Isyarat Orang Bisu Sama dengan Ucapannya

orang bisu

اَلْاِشَارَةُ الْمَعْهُوْدَةُ لِلْأَخَرَسِ كَالْبَيَانِ بِاللِّسَانِ

Isyarat yang dapat dimengerti dari orang bisu seperti penjelasan lisan(nya)

Islam memperlakukan secara adil setiap manusia; siapa pun mereka. Baik terhadap manusia yang sehat rohani dan seluruh panca inderanya, maupun kepada orang yang bisu. ‘Keistimewaan’ paling menonjol orang bisu dibanding manusia lainnya yaitu dalam mengungkapkan kehendak dan keinginannya melalui lisan. Pada umumnya, muamalah, interaksi, dan transaksi antar sesama manusia dilakukan melalui ucapan lisan. Lantaran orang bisu memiliki ‘keistimewaan’ dalam hal itu, maka adalah suatu ketidakadilan manakala mengharuskan muamalah, interkasi dan transaksi mereka dengan manusia lainnya juga dengan lisan.

Memang, jika seandainya orang bisu bisa menulis, maka tulisannya dapat mewakili ucapan lisannya. Akan tetapi, bagaimana jika ternyata orang bisu tadi tidak mampu baca-tulis? Satu-satunya cara untuk memperlakukannya secara adil yaitu dengan dengan mengakomodir isyarat yang dilakukan dengan anggota tubuhnya. Ini karena—baik tulisan maupun isyarat—keduanya pada umumnya digunakan untuk menunjukkan suatu keinginan atau tujuan. Selain itu, tujuan keduanya adalah untuk memahamkan lawan bicara terhadap keinginan mereka. Dan ketika kedua cara tersebut bisa memahamkan, maka secara otomatis ia dapat diterima sebagai salah satu metode bermuamalah, berinteraksi, dan bertransaksi.

MAKNA KAIDAH

Dalam bahasa Arab, Isyarat (الاشارة)—yang juga diadopsi dalam Bahasa Indonesia menjadi isyarat—adalah setiap sesuatu yang digunakan untuk menyatakan suatu keinginan atau kehendak dengan menggunakan gerakan anggota tubuh; sebagai pengganti ucapan lisan. (Muhammad Qal’aji dan Hamid Qunaibi, Mu’jam Lughatul Fuqaha`, h. 68.] Pengertian ini mirip dengan arti isyarat dalam Bahasa Indonesia, yaitu segala sesuatu (bisa berupa gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya) yang dipakai sebagai tanda atau alamat.

Sementara Ma’hudah (المعهودة) merupakan isim maf’ul dari ‘ahida-ya’hadu (عهد-يعهد) yang berarti mengetahui atau mengetahui. Jadi Ma’hudah berarti ‘yang diketahui atau dimengerti’ dari gerakan yang biasa dilakuan orang bisu untuk menyatakan maksudnya (Ahmad bin Muhammad az-Zarqa, Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, h. 351). Seperti menganggukkan kepala untuk mengungkapkan persetujuan atau untuk mengatakan ‘ya’. Sebaliknya, dengan menggelengkan kepada untuk menyatakan ketidaksetujuan atau untuk mengatakan ‘tidak’. Sementara jika isyarat tersebut khusus, maka perlu diperjelas maksud dari isyarat tersebut. Baik berupa penjelasan yang lebih dari orang bisu itu sendiri, atau dari orang terdekatnya yang mengetahui maksud dari isyarat tersebut (Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, h. 303-304).

Sedangkan yang dimaksud orang bisu atau tunawicara (akhras) di sini yaitu orang yang tidak mampu berbicara dengan lisannya. Baik bisu yang diderita sejak dari kecil (biasanya disertai tuli), ataupun sebelumnya bisa berbicara lalu kemudian menderita bisu (Shalih bin Ghanim as-Sadlan, Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, h. 478). Juga tidak disyaratkan di sini orang bisu tersebut tidak bisa baca-tulis (Al-Burnu, Al-Wajiz …, h. 302).

Dari penjelasan di atas dapat diringkas bahwa maksud kaidah di atas yaitu, isyarat yang bisa dimengerti dari orang yang bisu; yakni dengan menggunakan anggota tubuhnya—seperti gerakan kepala, tangan, pundak, kelopak mata, dan sebagainya, dianggap dan dihukumi sebagaimana ucapan atau keterangan lisannya (Az-Zarqa, Syarhul Qawa’id …, h. 151). Hal ini berlaku baik dalam muamalah, interaksi, dan transaksinya dengan sesama manusia, maupun dalam hubungannya dengan Allah subhanahu wata’ala, yaitu ranah ibadah.

DALIL KAIDAH

Dalil bahwa isyarat orang bisu bisa diterima dapat ditemukan dalam al-Quran maupun Sunnah. Dalam al-Quran seperti terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’ala, “(Zakaria) berkata, ‘Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung).’ Allah berfirman, ‘Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.’ Sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah di waktu sore dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41).

Mengomentari ayat di atas, al-Qurthubi menulis, “Ayat ini merupakan dalil bahwa isyarat bisa menempati posisi (sebagai pengganti) ucapan.” (Tafsir al-Qurthubi, vol. IV, h. 81).

Adapun dalam Sunnah, seperti sabda Rasulullah ﷺ,

أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ العَيْنِ، وَلاَ بِحُزْنِ القَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ

Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengazab lantaran tetesan air mata, dan (tidak juga) karena hati yang bersedih. Namun (Dia) akan mengazab disebabkan ini—lalu beliau menunjuk lidahnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1304).g

Ibnu Bathal menyebutkan bahwa jumhur ahli fikih berpendapat bahwa jika suatu isyarat bisa memahamkan maka ia menempati posisi (sebagai pengganti) ucapan (lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, vol. IX, h. 438).

APLIKASI KAIDAH

Di antara aplikasi kaidah di atas dalam persoalan-persoalan fikih, yaitu:

Jika seorang wali menikahkan anak perempuannya dengan seorang bisu, lalu setelah ijab diucapkannya kemudian diikuti oleh anggukan kepala dari calon pengantin laki-laki yang menandakan persetujuannya, maka akad nikah tersebut dihukumi sah.

Jika seorang istri bertanya kepada suaminya yang menderita bisu, “Apakah kamu mentalak saya?”, kemudian suami tersebut menganggukkan kepada sebagai tanda ‘ya’, maka jatuhlah talak. Sebaliknya, jika suami tadi menggelengkan kepadanya sebagai tanda ‘tidak’, maka tidak jatuh talak. Sebagian ulama mensyaratkan adanya suatu suara dari orang bisu agar talak darinya terjadi.

Orang bisu juga sah sumpahnya dengan menggunakan isyarat di majelis persidangan. Caranya yaitu dengan pernyataan yang diajukan hakim kepadanya, seperti, “Anda bersumpah atas nama Allah bahwa jika ini dan itu ….” kemudian ia menganggukkan kepalanya yang menandakan ‘ya‘, maka secara otomatis ia dianggap telah bersumpah.

Pengakuan (iqrar) orang bisu juga bisa diterima. Seperti jika ditanyakan kepada orang bisu, “Apakah Anda mempunyai hutang kepada Fulan sekian rupiah?” lalu manakala ia menganggukkan kepala, maka pengakuan itu berlaku.

PENGECUALIAN

Namun demikian, kaidah di atas tidaklah berlaku untuk seluruh persoalan. Ada beberapa pengecualian dari kaidah tersebut yang disebutkan oleh ahli fikih. Di antaranya yaitu isyarat orang bisu dalam ranah hudud (hukum pidana) yang khusus berkaitan dengan hak Allah (seperti kasus pencurian, tuduhan zina, dan perzinaan) dan persaksian.

Dalam ranah hudud dan uqubat (hukuman-hukuman atas tindakan kriminal) isyarat orang bisu tidak bisa diterima lantaran adanya kaidah hudud tudra`u bisy-syubuhat (vonis hudud dianulir manakala terdapat syubuhat dalam proses pembuktian). Sementara persaksian yang mengharuskan untuk melafalkan ‘persaksian’ tidak dapat terpenuhi olehnya (Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz fi fi Syarhil Qawa’id al-Fiqhiyyah fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah, h. 206.) [-]

Referensi:

Ahmad bin Muhammad az-Zarqa. 1409 H/1989 M. Syarhul Qawaa’id al-Fiqhiyyah. Damaskus: Darul Qalam

Muhammad Mushthafa az-Zuhaili. 1427 H/ 2006 M. al-Qawa’id al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatiha fil Madzahib al-Arba’ah. Damaskus: Darul Fikr.

Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu. 1404 H/ 1983 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Shalih bin Ghanim as-Sadlan. 1417H. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. Riyadh: Dar Balansiyyah

 

Oleh: Ali Shodiqin

 

 

 

 

%d bloggers like this: