Jatah Panitia Zakat Fitrah

Jatah Panitia Zakat Fitrah

Sampai hari ini, polemik mengenai jatah untuk amil zakat fitrah masih sering menjadi pembicaraan. Dahulu dan mungkin juga sampai hari ini, di sebagian desa, zakat fitrah dikumpulkan di rumah salah satu tokoh masyarakat. Kemudian, dengan dibantu beberapa orang, tokoh masyarakat tersebut mendistribusikan zakat fithrah kepada masyarakat. Hanya saja, dia secara pribadi mendapatkan bagian yang cukup besar dari zakat fitrah yang terkumpul. Ada yang sampai 1/3 dari total zakat fitrah. Sang tokoh menerima bagian itu dalam kapasitas sebagai amil, bukan fakir miskin. Adapun fakir miskin, dibagi sesuai rata-rata: total zakat dibagi jumlah fakir miskin di lingkungannya.

Nah, apakah ini dibenarkan dalam syariat?

Hal ini dapat kita kaji melalui dua sudut pandang: pertama, apakah panitia zakat fitrah, baik itu tokoh masyarakat yang biasa ditunjuk sebagai distributor, maupun paniti penyalur zakat fitri termasuk amil? Kedua, jika termasuk amil, berapa kadar maksimal yang mereka terima?

Pertama mengenai amil. Amil secara bahasa artinya pekerja. Dalam konteks zakat, amil adalah para petugas penarik dan pengumpul zakat. Dalam sistim Negara Islam, para amil bekerja di bawah badan resmi yang ditunjuk Negara untuk menarik dan menyalurkan zakat. Para amil mendapat bagian dari zakat atau digaji langsung oleh pemerintah Islam.

Agar lebi rinci, ada beberapa penjelasan definitif dari para ulama.

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Amil zakat adalah para pekerja yang bertugas mengumpulkan harta zakat dari orang-orang yang terkena wajib zakat lalu menjaganya dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang berhak menerima. Mereka bekerja berdasarkan mandat dari pemerintahan Islam. Mereka mendapat upah dari sebagian zakat sesuai dengan upah yang layak diberikan untuk pekerjaan yang mereka jalani, kecuali jika pemerintah telah menetapkan gaji bulanan untuk mereka yang diambilkan dari kas Negara untuk pekerjaan mereka tersebut. Jika demikian, sebagaimana yang berlaku saat ini (di Saudi, pent), maka mereka tidak diberi sedikit pun dari harta zakat karena mereka telah mendapatkan gaji dari negara.” (al-Mulakhash al-Fiqhi 1/361-362).

‘Adil bin Yusuf al ‘Azazi berkata, “Yang dimaksud dengan amil zakat adalah para petugas yang dikirim oleh penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang yang berkewajiban membayar zakat. Termasuk amil adalah orang-orang yang menjaga harta zakat serta orang-orang yang membagi dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka itulah yang berhak diberi zakat meski sebenarnya mereka orang-orang yang kaya.” (Tamam al-Minnah fi Fiqh al-Kitab wa Shahih as-Sunnah 2/290).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Golongan ketiga yang berhak mendapatkan zakat adalah amil zakat. Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh penguasa untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berkewajiban untuk menunaikannya lalu menjaga dan mendistribusikannya. Mereka diberi zakat sesuai dengan kadar kerja mereka meski mereka sebenarnya adalah orang-orang yang kaya. Sedangkan orang biasa yang menjadi wakil orang yang berzakat untuk mendistribusikan zakatnya bukanlah termasuk amil zakat.

Dengan demikian, mereka tidak berhak mendapatkan harta zakat sedikit pun disebabkan status mereka sebagai wakil. Akan tetapi, jika mereka dengan penuh kerelaan hati mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan penuh amanah dan kesungguhan, maka mereka turut mendapatkan pahala…. Namun, jika mereka meminta upah karena telah mendistribusikan zakat, maka orang yang berzakat berkewajiban memberinya upah dari hartanya yang lain bukan dari zakat,” (Majalis Syahri Ramadhan, hlm. 163-164, cet Darul Hadits Kairo).

Mengacu pada definisi dari Syaikh al-Utsaimin, panitia zakat fitrah lebih tepat disebut sebagai wakil muzakki (orang yang berzakat) dalam pendistribusian, bukan amil zakat. Alasannya, panitia zakat fitrah bersifat sementara, biasanya hanya dibentuk pada malam hari Idul Fitrah atau selama Ramadhan. Alasan lainnya, panitia tidak bekerja menjemput zakat melainkan hanya menunggu para muzakki menyetorkan zakatnya, lalu membagikan kepada fakir miskin.

Dengan demikian, kriteria amil pada ilustrasi di atas belumlah terpenuhi. Oleh karenanya, hendaknya panitia zakat fitrah melakukan tugas kepanitiaan dengan ikhlas. Kalaupun mereka mendapatkan bagian, faktornya bukan karena menjadi panitia tapi karena masuk dalam salah satu dari delapan asnaf (kelompok) penerima zakat.

baca juga: Zakat, Datangkan Keberkahan Atasi Kesenjangan

Memotong zakat fitrah sampai sepertiga, apalagi lebih dari itu adalah tindakan yang salah karena zakat fitrah hendaknya difokuskan kepada fakir miskin. Rasulullah bersabda:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan (jiwa) orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Ied), maka itu adalah zakat yang diterima . Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Ied), maka itu adalah satu shadaqah diantara shadaqah-shadaqah”. (HR Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ al-Ghalil, III/333).

Hendaknya kita berhati-hati terhadap harta yang menjadi hak orang-orang miskin.

 

%d bloggers like this: