Kenapa Celak Dilarang?

mengapa celak dilarang

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) celak adalah bubukan (hitam, biru, dsb.) untuk memalit bulu mata atau disapukan di sekeliling mata. Tidak jauh berbeda dengan pengertian celak dalam Bahasa Arab, yaitu segala sesuatu yang digunakan untuk memperindah mata atau mengobatinya yang terbuat dari bahan-bahan padat (tidak cair). Disimpulkan, celak adalah bahan padat yang digunakan untuk memperindah atau mengobati mata. (https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/كحل/)

Pada dasarnya memakai celak adalah sunnah bagi laki-laki dan wanita. Beberapa riwayat menyebutkan anjuran untuk memakai celak, khususnya celak dari jenis Itsmid. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik celak kalian adalah Itsmid (semacam tumbuhan atau bebatuan), sebab ia dapat memperjelas penglihatan dan menumbuhkan bulu mata.” (HR. Ahmad)

 

MACAM-MACAM CELAK

Celak yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah Itsmid, bukan sembarang celak. Itsmid dihasilkan melalui beberapa tahap produksi yang rumit, bahannya adalah batu Itsmid yang banyak didapatkan di negeri Arab, warna batunya hitam sebagaimana warna celak Itsmid setelah diolah, tetapi di beberapa daerah sekitar Arab warna batu Istmid hitam kemerah-merahan.

Selain untuk memperindah mata, celak Itsmid memiliki banyak manfaat, seperti menjaga kesehatan mata, memperkuat dan menjernihkan penglihatan, mengeluarkan kotoran-kotoran mata, dan masih banyak manfaat yang lain. (http://mawdoo3.com)

Hari ini celak telah dikembangkan menjadi alat kosmetik untuk memperindah mata yang terkenal dengan eyeliner. Eyeliner sendiri memiliki banyak jenis dan varian warnanya, seperti Pencil Liner (bentuknya seperti pensil), Eyeliner Kohl (seperti pensil tetapi lebih halus), Pen Liner (bentuknya seperti spidol), Eyeliner Liquid (cair dan hasilnya lebih tebal), Gel Liner (berbentuk gel), Eyeliner Cake (yang diaplikasikan dengan kuas basah). (http://www.ummi-online.com)

Mengacu pada definisi di atas maka celak dan eyeliner itu berbeda, eyeliner yang bersifat cair tidak termasuk dalam pengertian celak, dan eyeliner dipakai khusus oleh wanita sedangkan celak dipakai wanita dan laki-laki.

 

KAPAN CELAK DILARANG?

Sebenarnya bukan hanya celak yang dilarang, tetapi eyeliner juga dilarang jika keluar dari batasan-batasan syar’i, di bawah ini beberapa keadaan dilarang memakai celak dan eyeliner:

Pertama, ketika menimbulkan fitnah. Dilarang bagi kaum wanita menampakkan perhiasannya kecuali yang “biasa” tampak, dan salah satu tujuan pemakaian celak atau eyeliner bagi wanita adalah untuk memperhias mata, sebagian ulama menganggap bahwa celak termasuk hiasan yang biasa tampak dan sebagian lain menganggap sebagai hiasan yang tidak boleh ditampakkan, sehingga dalam persoalan ini ada dua pendapat ulama.

 

Baca Juga: Memakai Cadar Haram?

 

Adapun pendapat yang rajih adalah tidak boleh memakai celak dan sejenisnya jika hal itu dapat mengundang terjadinya fitnah, seperti memakainya di depan laki-laki yang tidak mahrom atau saat berada di luar rumah. (Asy-Syinqithi, Adhwa’u al-Bayan, 6/200)

Kedua, ketika menghalangi kulit dari air wudhu. Untuk mendapatkan keabsahan dalam berwudhu seseorang harus memastikan semua anggota wudhu terbasuh dengan air wudhu, celak atau eyeliner yang menghalangi terbasuhnya kulit mata dari air maka harus dibersihkan terlebih dahulu, jika tidak wudhunya tidak sah. (http://fatwa.islamweb.net)

Ketiga, ketika tengah dalam masa iddah dan berkabung. Berdasarkan riwayat Ummu Salamah, ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya, sementara ia mengeluhkan matanya.  Bolehkah ia bercelak?” Maka Rasulullah menjawab, “Tidak.” Beliau mengulanginya dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah bersabda: “Masa berkabungnya hanyalah empat bulan sepuluh hari (kenapa tidak sanggup bersabar?). Sesungguhnya pada masa jahiliyah dulu, salah seorang dari kalian melempar kotoran setelah satu tahun.” (HR. Al-Bukhari)

Keempat, ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah. Pada dasarnya memakai celak tidak membatalkan haji atau umrah, hanya saja jika celaknya dicampuri dengan wewangian maka haram memakainya, hukumannya adalah membayar fidyah menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan memakai celak yang tidak dicampuri wewangian namun tujuannya adalah untuk hiasan maka makruh menurut mazhab Syafi’i dan Hambali, jika bukan untuk tujuan itu maka boleh-boleh saja. (Mushtafa al-‘Adawi, Jami’ Ahkami an-Nisa’, 5/252, fatwa.islamweb.net)

Larangan memakai celak, eyeliner, atau sejenisnya pada beberapa keadaan di atas karena mempertimbangkan keabsahan wudhu dan mudarat yang akan terjadi, terutama adalah timbulnya fitnah yang jauh lebih besar ketimbang manfaatnya; bahkan ketika menjalankan ibadah haji dan umrah sekalipun. Tidak ada yang dirugikan pada wanita yang tidak memakai celak, toh jika ingin berdandan di depan suami maka bisa dilakukan di dalam rumah, wanita tabiatnya adalah cantik dan indah meskipun tidak memakai celak. Wallahu a’lam. [-]

%d bloggers like this: