Joseph Schacht Bicara Zakat

Joseph Schacht Bicara Zakat

Posisi zakat sebagai rukun Islam, menjadikannya telah lama dipelajari sepanjang sejarah Islam. Baik dalam literatur yang dikarang beberapa abad lalu, maupun yang lebih baru dan  lebih  modern. Tentunya dengan pembahasan yang terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Para orientalis yang mengkaji dunia Islam. Studi mereka semenjak dulu berusaha memberikan gambaran dan  penafsiran  yang tak  benar tentang Islam pada umumnya, termasuk mengenai zakat ini. Di antara mereka adalah seorang orientalis bernama Joseph Schacth.

ZAKAT MENURUT SCHACHT

Schacht berasal dari keluarga yang cukup religius. Ayahnya seorang katolik roma dan guru sekolah luar biasa (SLB). Religiusitas dan pendidikan dari keluarga memberinya kesempatan untuk menjadi akrab dengan tuntunan agama Kristen dan bahasa Hebrew. Inilah titik poin penting yang membantu pemahamannya terhadap studi keagamaan. (Ahmad Minhaji, Joseph Schacht’s Contribution To The Study Of Islamic Law, Tesis, (Kanada: Institute of Islamic Studies McGill University, 1992), 4-5).

Menurut Schacht, istilah  zakat  itu sendiri  tak  jelas  asal  usulnya  dalam bahasa Arab dan baru dikenal Nabi dalam pengertian yang lebih  luas  karena  beliau mengetahuinya  dari pengertian yang diberikan orang Yahudi dan orang Aramaik.

Bersama dengan shadaqah, Rasulullah n mungkin  mengenal konsep  ini  dari  orang  Yahudi  yang  ditemuinya di Madinah. Konsep seperti ini sangat diperlukannya terutama dalam  rangka memberikan  bantuan pada orang muhajirin yang baru datang dari Makkah. Suatu praktek yang  pada  mulanya  sangat  bernafaskan agama, namun semakin lama kehilangan  motif keagamaannya.

Harta benda yang diperoleh dari zakat itu tak hanya untuk  menolong  fakir miskin,  tapi  juga  untuk  tujuan-tujuan militer dan politik. Untuk hal ini, yang dirasakan  berat  bagi  kebanyakan  orang, maka  ia  menggunakan  nama  Allah,  atau  untuk  jalan  Allah. Aturan yang ditetapkan dalam al-Quran, sebagaimana tersebut dalam surat At-Taubah ayat 60.

Bahkan menurut Schacht, para ulama berbeda pendapat tentang kapan diwajibkannya zakat.  Antara tahun 2 hijriah atau 9 hijriyah. Hal mana menurut mereka hukum yang awal itu terhapus dengan hukum yang muncul kemudian. Sehingga perintah shadaqah dan infaq terhapus dengan adanya perintah zakat. (Dairat al-Mausu’ah al-Islamiyah, 52585261)

YANG PERLU DILURUSKAN

Statemen yang digunakan oleh Schacht dalam menjelaskan zakat cenderung bernada menghina terhadap syariat Islam. Sehingga secara tidak langsung menimbulkan keraguan bagi diri seorang muslim terhadap syariat Islam. Khususnya dalam hal ini yang terkait dengan zakat.

Menanggapi statemen Schacht tentang istilah zakat, Dr. Yusuf al-Qardhawi menyatakan bahwa ungkapan seperti itu tak lain bersumber dari otak yang bodoh dan dibutakan oleh sumber-sumber dari barat yang berdasar pada hawa nafsu. Untuk menyanggahnya paling tidak ada 2 poin.

Pertama, Istilah zakat, digunakan dalam al-Quran dengan makna yang dipahami oleh umat Islam, itu semenjak awal masa di makkah. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-A’raf ayat 156, Maryam ayat 31 dan 55, al-Anbiya ayat 72 dan selainnya.

Merupakan suatu hal yang makruf serta meyakinkan bahwa Nabi n tidak mengetahui bahasa ibrani atau bahasa lain selain bahasa arab. Sebagaimana halnya beliau belum pernah berjumpa dengan orang-orang yahudi kecuali setelah hijrah ke Madinah. Lantas kapan beliau mengambil istilah itu dari orang Yahudi, seperti yang dituduhkan oleh Schacth.

Kedua, Di antara tindakan serampangan yang menegasikan akhlak orang yang berilmu dan manhaj yang benar bila mana menganggap ada penukilan dari bahasa lain di saat mendapati istilah yang sama dari dua bahasa yang berbeda memiliki arti yang banyak.

Kesamaan arti bukan berarti menunjukkan adanya penukilan dari yang bahasa lain. Lantas jika ada orang yang mengklaim telah terjadi penukilan tanpa bukti yang jelas, kemudian metode seperti ini dijadikan kebiasaan, maka telah hilang sifat amanah dalam keilmuan dan hilang pula akhlaknya sebagai orang yang berilmu. (Yusuf al-Qardhawi, Fiqhuz Zakat, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet-2, 1393 H), 1/39-40)

Kemudian terkait pernyataan Schacht selanjutnya. Dr. Muhammad Anas Az-Zarqa menyatakan, bahwa yang seharusnya dipahami, masyhur di antara para ulama bahwasanya kewajiban zakat itu ditetapkan antara tahun 2 hijriyah dan 5 hijriyah. Sedangkan pendapat yang menyatakan tahun 9 hijriyah itu lemah.

bac ajuga: Tafsir Shiyam Ala Syahrur

Adapun statemen yang menyatakan, bahwa syariat zakat menghapus hukum syar’i tentang infaq dan shadaqah, ini adalah statemen yang gegabah. Sebab ini hanya pendapat sebagian ulama saja. Pendapat yang tepat adalah bahwa syariat zakat hanya memperjelas perkara yang sebenarnya wajib hukumnya dan membiarkan perkara yang lain sebagaimana mestinya. (Muhammad Anas az-Zarqa, Manahij al-Mustasyriqin fi ad-Dirosat al-Arabiyah wa al-Islamiyah: Az-Zakat ‘Inda Schacht wal Qiradh ‘Inda Udovitch:, (Riyadh, 1985), 2/211). Wallahu A’lam Bisshowab. []

%d bloggers like this: