Kapan Khitan Harus Dilaksanakan?

Kapan Khitan Harus Dilaksanakan?

الخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَاِل مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

“Khitan adalah sunah bagi laki-laki dan sebuah kemuliaan bagi perempuan.”  (HR. Ahmad)

Khitan merupakan salah satu ajaran Islam yang telah menjadi tradisi di Indonesia. Secara bahasa, Khitan memiliki arti memotong. (Lisanul Arab, Ibnu manzur, 13/138).

Ada sedikit perbedaan definisi antara khitan laki-laki dan perempuan. Bagi laki-laki, khitan adalah memotong kulit yang menutupi bagian ujung zakar. Sedangkan bagi wanita, khitan adalah memotong sedikit bagian dari klitoris, yaitu daging yang terletak di kemaluan bagian atas, tepatnya di atas tempat keluarnya air kencing. (Al-Majmu’, An-Nawawi, 1/302)

 

KHITAN ADALAH SYARIAT

Khitan adalah salah ajaran dalam agama Islam., bukan sekedar adat. Amalan ini didukung dengan dalil dari al-Quran dan as-Sunnah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.” (QS. Al-Baqarah: 124)

Makna dari “Kalimat” yang diujikan oleh Allah kepada Ibrahim adalah perintah melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan. Adapun yang dimaksud dengan ketaatan dalam ayat tersebut adalah bersuci. Mensucikan lima bagian di kepala dan lima bagian di area badan.

Lima bagian di kepala yaitu memotong kumis, berkumur-kumur, memasukkan air kehidung (istinsyaq), bersiwak dan membelah rambut.

Sedangkan lima bagian di area badan yaitu memotong kuku, memotong bulu kemaluan, khitan, memotong bulu ketiak dan bersuci setelah buang air kecil atau air besar. (Jami’u al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an, Abu Ja’far at-Thabari, 2/9)

Dalil dari as-Sunnah, Rasulullah ﷺ bersabda,

الفِطْرَةُ خَمْسُ: الخِتَانُ وَالاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima; khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

AWAL SYARIAT KHITAN

Ajaran khitan sudah ada semenjak zaman Nabi Ibrahim alaihisalam. Umat Islam hanya melanjutkan ajaran tersebut, sebagaimana yang sabda Rasulullah ﷺ,

اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَعْدَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُوْمِ.

“Nabi Ibrahim p berkhitan setelah berusia delapan puluh tahun dan beliau khitan dengan menggunakan kampak.” (HR. Al-Bukhari)

 

HUKUM KHITAN

Para ulama telah sepakat bahwa khitan merupakan ajaran Islam. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat mengenai hukum khitan.

Pertama, khitan hukumnya sunah bagi laki-laki dan mustahab bagi perempuan. Ini adalah pendapat dari ulama Hanafi, Maliki, salah satu pendapat imam Ahmad, dan Syafi’i.

Dalil argumentasi mereka di antaranya sabda Rasulullah ﷺ,

الخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَاِل مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

“Khitan adalah sunah bagi laki-laki dan sebuah kemuliaan bagi perempuan.”  (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain, “Lima perkara fitrah yaitu khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan mencukur kumis.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Qadhi ‘Iyadh meyatakan, “Hukum khitan menurut Malik dan mayortiyas ulama adalah sunah.” (Tuhfatu al-Maudud fi Ahkami al-Maulud, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 236)

Kedua, khitan hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Ini adalah pendapat ulama mazhab Syafi’i, Hambali, dan Sahnun dari mazhab Maliki.

Dalil yang dijadikan landasan kesimpulan mereka di antaranya, firman Allah Ta’ala,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif’.” (QS. Al-Nahl: 123)

Dan hadits Nabi ﷺ,

اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِالْقَدُوْمِ.

“Nabi Ibrahim alaihissalam berkhitan saat beliau berusia delapan puluh tahun dengan menggunakan kampak”. (HR. Muslim)

Dari dua nash di atas telah jelas bahwa manusia diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mengikuti Nabi Ibrahim. Di antara ajaran yang beliau bawa adalah khitan. Sehingga hukum khitan ini pun wajib.

Ketiga, khitan hukumnya wajib bagi laki-laki dan sebuah kemuliaan bagi wanita. Sehingga khitan tidak diwajibkan bagi wanita. Ini adalah pendapat Ibnu Qudamah al-Hambali. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 19/27-28)

 

WAKTU PELAKSANAAN KHITAN

Para Ulama menjelaskan, waktu diwajibkan untuk khitan (karena meyakini hukum khitan wajib), yaitu ketika usia sudah baligh dan sudah terbebani kewajiban syar’i.

Waktu mustahab (dianjurkan) mengkhitan anak adalah pada usia tujuh hari dari kelahiran. Ini adalah pendapat Wahab bin Munabbih. Beliau pernah ditanya mengenai khitan anak di hari ketujuh dari kelahiran, beliau menjawab, “Sesungguhnya mengkhitan anak pada hari ketujuh dari kelahiran adalah mustahab.”

Waktu dimakruhkan menghitan anak adalah pada usia tujuh hari dari kelahiran. ini adalah pendapat Hasan al-Bashari dan Malik bin Anas. Pendapat ini karena untuk menyelisihi Yahudi.

Imam Ahmad berkata, “Hasan al-Bashari memakruhkan seorang ayah yang mengkhitankan anaknya di hari yang ke tujuh dari kelahiran.”

Mengenai persoalan waktu khitan Ibnu Manzur berpesan, “Dalam masalah ini (waktu khitan) tidak ada suatu ketetapan yang baku.” Artinya seorang ayah boleh mengkhitankan anaknya di waktu yang tepat menurutnya. Misalkan ketika masih kecil, usia 7-10 tahun, atau bahkan ketika mendekati usia baligh. (Tuhfatu al-Maudud fi Ahkami al-Maulud, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 262-269)

 

HIKMAH SYARIAT KHITAN

Setiap ajaran agama Islam mengandung hikmah, termasuk ajaran khitan ini. Ibnu Qayyim t telah menjelaskan hikmah dari khitan dalam kitabnya Tuhfatu al-Maudud fi Ahkami al-Maulud halaman 270-276. Di antara hikmah disyariatkan khitan adalah,

Pertama, Khitan merupakan kemuliaan syariat yang Allah Subhanahu Wata’ala untuk hambaNya, guna memperbagus keindahan lahir dan batin, menyempurnakan fitrah yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada mereka dan merupakan kesempurnaan ajaran Nabi Ibrahim p. Khitan merupakan celupan dan tanda Allah Subhanahu Wata’ala terhadap hambaNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?” (QS. Al-Baqarah: 138).

Maksud shibghah dalam ayat di atas di antaranya adalah melaksanakan sunah fitrah yaitu berkhitan, memotong bulu kemaluan, memotong kumis, dst.

 

Baca Juga: Jangan Takut Dikhitan

 

Sehingga barangsiapa yang telah berkhitan dengan memotong kulit tersebut, berarti dia telah menghambakan dirinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga semua orang mengetahui, barangsiapa yang melakukan khitan, berarti dia adalah hamba Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, Dengan berkhitan—terlebih seorang wanita—dapat menetralkan nafsu syahwat. Jika dibiarkan tidak berkhitan, maka akan sejajar dengan perilaku hewan. Dan jika dipotong habis, maka membuat dia akan sama dengan benda mati, tidak mempunyai rasa. Oleh sebab itu, banyak dijumpai orang yang tidak berkhitan, baik laki-laki maupun perempuan, selalu merasa tidak puas dengan jima’. Sebaliknya, kesalahan ketika mengkhitan bagi wanita, dapat membuatnya menjadi dingin terhadap laki-laki.

Ketiga, Bagi wanita yang berkhitan dapat mencerahkan wajah dan memuaskan pasangan.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ اْلَأنْصَارِيَة أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تًخْتِنُ بِالْمَدِيْنَةَ فَقَالَ لَهَا النَّبِي صلى الله عليه وسلم: لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى اْلبَعْلِ

“Dalam hadits Ummu ‘Athiyyah, bahwa seorang wanita di Madinah berprofesi sebagai pengkhitan. Nabi ﷺ berkata kepadanya, ‘Janganlah dihabiskan. Sesungguhnya, itu akan menguntungkan wanita dan lebih dicintai suami’.” (HR. Abu Daud)

Keempat, Kebersihan pada bagian vital baik laki-laki atau perempuan yang sudah berkhitan lebih terjaga dari pada orang-orang yang tidak khitan. Wallahu a’lam [-]

 

Oleh: Luthfi Fathani

 

%d bloggers like this: