Keabsahan Shalat Tanpa Bacaan Al-Fatihah

Keabsahan Shalat Tanpa Bacaan Al-Fatihah

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Mungkin salah satu di antara kita pernah mendapati, dalam shalat berjamaah ada makmum yang terlihat mulutnya tidak komat-kamit membaca bacaan shalat, baik al-Fatihah atau ayat pilihan dari al-Quran. Padahal terdapat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa shalat seseorang tanpa membaca al-fatihah, maka shalatnya tidak sah. Lantas bagaimana dengan shalat orang tersebut?

Permasalahan ini adalah permasalah klasik, persoalan yang sudah lama dibahas oleh para ahli fikih zaman dahulu. Maka, hendaknya kita melihat bagaimana para ahli fikih menjelaskan permasalahan ini, agar kita tidak mudah menyalahkan seseorang lantaran mengerjakan shalat tidak seperti yang kita kerjakan.

BACAAN AL-FATIHAH DALAM SHALAT

                Pada dasarnya tiga madzhab telah sepakat bahwa membaca al-Fatihah dalam shalat hukumnya wajib. Maka barang siapa yang tidak membaca al-Fatihah shalatnya tidak sah. Tiga madzhab tersebut ialah madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali, (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Wahbah az-Zuhayli, 2/91; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 32/ 9). Para ahli fikih dari ketiga madzhab tersebut tidak asal berpendapat. Akan tetapi, mereka berpendapat demikian berdasarkan nash-nash syar’i. Di antara nash-nash tersebut yaitu:

Sabda Rasulullah SAW,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Juga sabda Nabi SAW,

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak dibaca surah al-Fatihah. ” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Membaca al-Fatihah adalah rukun di setiap rakaat, dan telah shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau membacanya di setiap rakaat.” (Al-Mulakhash al-Fiqhi, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 1/127).

Adapun madzhab yang berbeda dengan pendapat jumhur ulama (mayoritas), yaitu para ahli fikih dari madzhab Hanafi. Mereka berpendapat bahwa tidak diwajibkan membaca al-Fatihah dalam shalat. Maknanya, orang yang shalat boleh membaca ayat mana saja dari al-Quran yang mudah baginya, (al-Bahru ar-Raiq Syarhu Kanzi ad-Daqaiq, Zainuddin bin Nujaim al-Hanafi, 312; al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, 32/ 9). Pendapat ini muncul tidak hanya sekedar ingin tampil beda dari pendapat jumhur, akan tetapi pendapat ini muncul juga disandarkan kepada nash-nash syar’i. Di antara dalil yang menjadi sandaran mereka yaitu,

Firman Allah SWT,

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah ayat-ayat yang mudah dari al-Quran!” (al-Muzammil: 20)

Dikuatkan dengan hadits shahih,

إذَا قُمْت إلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudhu lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah pendapat para ahli fikih tentang bacaan al-Fatihah dalam shalat. Mereka berbeda pendapat, dan perbedaan mereka tidak asal beda. Akan tetapi, perbedaan pendapat mereka berdasarkan nash-nash syar’i.

Selanjutnya para ahli fikih yang sepakat bahwa membaca al-Fatihah dalam shalat hukumnya wajib, berbeda pendapat mengenai hukum membaca al-Fatihah bagi makmum. Apakah tetap wajib membacanya atau cukup mendengarkan bacaan Imam?

BACAAN AL-FATIHAH BAGI MAKMUM

Para ahli fikih dari tiga madzhab di atas telah sepakat, di antara kewajiban yang harus dikerjakan bagi orang yang mengerjakan shalat ialah membaca al-Fatihah. Akan tetapi, mereka berpendapat bahwa hukum tersebut berlaku hanya bagi orang yang shalat munfarid (sendiri) dan imam secara khusus. Adapun bagi para makmum, mereka memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Pertama, seorang makmum wajib membaca al-Fatihah. Hal ini wajib dikerjakan baik dalam shalat sirriyah (imam tidak mengeraskan bacaan al-Fatihah dan surat-surat pendek) atau jahriyah (imam mengeraskan bacaannya). Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits yang membahas permasalahan ini seperti:

لاَ صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفاتِحَةِ الْكِتابِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah.”

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat apa saja yang dia tidak membaca Al-Fatihah di dalamnya maka shalatnya itu cacat, tidak sempurna. ”

لاَ تَجْزِئُ صَلاةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيْها بِأُمِّ الْقُرْآنِ

“Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak dibaca surah Al-Fatihah. ”

Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i. Sebagaimana penjelasan dari salah satu ahli fikih madzhab ini yaitu al-Muzanni. Para ahli fikih dari madzhab Syafi’i meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa beliau berpendapat wajib bagi makmum membaca al-Fatihah baik shalat sirriyah atau jahriyah, kecuali apabila masbuq (terlambat) dan tidak mendapatkan al-Fatihah, baik semuanya atau sebagiannya. (al-Hawi al Kabir, Abu al-Hasan al-Mawardi, 2/ 326; Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhi ath-Thalib, Zakariya al-Anshari, 1/149)

Kedua, para ahli fikih membedakan bacaan al-Fatihah bagi makmum antara shalat sirriyah dan jahriyah. Ketika dalam shalat sirriyah atau dalam shalat jahriyah akan tetapi tidak bisa mendengar bacaan imam, maka hendaknya membaca al-Fatihah dan ayat-ayat dari al-Quran. Sedangkan dalam shalat jahriyah dan makmum mampu mendengar bacaan imam, maka hendaknya diam dan mendengarkan bacaannya. Ini adalah pendapat para ahli fikih dari madzhab Hambali. Sedangkan para ahli fikih dari madzhab Maliki berpendapat bahwa membaca al-fatihah bagi makmum dalam shalat sirriyah dianjurkan, akan tetapi dimakruhkan dalam shalat Jahriyah. (al-Fiqh ‘ala al-Madhahib al-Arba’ah, Abdurrahman bin Muhammad ‘Awadh al-Jaziri, 253; al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 33/ 53). Di antara argumentasi mereka ialah firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا قُرِىءَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan diamlah agar kamu mendapat rahmat. ” (al-A’raf: 204).

Juga sabda Rasulullah SAW,

إنَّما جُعِلَ الإمامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوْا عَلَيْهِ فَإِذا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإذا قَرَأَ فَأَنْصِتُوْا

“Sesungguhnya dijadikan seorang imam dalam shalat adalah untuk diikuti, maka jangan menyelisihinya. Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, jika ia membaca ayat, maka diamlah. ” (HR. An-Nasa`i).

Ketiga, yaitu pendapat dari ahli fikih madzhab Hanafi, bahwa makmum tidak wajib membaca apa-apa sama sekali, baik itu al-Fatihah maupun surat lainnya, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Makruh hukumnya membaca bacaan di belakang imam, (al-Hidayah Syarhu Bidayati al-Mubtadi, Abu al-Hasan Ali bin Abi Bakr bin Abdul Jalil ar-Rusydani al-Marghiyani, 55 al-Fiqh ‘ala al-Madhahib al-Arba’ah, Abdurrahman bin Muhammad ‘Awadh al-Jaziri, 253). Di antara hujjah mereka ialah sabda Nabi saw,

مَنْ كانَ لَهُ إمامٌ فَقِرَاءَةُ الإمامِ لَهُ قِراءَةٌ

“Barangsiapa yang mempunyai (bermakmum kepada) imam, maka bacaan imam adalah bacaan dia juga. ” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, ad-Daruquthni)

baca juga: Membaca Al-Qur’an di Samping Orang yang Sedang Shalat

Ternyata sejak zaman salaf, para ahli fikih telah berbeda pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka tidak menjadikan mereka saling mencela atau saling mencaci. Akan tetapi mereka saling menghargai pendapat saudaranya. Maka tidak sepantasnya bagi kita, mencela pendapat yang dipegangi oleh orang lain yang berbeda dengan pendapat kita. Wallahu a’lam. []

 

 

 

 

%d bloggers like this: