Jarak Minimal Safar yang Memperbolehkan Shalat Jamak dan Qashar

Jarak Minimal Safar yang Memperbolehkan Shalat Jamak dan Qashar

Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat tentang jarak minimal safar yang menjadi sebab diperbolehkannya shalat Jamak dan Qashar.

[1]- Perjalanan satu hari penuh

Perjalanan satu hari dengan jalan kaki atau naik unta dan kuda yang membawa beban. Jarak yang biasanya bisa ditempuh selama satu hari perjalanan adalah 2 barid atau sekitar 42 km. Pendapat ini dipegangi oleh al-Auza’i, al-Bukhari, dan Ibnu Mundzir.

Pendapat ini berdasar hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan dengan jarak satu hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dalam lafal lain dari Bukhari dan Muslim, “…dengan jarak sehari semalam…”).

[2]- Perjalanan dua hari

Perjalanan dua hari dengan jalan kaki atau naik unta dan kuda yang membawa beban, disertai istirahat di waktu malam. Jarak yang biasanya bisa ditempuh selama dua hari perjalanan adalah 4 barid, yaitu 16 farsakh, atau 48 mil hasyimi, atau sekitar 85 km.

Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf: Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas dari generasi sahabat; Hasan al-Bashri dan az-Zuhri dari generasi tabi’in; dan Malik bin Anas, Laits bin Sa’ad, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur dari kalangan imam madzhab.

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa dalil:

  • Dari Abu Sa’id al-Khudri RA dari Nabi SAW bersabda, “Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejarak dua hari kecuali bersama suaminya atau mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Dari Atha’ bin Abi Rabbah bahwasanya Ibnu Umar dan Ibnu Abbas melaksanakan shalat dua rakaat (qashar) dan tidak berpuasa jika melakukan perjalanan 4 barid atau lebih. (HR. al-Baihaqi dengan sanad shahih. Al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq dengan shighah jazm yang menunjukkan keshahihannya)
  • Dari Atha’ bin Abi Rabbah bahwasanya Ibnu Abbas ditanya, “Apakah saya boleh mengqashar shalat dalam perjalanan (dari Makkah) ke Arafah?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, tapi lakukanlah jika (dari Makkah) ke ‘Usfan, atau ke Jeddah, atau ke Thaif.” (HR. asy-Syafi’i dan al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)
  • Dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya bapaknya, Ibnu Umar RA, mengendarai kendaraan (dari Madinah) ke daerah Raim dan Dzatu Nashab, maka ia mengqashar shalat dalam perjalanan tersebut. (HR. Malik dengan sanad shahih). Imam Malik berkata, “Jaraknya dari Madinah adalah sekitar 4 barid.

[3]- Perjalanan tiga hari

Perjalanan tiga hari dengan jalan kaki atau naik unta dan kuda yang membawa beban. Jarak yang biasanya bisa ditempuh selama tiga hari perjalanan adalah 24 farsakh, atau sekitar 135 km.

Ini adalah pendapat Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan Suwaid bin Ghaflah dari generasi sahabat; asy-Sya’bi, an-Nakha’i, dan Hasan bin Shalih dari kalangan tabi’in; Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri, dari kalangan imam madzhab.

Pendapat ini didasarkan kepada hadits dari Abdullah bin Umar RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejarak tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits dari Abu Bakrah RA bahwasanya Nabi SAW memberi keringanan bagi musafir selama tiga hari tiga malam dan bagi orang yang mukim selama sehari semalam, apabila ia bersuci dan memakai kedua sepatunya, untuk mengusap kedua sepatunya.” (HR. asy-Syafi’i, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi, dan ad-Daraquthni, hadits shahih).

[4] – Setiap perjalanan, baik jarak jauh maupun dekat

Ini adalah pendapat Daud bin Ali az-Zhahiri dari kalangan madzhab Zhahiri. Bahkan, beliau berpendapat bahwa seorang yang bepergian ke sawah atau ladangnya yang berada di luar batas desanya juga berhak menqashar shalat. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan beberapa ulama kontemporer.

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa dalil:

  1. Al-Qur’an dan Hadits Nabawi hanya menyebutkan safar tanpa memberikan batasan jarak tertentu. Oleh karena itu, jarak safar dikembalikan kepada ‘urf, yaitu kebiasaan yang umum berlaku di setiap wilayah.
  2. Dari Anas bin Malik RA berkata, “Rasulullah SAW jika bepergian sejarak 3 mil atau 3 farsakh, beliau melaksanakan shalat dua raka’at (qashar).” (HR. Muslim dan Abu Daud). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Hadits ini adalah hadits yang paling shahih dan paling tegas tentang bab (jarak safar) ini.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 2/650).
  3. Dari Anas bin Malik RA berkata, “Saya melaksanakan shalat Zhuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah sebanyak empat raka’at, lalu melaksanakan shalat Ashar di Dzul Hulaifah sebanyak dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal Muslim). Dzul Hulaifah berjarak 3 mil dari Madinah.

Pendapat yang lebih kuat

Dari pemaparan masing-masing pendapat dan argumentasinya di atas bisa disimpulkan sebagai berikut:

  1. Tidak ada dalil yang shahih lagi tegas tentang penentuan jarak minimal safar yang memperbolehkan Jamak dan Qashar.

Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata, “Kesimpulannya Nabi SAW tidak pernah menentukan jarak untuk dinamakan safar. Beliau menamakan safar pada perjalanan tiga hari, perjalanan dua hari, perjalanan satu hari satu malam, perjalanan satu hari, perjalanan satu malam, dan perjalanan satu barid yaitu setengah hari. Hal ini menunjukkan bahwa semua jarak tersebut disebut safar.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 4/214-215)

Muhammad Amin asy-Syinqithi berkata, “Pendapat yang lebih kuat adalah bahwasanya tidak ada nash yang sharih (tegas) tentang penentuan jarak minimal safar. Hal itu telah diperselisihkan oleh para ulama sehingga terdapat sekitar 20 pendapat…” (asy-Syinqithi, Adhwaul Bayan, 1/273).

  1. Inti perbedaan pendapat dalam hal ini adalah perbedaan dalam tahqiq manath, yaitu menentukan perjalanan seperti apakah yang bisa disebut safar.

Asy-Syinqithi berkata, “Pendapat yang lebih kuat adalah bahwasanya perbedaan pendapat dalam menentukan jarak minimal merupakan bagian dari perbedaan pendapat dalam tahqiq manath. Maka, segala sesuatu yang dalam bahasa Arab disebut safar, boleh dilakukan qashar padanya. Sebab hal itulah yang ditunjukkan oleh zhahir nash-nash syar’i dan tidak ada riwayat yang shahih yang memalingkan maknanya dari zhahirnya. Sekedar bepergian keluar dari daerah tempat tinggalnya tidaklah disebut safar. Nabi SAW bepergian ke Quba’ dan juga ke Uhud, namun beliau tidak menqashar shalat.” (asy-Syinqithi, Adhwaul Bayan, 1/273).

  1. Banyak ulama muhaqqiq mengembalikan standar penilaiannya kepada ‘urf, yaitu kebiasaan dan pendapat umum masyarakat di setiap wilayah. Dalam praktiknya, standar penilaian ini tidak definitif, sulit tercapai dan cenderung membuka subyektifitas yang tinggi.

Terbukti, sama-sama tinggal di Madinah dan senantiasa menyertai Nabi SAW, terjadi perbedaan pendapat yang tajam di antara sahabat Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Suwaid bin Ghaflah. Jika para ulama senior sahabat saja berbeda pendapat, tentu lebih sulit mencapai pendapat yang disepakati oleh masyarakat umum di sebuah wilayah (‘urf) yang jumlahnya ribuan manusia.

  1. Sebagai bentuk kehati-hatian, tidak ada salahnya mengikuti pendapat yang menyatakan jarak minimal adalah perjalanan 1 barid (21 km), 2 barid (42 km), 4 barid (85 km), atau lebih jauh dari itu.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Adapun yang lebih utama adalah tidak menqashar shalat dalam jarak yang kurang dari perjalanan tiga hari, untuk keluar dari perbedaan pendapat Abu Hanifah dan ulama lainnya.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, 4/211-212).

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

baca juga: Menjama’ shalat Karena Hujan? Bolehkah?

%d bloggers like this: