمَنْ لَمْ يُنْبِتْ ، خُلِّيَ سَبِيلُهُ، فَكُنْتُ فِيمَنْ لَمْ يُنْبِتْ، فَخُلِّيَ سَبِيلِي

“Kami (penduduk Yahudi Bani Quraizhah setelah kami berkhianat dalam perang Khandaq) diperiksa di hadapan Nabi SAW pada hari kekalahan perang Quraizhah. Maka orang yang telah tumbuh bulu kemaluannya di antara kami dijatuhi hukuman mati, dan orang yang belum tumbuh bulu kemaluannya dibebaskan. Saya termasuk orang yang belum tumbuh bulu kemaluannya, sehingga aku dibebaskan.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Keempat, berusia 15 tahun pada orang laki-laki maupun wanita. Hal ini berdasar hadits;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَرَضَهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَهْوَ ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِي ثُمَّ عَرَضَنِي يَوْمَ الْخَنْدَقِ وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ فَأَجَازَنِي.

Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW memeriksanya pada hari perang Uhud, pada saat itu ia berusia 14 tahun. Ibnu Umar berkata, “Maka beliau tidak mengizinkanku ikut berperang Uhud. Lalu beliau memeriksaku pada hari perang Khandak, saat itu aku telah berusia 15 tahun. Maka beliau mengizinkanku ikut perang Khandak.”

baca juga: Sikap Islam Terhadap Para Peleceh Nabi SAW

Nafi’ Mawla Ibnu Umar RA berkata, “Saya mendatangi Umar bin Abdul Aziz saat ia telah menjadi khalifah dan saya menceritakan hadits ini kepadanya. Maka ia berkata, ‘Sungguh ini adalah batasan yang membedakan antara usia anak-anak dan usia orang dewasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bish-shawab. []

%d bloggers like this: