Menjama’ shalat Karena Hujan? Bolehkah?

Menjama’ shalat Karena Hujan

Terkadang kita temui diantara kaum muslimin memperdebatkan amalan menjama’ dua shalat karena hujan. Sehingga, ada sebagian kaum muslimin yang melaksanakannya dan sebagian yang lain tidak mau melaksanakannya. Lantas bagaimana pendapat para ahli fikih dalam menanggapi permasalahan ini. Dibawah ini kami nukilkan jawaban-jawaban para ahli fikih dari empat madzab tentang menjama’ dua waktu shalat karena hujan.

DIPERBOLEHKAN MENJAMA’ SHALAT KARENA HUJAN

Imam An-Nawawi (631-676 H)menulis dalam bukunya al-Majmu’,

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ يَجُوزُ الْجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي الْمَطَرِ وَحَكَى إمَامُ الْحَرَمَيْنِ قَوْلًا أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِي وَقْتِ الْمَغْرِبِ ، وَلَا يَجُوزُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ.

Imam asy-Syafi’I dan para sahabatnya berpendapat diperbolehkan menjama’ antara shalat Dhuhur dan Asar, antara shalat maghrib dan shalat Isya’ ketika sedang hujan. Imam Haramain menceritakan sebuah pendapat, “sesungguhnya diperbolehkan menjama’ shalat antara shalat Maghrib dan Isya’, dikerjakan di waktu Mahghrib dan tidak diperbolehkan mengjama’ antara shalat Dhuhur dan shalat asar.” (al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, 4/ 381)

Dalam Al Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hanbali (541-629 H) disebutkan,

وَالْمَطَرُ الْمُبِيحُ لِلْجَمْعِ هُوَ مَا يَبُلُّ الثِّيَابَ، وَتَلْحَقُ الْمَشَقَّةُ بِالْخُرُوجِ فِيهِ وَأَمَّا الطَّلُّ وَالْمَطَرُ الْخَفِيفُ الَّذِي لَا يَبُلُّ الثِّيَابَ، فَلَا يُبِيحُ

”Hujan yang diperbolehkan seseorang menjama’ shalatnya adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan rintik-rintik dan tidak begitu deras sehingga tidak membasahi pakaian maka tidak diperbolehkan menjama’ shalat.” (Al Mughni, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi, 2/ 117)

Ibnu Taimiyah (661-728 H) berkata,

أَنَّ الْجَمْعَ لِلْمَطَرِ مِنْ الْأَمْرِ الْقَدِيمِ الْمَعْمُولِ بِهِ بِالْمَدِينَةِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ أَنَّ أَحَدًا مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ أَنْكَرَ ذَلِكَ فَعُلِمَ أَنَّهُ مَنْقُولٌ عِنْدَهُمْ بِالتَّوَاتُرِ جَوَازُ ذَلِكَ.

Sesungguhnya menjama’ shalat karena turun hujan telah dikerjakan di Madinah sejak masa sahabat dan tabi’in. Dan tidak dinukil bahwa seorang sahabat dan tabi’in mengingkarinya. Dan bisa dipahami bahwa sebenarnya hal itu sudah mutawatir (dinukil dengan riwayat yang banyak).” (Majmu’ al-Fatawa, Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani, 24: 83).

Muhammad bin Abu Abdullah al-Kharasyi al-Maliki (1010-1101 H) menjelaskan,

أَنَّ الْجَمْعَ لِلْمَطَرِ وَمَا مَعَهُ مَخْصُوصٌ بِالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَلَا يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِيهِمَا غَالِبًا بِخِلَافِ الْعِشَاءَيْن

Sesungguhnya menjama’ shalat karena hujan dan hal-hal yang berbarengan dengannya (angin, petir, becek, dll) hanya dikhususkan pada shalat Mangrib dan Isya’. Adapun untuk shalat Dhuhur dan Asar tidak boleh dijama’, karena tidak ada beban di dalamnya, berbeda dengan shalat Maghrib dan Isya’. (syarhu Mukhtashar Khalil lil Kharasyi, Abu Abdullah Muhammad bin Jamaluddin Abu Abdullah bin Ali al-Kharasyi, 5/ 133)

Al-Qirawani al-Maliki (310-386 H) memberi keterang,

الْجَمْعُ لَيْلَةَ الْمَطَرِ سُنَّةٌ مَاضِيَةٌ ، وَالْأَصْلُ الْحَقِيقَةُ ، وَقَدْ فَعَلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ وَفِعْلُهُمْ لَا يَطْرَأُ عَلَيْهِ نَسْخٌ ، وَأُلْحِقَ بِالْمَطَرِ الثَّلْجُ وَالْبَرَدُ.

Menjama’ malam (shalat maghrib dan isya’) merupakan Sunnah yang sudah lama, dasar dan hakiki. Sungguh Rasulullah n dan para khalifah radhiyallahu ‘anhum telah mengerjakankannya dan amalan mereka tidak menghapusnya (menjama’ shalat maghrib dan isya’). (al-Fawakihu ad-Diwani ‘ala Risalati ibnu Abi Zaid al-Qirwani, Ibnu Abi Zaid al-Qirawani , 3/ 29)

baca juga: Shalat Rawatib Setelah Shalat Jama’

TIDAK DIPERBOLEHKAN MENJAMA’ SHALAT KARENA HUJAN

Al-Kasani al-Hanafi (578 H) memiliki penjelasan yang berbeda dengan pendapat-pendapat diatas, beliau menjelaskan,

قَالَ أَصْحَابُنَا: إِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْجَمْعُ بَيْنَ فَرِضَيْنِ فِيْ وَقْتِ أَحَدِهِمَا ، إِلَّا بِعَرَفَةَ والمُزْدَلِفَةِ ؛ فَيَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِيْ وَقْتِ الظُّهْرِ بِعَرَفَةَ، وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِيْ وَقْتِ الْعِشَاءِ بمُزْدَلِفَةِ، اِتَّفَقَ عَلَيْهِ رَوَاةُ نُسُكِ رَسُوْلِ الله – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ فَعَلَهُ، وَلَا يَجُوْزُ الْجَمْعُ بِعُذْرِ السَّفَرِ وَالْمَطَرِ.

Madzhab kami perpendapat: sesungguhnya tidak diperbolehkan menjama’ antara dua shalat fardhu di salah satu waktu dari keduanya, kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Maka menjama’ shalat antara shalat dhuhur dan asar di Arafah dan menjama’ anatara shalat maghrib dan isya’ di waktu shalat isya’ ketika di Muzdalifah. Telah sepakat atas perkara ini riwayat ibadah Rasulullah n bahwa beliau mengerjakannya. Tidak diperbolehkan menjama’ shalat dikarenakan bepergian dan hujan.” (Badai’ ash-Shanai’ fi Tartibi asy-Syarai’, Abu Bakar Mas’ud bin Ahmad bin Alauddin al-Kasani, 1/ 126)

 

%d bloggers like this: