Kehilangan Akal Membatalkan Wudhu

Kehilangan Akal Membatalkan Wudhu

وَالنَّومُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ مِنَ الأَرْضِ مَقْعَدُهُ، وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِسُكْرٍ أَوْ مَرَضٍ

“(Di antara pembatal wudhu adalah): tidur dengan posisi tidak tetap dan hilangnya akal karena mabuk atau sakit.”

Setelah sebelumnya dipaparkan pembatal wudhu yang pertama, yaitu sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur, baik berupa kencing, berak, kentut, mani, wadzi, madzi, darah dan lain sebagainya, maka pembatal wudhu yang selanjutnya adalah hilangnya akal karena sakit, tidur, mabuk, gila dan pingsan.

Berdasarkan hadits Shafwan bin ‘Assal RA, dia berkata, “Rasulullah menyuruh kami saat dalam bepergian untuk tidak melepas sepatu kami selama tiga hari tiga malam melainkan karena junub. Kami tidak perlu melepas sepatu karena buang hajat, kencing, dan tidur.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan-nya.

Terkait soal tidur sebagai pembatal wudhu, maka hal ini tidak luput dari perbedaan para ulama yang sebagian di antara mereka menyatakan bahwa tidur adalah pembatal wudhu secara mutlak. Tidak menimbang tidur yang bagaimana dan seperti apa. Baik tidur sedikit maupun banyak serta dalam posisi apa pun. Pendapat ini berdasarkan keumuman hadits Shafwan bin ‘Assal yang telah disebutkan di atas.

Sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa tidur sama sekali tidak membatalkan wudhu, berdalil dengan hadits Anas bin Malik RA yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa dahulu pada zaman Rasulullah SAW para sahabat menunggu shalat Isya’ sampai mereka mengangguk-anggukkan kepala lantaran kantuk kemudian mereka langsung mendirikan shalat Isya’ tanpa berwudhu terlebih dahulu.

Secara umum dua pendapat di atas diterima, sebab masing-masing memiliki landasan dalil.

Namun dalam persoalan ini jumhur ulama lebih mengambil sikap jam’u baina al-adillah, yaitu menggabungkan dua dalil di atas meskipun mereka juga berbeda pendapat tentang metode penggabungan dalil tersebut.

Maka dari itu, mazhab Hanafi berpendapat tidur di luar shalat jika posisinya duduk tegak tidak bersandar pada apapun bukanlah termasuk pembatal wudhu, walaupun dalam kondisi berdiri atau ruku’.

Demikian pula mazhab Syafi’i menyatakan bahwa tidur yang tidak membatalkan wudhu adalah tidur dengan posisi duduk tegak.

Bahkan Imam an-Nawawi menyebutkan termasuk hal-hal yang tidak membatalkan wudhu adalah mengantuk, karena mengantuk tidak bisa dikategorikan sebagai tidur. (Al-Kasani, Bada’i Ash-Shana’i, 1/31. An-Nawawi, AlMajmu’, 2/14 dan Raudhatul ath-Thalibin, 1/74).

Menurut mazhab Hanbali tidur adalah salah satu sebab pembatal wudhu kecuali tidur yang ringan, baik tidur ringan dalam posisi duduk maupun berdiri.

Tidur ringan menurut mazhab Hanbali adalah selama masih mampu mengendalikan atau menyadari keluarnya hadats, sehingga ketika bangun dari tidurnya seseorang tahu apakah berhadats atau tidak. (Al-Baqilani, Al-Inshaf, 2/20, 25).

Adapun menurut Imam Malik tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang nyenyak sehingga seseorang tidak merasa ber-hadats tatkala hadats tersebut keluar saat tertidur. Dan sebaliknya tidur yang tidak sampai nyenyak bukan sebagai pembatal wudhu, yaitu ketika seseorang masih merasa bahwa dirinya berhadats saat keluar hadats dalam tidur; nya. (AlQarafi, Adz-Dzakhirah, 1/230).

(baca juga: Pembatal-Pembatal Wudhu)

Pendapat yang terakhir dinilai lebih rajih dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan para ulama muta’akhir seperti Syaikh Bin Bazz, Utsaimin serta ulama Lajnah ad-Da’imah.

Pendapat ini menggabungkan dua dalil di atas dengan menyatakan bahwa hadits Shafwan bin ‘Assal menunjukkan pada tidur yang membatalkan wudhu, yaitu tidur yang nyenyak. Sementara hadits Anas bin Malik menunjukkan tidur yang tidak membatalkan wudhu, yaitu tidur yang ringan.

Dikuatkan dengan sabda Rasulullah SAW , “Mata adalah sumbatnya dubur, maka dari itu barangsiapa yang tidur dia harus berwudhu.” (HR. Ahmad)

Maknanya, mata akan tetap berfungsi sebagai penyumbat ketika orang yang tidur masih bisa merasakan apa yang terjadi di lingkungannya meskipun matanya terpejam, sehingga wudhunya tidak batal. Sebaliknya, ketika orang yang tidur tidak lagi sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya maka wudhunya batal. (Al-Utsaimin, Syarhul Mumthi’, 1/277)

Adapun pingsan, mabuk, dan gila para ulama mazhab sepakat termasuk membatalkan wudhu. Hanya saja beberapa ulama bermazhab Syafi’i menyatakan bahwa mabuk tidak membatalkan wudhu, namun pendapat ini dinilai lemah oleh para ulama bahkan oleh Imam An-Nawawi sendiri.

Terkait orang yang gila para ulama berbeda pendapat, menurut pendapat yang masyhur adalah cukup dengan berwudhu dan tidak perlu mandi. (AnNawawi, Al-Majmu’, 2/25). Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: