Junub Kaum Wanita

Junub Kaum Wanita

Junub adalah salah satu hadats besar yang menjadi penghalang untuk ibadah tertentu. Jika hadats kecil seperti buang hajat dan lainnya dapat disucikan dengan berwudhu maka hadast besar tidaklah demikian. Untuk menghilangkan hadats besar adalah dengan mandi yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Oleh karena itu, bagi wanita muslimah hendaknya memahami persoalan ini untuk menjaga kesuciannya.

Junub adalah suatu kondisi hal mana seseorang dilarang melakukan ibadah tertentu karena jima’ (berhubungan intim) dan karena keluarnya mani. Orang yang junub mempunyai kewajiban untuk bersuci, yaitu dengan mandi junub. Berdasarkan firman Allah, Dan jika kamu junub maka mandilah,” (QS. al-Ma’idah [5]: 6). Adapun yang dimaksud dengan mandi di sini adalah mandi junub, bukan sekedar mandi biasa, karena mandi junub mempunyai rangkaian tata cara khusus yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Seorang wanita dinyatakan junub dan wajib mandi jika mengalami tiga hal, yaitu keluarnya mani dalam keadaan sadar, keluar mani saat bermimpi, dan bertemunya dua farj (kemaluan). [Abdul Karim Zaidan, al-Mufashal fi Ahkami al-Mar’ah, 1/100].

Keluar Mani Kondisi Sadar

Ahlu Ilmi sepakat, wanita yang mengeluarkan mani karena syahwat dalam kondisi tersadar maka ia telah junub dan wajib mandi. Tidak memandang sebabnya, baik karena sentuhan, pandangan, atau lainnya. Berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani).” (HR. Muslim).

Berbeda hukumnya dengan wanita yang mengeluarkan mani dalam keadaan sadar namun tidak disertai sahwat, seperti sakit atau kedinginan maka ia tidak wajib mandi. Dengan demikian, hadits di atas maknanya adalah keluar mani disertai dengan syahwat yang mengakibatkan lemah dan lesu pada badan. [Ibnu Utsaimin, Syarhu al-Mumti’, 1/277-278].

Keluar Mani Saat Bermimpi

Seorang wanita yang ihtilam (mimpi basah) dan mengeluarkan mani maka ia junub dan wajib mandi. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa suatu ketika Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Jika seorang wanita ihtilam, apakah ia harus mandi?” Kemudian Rasulullah saw menjawab, “Iya, jika ia melihat air (mani).” Maksudnya adalah jika melihat air mani setelah bangun dari tidurnya. [al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, 1/388].

baca juga: Mandi Janabat Bagi Wanita

Soal wanita yang ihtilam namun tidak mendapati mani ketika bangunnya maka ia tidak wajib mandi. Dan sebaliknya, wanita yang tidak ihtilam namun mendapati mani setelah bangunnya, maka ia tetap harus mandi. Ibnu Abdul Barr menuturkan, “Para ulama sepakat, ihtilam terjadi pada laki-laki dan perempuan. Seorang yang ihtilam dan tidak mendapati mani serta tidak mendapati bekasnya maka ia tidak harus mandi. Seorang yang ihtilam dan mengeluarkan mani maka ia harus mandi. Hal ini baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sesungguhnya mandi (junub) itu tidak diwajibkan lantaran mimpi kecuali jika keluar mani.” [Ibnu Abdul Barr, at-Tamhid lima fi al-Muwaththa’, 8/337].

Adapun wanita yang melihat mani di bajunya, padahal tidak ada seorang pun yang tidur dengan baju itu malainkan hanya dia maka ia wajib mandi. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa ihtilam itu terjadi pada laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, dalam persoalan ini hukumnya pun sama dengan laki-laki. Ketika sahabat Umar dan Utsman melihat mani di pakaiannya, mereka mandi. Alasannya, tidak mungkin mani itu milik orang lain, pasti mani si pemiliki baju. [Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/203].

Bertemunya Dua Farj (Kemaluan)

Seorang istri yang melakukan jima’ (berhubungan intim) dengan suaminya ia wajib mandi, baik keluar mani atau tidak, dan selama dua farj (kemaluan) tersebut bertemu. Para ulama mengibaratkan seperti timba yang masuk ke dalam lubang sumur. Demikian ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Apabila seorang pria duduk di antara empat cabang tubuh wanita dan khitannya menyentuh khitan wanita, ia wajib mandi.” (HR. Muslim).

Sebagian ulama berpendapat, di antaranya adalah Abu Dawud, bahwa orang yang berjima’ dengan mempertemukan dua farji-nya tidak wajib mandi jika tidak keluar mani. Mereka berdalih dengan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani).” Namun pendapat ini telah dijawab oleh ulama lainnya bahwa demikian itu merupakan rukhsah (keringanan) yang diberikan Rasulullah pada awal disari’atkannya mandi junub. Kemudian setelah itu diwajibkan mandi bagi seorang yang melakukan jima’ meskipun tidak mengeluarkan mani. [Ibnu Qudamah, al-Mughni, 204].

Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: