Jeddah Adalah Miqat?

Jeddah Adalah Miqat?

Ihram merupakan rukun pertama yang memengaruhi sah-tidaknya haji. Namun, sering terjadi kontroversi. Banyak dari Jamaah haji memulai ihram bukan dari miqat.

Miqat merupakan tempat atau waktu untuk memulai ihram. Ada dua jenis miqat yaitu miqat zamani (waktu ihram dari syawal hingga 8 Dzulhijjah) dan miqat makani.

Miqat makani adalah tempat untuk memulai ihram. Dari Ibnu Abbas berkata:

“Nabi SAW telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di al-Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila datang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan umrah. Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka mereka memulai dari tempat tinggalnya (keluarga) dan begitulah ketentuannya. Bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiah) dari (rumah mereka) di Makkah” (HR. Bukhari, no. 1524, Muslim, no. 1181)

Dan dalam hadist Aisyah, “Bahwasanya Nabi SAW menjadikan untuk penduduk Iraq Dzatu Irqin sebagai miqat mereka.“ (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

MIQAT MAKANI JAMAAH HAJI INDONESIA

Jamaah haji Indonesia gelombang pertama yang datang ke Madinah terlebih dahulu, maka miqat-nya adalah Dzulhulaifah atau Bir Ali. Ini tidak ada polemik.

Namun kontroversi biasanya terjadi di gelombang kedua. Yaitu Jamaah haji yang turun di Jeddah –padahal sudah melewati miqat terdekat— kemudian langsung ke Mekkah.

Anehnya, Bandara King Abdul Aziz Jeddah –yang sejatinya telah melewati miqat— boleh dijadikan miqat. Jamaah haji boleh ihram dari Miqat baru tersebut. Padahal pendapat ini menyelisihi ketentuan Miqat yang telah diterangkan dalam hadits Nabi SAW.

(baca juga: Obati Kesyirikan Dengan Ibadah Haji)

HADITS RASULULLAH TIDAK BERLAKU UNTUK JAMAAH HAJI YANG DATANG MELALUI UDARA.

Karena perkembangan teknologi berupa pesawat terbang yang langsung mendarat di Jeddah, membuat beberapa ulama’ membolehkan Ihram dari Jeddah.

Syaikh Musthafa az-Zarqa dalam Fatawa Mushtafa az-Zarqa, menerangkan bahwa Jeddah adalah miqat makani. Beliau berpendapat bahwa miqat-miqat yang ditentukan Rasulullah n tidak berlaku untuk jamaah haji yang datang dengan pesawat terbang. Miqat-miqat tersebut berlaku bagi jamaah haji yang datang melalui darat saja. (Fatawa Mushtafa az-Zarqa, Dar al-Qalam, Cet. Ke-3 th. 2004 hal. 177-194)

Pendapat seperti ini menyelisihi Jumhur ulama’. Karena pendapat ini tidak ada dalil dari al-qur’an sunnah maupun ijma’ ulama’. Bahkan, terkesan menganggap bahwa hadits Nabi SAW terlalu sempit dan tidak mampu menyesuaikan zaman.

Para ulama’ tidak ada yang membedabedakan bahwa hadits seputar miqat hanya khusus jamaah haji yang jalan kaki, atau tidak berlaku bagi jamaah haji yang datang melalui jalur udara (pesawat terbang).
Karena orang yang datang melalui jalur udara pun pasti juga melewati miqat yang telah ditentukan oleh Nabi SAW atau tempat yang sejajar dengannya. Maka ia pun wajib berihram dari miqat tersebut. JEDDAH MENJADI MIQAT

KARENA SEJAJAR DENGAN MIQAT LAIN

Ada yang menganggap Jeddah sejajar dengan dua miqat, yaitu As-Sa’diyyah (Yalamlam) dan Juhfah. Sehingga Jeddah bisa menjadi miqat.

Kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Jeddah terletak setelah miqat. Orang yang datang melalui darat, laut, maupun udara ke Jeddah pasti sudah melewati/melintasi salah satu miqat dari miqat-miqat yang telah ditetapkan oleh Nabi SAW atau melewati tempat-tempat yang sejajar dengan miqatmiqat tersebut. Akhirnya, pembenaran Jeddah sebagai miqat pun kurang tepat.

MAMPIR DI JEDDAH SEJENAK DIANGGAP MUQIM

Ada juga yang mencari pembenaran, dengan berpendapat, bila seseorang berniat untuk tinggal di Jeddah sebentar saja, dia dianggap muqim sehingga boleh niat ihram dari Jeddah.

Pendapat ini pernah dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim Al-Anshari dalam at-Taqwim al-Qathri hal. 95-96. Pendapat ini nyleneh dan menyelisihi Jumhur ulama’. Pendapat-pendapat ini terkesan hanya mencari pembenaran saja.

SOLUSI POLEMIK

Masalah Jeddah miqat atau bukan miqat memang menjadi polemik sejak Jamaah haji Indonesia berangkat melalui pesawat terbang.

Tercatat tiga kali MUI mengeluarkan fatwa tentang bolehnya berihram dari bandara Jeddah, yaitu tahun 1980, 1981 dan 2006.

Untuk kehati-hatian, seyogianya kita menghindari pendapat yang menyelisihi jumhur ulama’. Demi menjaga agar ibadah haji/umrah kita benar sesuai tuntunan Nabi SAW.

Solusinya pun sungguh mudah. Memakai pakaian Ihram sebelum naik pesawat, tapi berniat ihram ketika mendekati miqat – biasanya pilot / petugas pesawat memberi tahu—. Bila belum ihram sampai di Jeddah, balik ke miqat yang dilewati tadi, bila tidak memungkinkan, membayar ‘Dam’ yaitu menyembelih satu ekor kambing. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: