Keadilan dalam Poligami

Keadilan Dalam Poligami

Poligami adalah syari’at Allah Ta’ala. Ada beberapa beberapa pemikir muslim yang mencela dan menolaknya. Terkadang kebatilannya sangat jelas, namun tak jarang kelihatan samar sehingga menimbulkan kerancuan berpikir. Salah satu di antara mereka adalah Asghar Ali Engineer.

 

Penafsiran Asghar Ali

Terkait dengan poligami Allah berfirman dalam surat an-nisa ayat 3 yang berbunyi, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Terkait ayat ini, dengan mengutip tafsir Imam ath-Thabari, Asghar mengatakan bahwa ayat tersebut lebih menekankan untuk berbuat adil terhadap anak yatim, bukan mengawini lebih dari seorang perempuan. Alasannya, konteks ayat ini adalah kondisi pada masa itu, di mana mereka yang bertugas memelihara kekayaan anak yatim sering berbuat tidak semestinya dan terkadang mengawininya tanpa mas kawin. Ayat al-Qur’an ini turun untuk memperbaikinya. Menurutnya inilah satu-satunya ayat yang mungkin dipakai untuk membenarkan poligami. Namun harus diingat bahwa pembenaran ini bersifat kontekstual, bukan pembenaran normatif sehingga pemberlakukannya harus dilihat untuk waktu itu, bukan selamanya. (Right of Women in Islam, 25).

Selain itu, Asghar juga menjelaskan bahwa al-Quran enggan untuk menerima institusi poligami. Namun, karena pertimbangan situasi yang ada maka tidak mungkin al-Quran menolaknya, sehingga diberlakukan syarat harus adil dalam memperlakukan para istri. Jika tidak dapat memenuhinya maka lebih baik satu saja. Dari sini kemudian Asghar berpendapat bahwa maksud dari al-Quran adalah monogami. Bahkan, Asghar juga menyatakan bahwa ada ayat yang menentang praktik poligami, yaitu firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 129, yang berbicara tentang ketidakmampuan untuk berbuat adil terhadap para istri. (Pembebasan perempuan, 112-113 dan 115)

Dari pemaparan di atas, secara implisit Asghar menolak poligami. Dengan menitikberatkan keadilan sebagai syarat serta berdalil dengan ayat al-Quran yang memuat ketidakmampuan suami untuk berbuat adil kepada istri-istrinya.

 

Tafsir ayat yang benar

Dalam tafsirnya al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat 3 dari surat an-Nisa tidak memiliki makna yang tersirat. Sebab, umat telah sepakat bahwa orang yang tidak khawatir terhadap kemampuannya dalam bersikap adil terhadap anak yatim juga diperbolehkan untuk menikahi wanita-wanita lain lebih dari satu, atau menikahi dua, tiga, atau empat; seperti yang diperbolehkan kepada orang yang khawatir terhadap kemampuannya dalam bersikap adil. Ini menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sebagai jawaban bagi orang yang khawatir itu, dan bahwa hukum menikahi anak perempuan yatim itu lebih umum.”(al-Jami li Ahkam al-Qur’an, 5/13).

Ketentuan hukum dalam ayat ini berlaku umum, bukan hanya untuk anak yatim, meskipun konteks pembicaraannya tentang anak yatim. Hal ini berdasarkan pada keumuman lafal, bukan dari kekhususan sebab. Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa al-Qur’an memperbolehkan untuk poligami dengan syarat keadilan.

Selanjutnya, keadilan yang dimaksud dalam Surat an-Nisa ayat ke 3 dan 129 tersebut tidaklah sama. Adapun yang dimaksud dengan kata adil dalam ayat ke 3 adalah keadilan dalam hak-hak istri yang sifatnya konkrit, seperti : rumah, makanan, pakaian, bermalam, dan yang lainnya. Sedangkan keadilan yang dimaksud dalam ayat 129 adalah keadilan dari sisi kecintaan dan kecenderungan, yang bersifat abstrak. Sebab, hal seperti ini di luar batas kemampuan manusia. Beda halnya dengan keadilan dalam hal hak-hak syar’i seperti makanan, pakaian, rumah dan makanan. (Tafsir Adwa al-Bayan, 1/ 222 dan 317). Tentunya keadilan yang dalam hal materi tidaklah harus sama persis. Namun disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan.

Perintah untuk berbuat adil dalam ayat tersebut adalah sebagai peringatan dan anjuran, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil pengharaman poligami secara mutlak. Selain itu, perintah poligami bukanlah suatu perintah yang wajib dikerjakan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya. (Jami’ al-Bayan, 6/370). Hal ini perlu dipahami, sebab secara tidak langsung mereka yang menolak poligami menganggapnya sebagai suatu perintah yang harus dilakukan. Sehingga begitu getolnya mereka mengkritisi syariat ini.

 

baca juga: Menikahi Lima Wanita Atau Lebih Dalam Waktu Bersamaan

Referensi:

Abu Ja’far at-Thabari, Jami al-Bayan ‘an Ta’wil al-Quran, Tahqiq: Abdulah at-Turki, (Dar Hijr, Cet-1, 1422 H)

Asghar Ali Engineer, Right of Women in Islam, (New Delhi: Sterling Publishers, Cet-3, 2008 M)

___________________, Pembebasan Perempuan, alih bahasa: Agus Nuryatno, (Yogyakarta: LKiS, Cet-1, 2003 M)

Muhammad Amin asy-Syinqithi, Adwa’ al-Bayan fi Idhah al-Quran bi al-Quran, (Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H)

 

%d bloggers like this: