Kelapangan Islam Dalam Perbedaan Pendapat Fikih

Kelapangan Islam Dalam Perbedaan Pendapat Fikih

Dua tabi’in mulia, Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman bin Abdul Qari, menceritakan sebuah pengalaman menarik dari Umar bin Khatthab. Umar bin Khatthab berkata, “Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat al-Furqan pada masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Saya mendengarkan bacaannya dengan seksama, ternyata ia membaca dengan beberapa bacaan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah kepadaku. Hampir-hampir saja saya meloncat ke arahnya saat ia masih dalam shalatnya. Saya berusaha menyabarkan diri hingga ia mengucapkan salam dari shalatnya.

Setelah ia menyelesaikan shalatnya, saya segera mencengkeram kerah bajunya. Saya menginterogasinya, “Siapa yang mengajarimu membaca surat yang saya dengar tadi saat kamu membacanya?”

“Rasulullah SAW yang mengajarkan saya membaca surat tadi,” jawab Hisyam.

“Engkau berdusta. Rasulullah SAW telah mengajari saya bacaan surat tadi, tidak sebagaimana yang engkau baca,” sergah Umar.

Umar lantas menggiring Hisyam ke hadapan Rasulullah. “Saya mendengar dia membaca surat al-Furqan dengan huruf-huruf yang tidak Anda ajarkan kepadaku,” kata Umar kepada Rasulullah.

Lepaskanlah dia! Bacalah wahai Hisyam,” perintah Rasul.

Hisyam pun membaca surat Al-Furqan dengan cara bacaan seperti yang semula didengar oleh Umar darinya. Maka Rasulullah bersabda, “Memang begitulah surat ini diturunkan.”

Rasulullah lalu bersabda, “Bacalah wahai Umar!”

Umar pun membaca surat al-Furqan dengan cara bacaan yang Rasulullah ajarkan kepadanya. Rasulullah bersabda, “Memang begitulah surat ini diturunkan.”

Beliau lantas menjelaskan, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan tujuh huruf (dialek Arab), maka bacalah dengan cara yang mudah dari ketujuh huruf tersebut.” (HR. Bukhari no. 4992, Muslim no. 818).

Subhanallah. Dua sahabat yang sama-sama mengaji al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memiliki cara bacaan yang berbeda, padahal surat yang mereka baca sama. Hal itu terjadi karena cara bacaan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam beragam, dan keragaman cara membaca itu bersumber dari wahyu Allah Ta’ala.

baca juga: BERBEDA TAPI TAK MENGAPA

Hal yang sama terjadi pada hadits. Sama-sama belajar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, tak jarang para sahabat memiliki hafalan dan pengamalan hadits yang beragam. Sebagai contoh sederhana, doa istiftah yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhum berlainan lafalnya. Masing-masing doa istiftah tersebut pernah dibaca Rasulullah dalam berbagai kesempatan yang berbeda dan didengar oleh para sahabat yang menjadi makmum shalat beliau.

Terkadang keberagaman riwayat di antara para sahabat mengesankan adanya kontradiksi. Misalnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam berbekam saat melakukan shaum. Sementara itu Imam Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Syadad bin Aus bahwa beliau SAW bersabda, “Orang yang membekam dan orang yang dibekam telah batal shaumnya.”

Keberagaman riwayat yang secara lahiriah kontradiktif tersebut melatar belakangi terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Sebagian ulama fiqih mencoba mengkompromikan kedua hadits tersebut, sementara sebagian ulama fikih lainnya memenangkan salah satu hadits dari hadits lainnya.

Beberapa contoh di atas merupakan bukti tak terbantahkan bahwa perbedaan pendapat fikih di kalangan generasi sahabat sudah biasa terjadi. Masing-masing mereka mengamalkan dalil ayat atau hadits yang mereka pelajari langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Jika di kalangan sahabat saja terjadi perbedaan pendapat dalam banyak masalah fikih, tentu pada generasi setelah mereka lebih memungkinkan terjadinya perluasan perbedaan pendapat.

Perbedaan pendapat dalam masalah ijtihad seperti itu merupakan sebuah kemudahan dan kelapangan bagi umat Islam. Sebagaimana pernyataan Imam Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, “Allah telah memberikan manfaat kepada manusia dengan perbedaan amal para sahabat Nabi SAW. Siapapun yang beramal dengan amal (yang menjadi pendapat) salah seorang sahabat, niscaya ia akan melihat dirinya berada dalam kelapangan dan ia akan melihat satu kebaikan dari sahabat telah ia amalkan.”

Sungguh indah pernyataan khalifah Umar bin Abdul Aziz tentang perbedaan pendapat para sahabat dalam masalah-masalah ijtihad, “Saya tidak suka apabila generasi sahabat tidak berbeda pendapat, sebab seandainya hanya ada satu pendapt dikantara mereka, niscaya manusia akan berada dalam kesempitan. Sungguh para sahabat adalah para imam yang menjadi panutan. Jika seseorang mengambil pendapat salah seorang sahabat, niscaya ia telah berada dalam kelapangan.” (Ibnu Abdil Bar, Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 2/901-902).

Wallahu a’lam bish-shawab.

%d bloggers like this: