I’tikaf di Bulan Ramdhan

I’tikaf Ramadhan

أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” (QS. al-Baqarah: 125)

Ramadhan adalah bulan yang mendapatkan limpahkan keutamaan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itulah, banyak amalan-amalan ibadah dengan pahala berlipat yang dapat kita raih di bulan ini. Di antara amalan ibadah yang bisa kita kerjakan di bulan tersebut adalah i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ibadah ‘itikaf adalah menetap dan tinggal di dalam masjid dalam rangka melaksanakan ketaatatan kepada Allah disertai niat yang khusus, (al-Kafi fi fiqhi al-Imam Ahmad, 1/37).

Syariat I’tikaf

I’tikaf disyariatkan berdasarkan nash al-Qur’an dan as-Sunnah, atsar sahabat, serta ijma’ kaum Muslimin. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.(QS. al-Baqarah: 187).

Adapun dalil dari as-Sunnah adalah hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. al-Bukhari, no. 1903).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri disebutkan bahwa Nabi pernah i’tikaf pada sepuluh awal bulan Ramadhan, kemudian mencari Lailatul Qadar pada pertengahannya. Selanjutnya, beliau memberitahukan bahwa Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan. Kemudian, beliau melanjutkan i’tikaf pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan serta menganjurkan para sahabat untuk mengerjakan i’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari, no. 1887).

Waktu I’tikaf

Bagi orang yang akan melaksanakan i’tikaf, hendaknya masuk ke tempat i’tikafnya setelah shalat Subuh pada hari ke-21 pada bulan Ramadhan, demikian pendapat Imam al-Auza’i, al-Laits, Sufyan ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal dalam salah satu riwayatnya, dan Ishaq bin Ibrahim. (Fathul Bari, 4/ 348 dan al-Mughni, 3/ 210).

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam apabila ingin melaksanakan i’tikaf, beliau shalat Subuh kemudian masuk ke tempat I’tikaf beliau.” (HR. Muslim, no. 1173).

Pendapat ulama lain menyebutkan bahwa bagi orang yang akan melaksanakan i’tikaf, hendaknya masuk ke tempat i’tikafnya sebelum terbenamnya matahari pada hari ke-21 pada bulan Ramadhan. Pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali, (al-Mughni, 3/ 211 dan Syarh Shahih Muslim, 8/ 68).

Adapun waktu keluar dari tempat i’tikaf adalah setelah munculnya hilal Syawal, atau akhir bulan Ramadhan. Disunnahkan baginya untuk bermalam di tempat i’tikaf pada malam Idul Fitri, (Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab, 6/ 469 dan al-Mughni, 3/ 312).

Tempat I’tikaf

Telah disebutkan bahwa masjid menjadi syarat sah bagi i’tikaf. Dengan kata lain, i’tikaf tidak sah jika tidak dikerjakan di dalam masjid. Hal ini telah menjadi ijma’. Berdasarkan  firman Allah Ta’ala:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. al-Baqarah: 187).

Imam al-Qurthubi mengatakan, “Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa i’tikaf itu hanya dapat (sah) dilakukan di dalam masjid,” (Tafsir al-Qurthubi, 2/333). Ibnu Qudamah dalam al-Mughni mengatakan, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini,” (al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/ 122). Ibnu Rusyd juga mengatakan hal yang sama, “Para ulama telah sepakat bahwa i’tikaf harus di masjid, sedangkan pendapat yang menyelisihi ini adalah pendapat Muhammad bin Umar bin Lubabah yang membolehkan i’tikaf di setiap tempat, tapi ini adalah pendapat yang lemah,” (Bidayah al-Mujtahid, 1/ 261).

Jadi, tidak sah bagi seseorang yang menjalankan i’tikaf kecuali di masjid yang didirikan shalat jama’ah di dalamnya, sehingga dia tidak ketinggalan shalat berjama’ah, kecuali jika dia termasuk orang yang mendapatkan udzur. Jika dia termasuk orang yang mendapatkan udzur, yang berarti tidak memiliki kewajiban untuk mengerjakan shalat berjama’ah, maka dia boleh mengerjakan i’tikaf di masjid (mushala), walaupun tidak ditegakkan shalat jama’ah di dalamnya. Bagi kaum wanita, masjid juga menjadi syarat bagi pelaksanaan i’tikaf. Hanya saja, dia boleh mengerjakan i’tikaf di masjid yang di dalamnya tidak didirikan shalat jama’ah. Ini juga menjadi pendapat imam Malik. Salah satu riwayat dari imam Malik, menambahkan syarat bahwa masjid tersebut juga diadakan shalat Jum’at di dalamnya, (Ibid, 1/260.).

I’tikaf Bagi Wanita

Wanita juga diperbolehkan untuk i’tikaf sebagaimana laki-laki, hal ini berdasarkan hadist dari Aisyah, ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun i’tikaf setelah kepergian (wafatnya) beliau.” (HR. Muslim, no. 369, Tirmidzi, no. 47).

Namun, kebolehan i’tikaf wanita di masjid harus memenuhi dua syarat, yaitu meminta izin suami dan tidak menimbulkan fitnah (godaan bagi laki-laki) sehingga wanita yang i’tikaf harus benar-benar menutup aurat dengan sempurna serta tidak memakai parfum, (Shahih Fiqh Sunnah, 2/151-152.).

Menurut Imam Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri, diperbolehkan bagi seorang wanita melaksanakan i’tikaf di masjid rumahnya, yaitu tempat yang ia gunakan sebagai masjid bagi dirinya ketika menunaikan shalat wajib lima waktu. Sebab, bagi seorang wanita, shalat di masjid rumahnya lebih utama daripada di masjid kampungnya. Akan tetapi, tidak diperbolehkan baginya untuk melaksanakan i’tikaf di dalam rumahnya, karena rumahnya bukan dikatakan sebagai masjid, (al-Mughni, 3/ 129, dan al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 6/ 484).

Ini berbeda dengan pendapat jumhur yang menyatakan bahwa i’tikaf wanita di masjid rumahnya tidaklah sah, (Fikih Sunnah, 1/ 477).

baca juga: IRONI RAMADHAN

Apabila seorang wanita melaksanakan i’tikaf di masjid, disunnahkan baginya untuk membuat tabir yang menutupi tempat i’tikaf, sebagaimana yang dilakukan oleh istri-istri Nabi. Sebab, masjid adalah tempat yang dihadiri oleh kaum laki-laki, sehingga satu hal yang paling baik bagi laki-laki dan perempuan untuk tidak saling melihat di antara mereka, dan hendaknya memilih tempat i’tikaf yang sekiranya tidak dipakai orang lain untuk melaksanakan shalat, supaya tidak menjadikan shaf shalat terputus atau menyulitkan, (al-Mughni, 3/ 191).

Wallahu a’lam bish shawab

# I’tikaf ramadhan # I’tikaf ramadhan # I’tikaf ramadhan # I’tikaf ramadhan # I’tikaf ramadhan # I’tikaf ramadhan #

%d bloggers like this: