Jangan Takut Dikhitan

khitan bagi perempuan

Di banyak negara “maju” khitan perempuan disebut-sebut sebagai praktik yang melanggar Hak Asasi Manusia (HMA). Di Indonesia, khitan perempuan pernah dilarang pada tahun 2006.  Pada tahun 2008, MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwanya tentang khitan, bahwa khitan bagi laki-laki maupun perempuan termasuk fitrah dan syiar Islam. MUI tegas menolak pihak yang melarang khitan bagi perempuan karena tidak ada ulama yang melarang.

Pada tahun 2010, Menteri Kesehatan mengeluarkan peraturan dengan nomor 1636/MENKES/PER/2010 tentang Sunat Perempuan, dijelaskan bahwa sunat hanya boleh dilakukan oleh petugas medis, yakni dalam hal ini dokter, perawat dan bidan agar tidak menimbulkan dampak buruk. Sampai hari ini, fenomena khitan bagi perempuan terus menjadi perbincangan hangat antara yang mewajibkan, melarang, menyunnahkan, atau mengategorikannya sebagai kemuliaan.

Syariat Khitan

Para ahli fikih sepakat disyariatkannya khitan bagi perempuan, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang derajat pensyariatannya. Mazhab Syafi’i mewajibkannya, mazhab Maliki dan Hanafi menyunnahkannya, mazhab Hambali menganggapnya sebagai amalan yang mulia.

Tidak ada ahli fikih yang melarang atau mengharamkan khitan bagi perempuan. Mereka berdalil bahwa Allah memerintahkan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti sunah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan salah satu sunah Nabi Ibrahim adalah khitan. Sebagaimana firman Allah,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. An-Nahl: 123).

Bagian dari Sunah Fitrah

Khitan adalah salah satu sunah fitrah yang disebutkan oleh Rasulullah, beliau bersabda,  “Sunah fitrah itu ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memotong kumis,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Para ahli fikih menjelaskan, hadits ini bersifat umum untuk kaum muslim laki-laki maupun perempuan. Apabila khitan itu dilarang secara syar’i maka akan tentu ada keterangan soal itu dan para ahli fikih akan menjelaskan dasar beserta alasannya.

Cara Khitan Perempuan

Salah satu tujuan khitan bagi perempuan adalah untuk menstabilkan syahwat atau untuk beberapa alasan kesehatan. Oleh karena itu, khitan peremuan tidak boleh berlebihan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah, beliau bersabda kepada Ummu ‘Athiyah, “Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.” (HR. Imam Ahmad, dha’if).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan tentang khitan bagi wanita yang benar adalah dengan memotong sedikit bagian kulit teratas pada bagian kemaluan wanita yang berbentuk seperti jambul ayam jantan (yakni klitoris). [Majmu’ Fatawa, 19/75].

Apabila laki-laki diwajibkan khitan sebelum usia baligh, tentu kondisinya berbeda dengan perempuan. Karena khitan bagi perempuan bukanlah sebuah kewajiban, kecuali menurut mazhab Syafi’i, sedangkan khitan bagi laki-laki adalah sesuatu yang diwajibkan.

Oleh karena itu, diperbolehkan bagi orang tua mengkhitankan anak perempuannya untuk mendapatkan keutamaannya. Jika perempuan dewasa juga ingin mendapatkan fadhilahnya diperbolehkan baginya untuk berkhitan pula. Tentunya dengan memperhatikan hal-hal penting seperti kesehatan dan kemaslahatan. Karena sekali lagi, khitan perempuan itu bermanfaat tetapi tidak baik jika berlebihan. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Merayakan Khitan

Di masyarakat kita pada umumnya, perayaan khitan hanya diadakan untuk khitan laki-laki. Pun mengenai perayaan ini, ada sebagian ulama yang tidak setuju. Pendapat yang tidak setuju berdalil dengan hadits Utsman bin Abu al-Ash, menurutnya perayaan khitan adalah amalan yang tidak pernah diadakan pada masa Rasulullah. Bahkan menurut para ulama anggota Lajnah -Da’imah perayaan tersebut termasuk amalan bid’ah, (Fatawa lajnah Daimah, 5/133).

Adapun ulama yang membolehkan diantaranya adalah Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Karena khitan merupakan salah satu syiar Islam sepertihalnya perayaan nikah dan melahirkan. Kendati demikian, dalam perayaan tersebut tidaklah berlebih-lebihan sehingga melailakan dari batasan-batasan syar’i. [Syarhu al-Mumti’, 12/320].

baca juga: Junub Kaum Wanita

Adapun perayaan khitan perempuan tidaklah lazim diadakan, baik zaman dahulu maupun sekarang. Karena pada dasarnya hukum khitan perempuan—kecuali menurut mazhab Syafi’i—tidak wajib, dan yang demikian itu adalah urusan keluarga yang tidak perlu diumumkan atau dirayakan. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: