MURABAHAH (Cost Plus Financing)

Istilah murabahah

Istilah murabahah terasa tak asing lagi di telinga kita. Model transaksi ini banyak dipakai oleh lembaga keuangan syariah sebagai sumber pembiayaan. Sebab memiliki prospek keuntungan yang cukup menjanjikan.

Namun, sebagai salah satu model transaksi jual beli, tentunya ada beberapa ketentuan syar’i yang semestinya diperhatikan dalam transaksi jenis ini.

DEFINISI

Istilah murabahah berasal dari kata ar-ribhu (ُحْبِالر), yang berarti kelebihan dan keuntungan di dalam perniagaan (Ibnu Mandhur, Lisanul Arab, (Beirut: Dar Shadir, Cet-3, 1414 H), 2/442).

Murabahah berarti mewujudkan tambahan atau keuntungan. Disebut dengan murabahah, jika dalam pembelian atau penjualan diungkapkan besaran keuntungan yang didapat (Abu Nashr Al-Jauhari AlFarabi, Ash-Shahah Tajul Lughah wa Shahah Al-Arabiyah, Tahqiq: Ahmad Abdul Ghafur, Beirut: Darul Ilmi, Cet-4, 1407 H), 1/363.)

Sedangkan definisi secara syar’i, para ulama mendefinisikannya dengan ungkapan yang berbeda-beda.
Menurut mazhab Hanafi, murabahah adalah transaksi jual beli berdasarkan pada harga pertama (harga beli) dengan disertai keuntungan. (Al-Kassani al-Hanafi, Badaius Shanai’ Fi tartibi asy-Syarai’, (Dar Kutub alIlmiyah, Cet-2, 1406 H), 5/220)

Menurut mazhab Maliki, murabahah adalah transaksi jual beli di mana penjual menyebutkan harga pembelian kepada pembeli, disertai dengan syarat keuntungan tertentu dengan dinar atau dirham (Ibnu Rusyd al-Maliki, Bidayatul Mujtahid wa nihayatul Muqtashid, (Mesir, cet-4, 1395 H), 2/213).

Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, murabahah adalah transaksi di mana harga kedua (jual) dibentuk berdasarkan harga pertama (beli) atas dasar amanah dengan penambahan (keuntungan) yang dimasukkan kedalamnya (Muhyius Sunnah al-Baghawi As-Syafii, At-Tahdzib fil Fiqh al Imam asy-Syafi’i, Tahqiq: Adil Abdul Maujud dan Ali Muawwidh, (Dar Kutub al-Ilmiyah, Cet-1, 1418 H), 3/480).

Selanjutnya menurut mazhab Hambali, murabahah adalah transaksi jual beli pada pokok harta (modal) dan keuntungan yang diketahui (oleh penjual dan pembeli).” (Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni, (Versi Syamela), 4/136)

Adapun Ilustrasi transaksi murabahah, seperti halnya seorang penjual mengatakan, “Modal saya atau saya beli dengan harga seratus ribu rupiah, dan saya jual kepada anda dengan keuntungan sepuluh ribu rupiah”.

Dari beberapa definisi di atas dapat diambil suatu pengertian, bahwa murabahah adalah Jual  beli barang yang dimiliki berdasarkan harga beli (modal) dengan penambahan keuntungan tertentu. Baik ditentukan berdasarkan harga modal, seperti 10% atau nominal tertentu, atau berupa benda milik pembeli (Musthafa Zarqa, Aqdul Bai’, Damaskus: Darul Qalam, Cet-2, 1433 H), 88).

Perlu diperhatikan juga, bahwa murabahah yang dipahami oleh para ulama terdahulu adalah jual beli yang berdasar pada amanah, dengan menyampaikan harga awal pembelian. Ditambah dengan keuntungan yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

DASAR HUKUM

Transaksi jual beli sistem murabahah diperbolehkan secara syar’i. Sebagaimana disepakati oleh mayoritas ulama dari shahabat, tabi’in dan para imam mazhab. Di antara dalil yang menunjukkan kebolehannya adalah dalil umum dari firman Allah n tentang bolehnya jual beli, yaitu surat al-Baqarah ayat 275 dan an-Nisa ayat 29.

Selain itu, berdasar kepada terpenuhinya syarat-syarat pada sistem jual beli seperti ini, yaitu adanya kerelaan dan kejelasan harga serta barang. Dan transaksi seperti ini sesuai dengan kebutuhan manusia, sebab ada beberapa orang yang tidak tahu menahu soal harga, sehingga dengan transaksi ini ia dapat mengetahui harga sebenarnya berikut dengan keuntungan yang diberikan. (Wizarah Auqaf Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah alKuwaitiyah, (Kuwait: Dar Salasil, Cet-2, 1427 H), 36/319).

(baca juga: Sulitnya Menghindari Debu Riba)

 

SYARAT MURABAHAH

Agar transaksi murabahah berjalan sesuai ketentuan syar’i, para ulama menetapkan beberapa syarat.

Pertama, pembeli mengetahui harga beli pertama atau modal, sebab murabahah termasuk di antara jenis jual beli amanah, yang berdasar atas harga pembelian.

Kedua, nominal keuntungan diketahui oleh kedua pelaku transaksi. Sebab ia merupakan bagian dari harga.

Ketiga, Harga pertama atau modal adalah objek yang mudah dicari padanannya yang semisal. Sehingga apabila sulit dicari padanannya seperti permata, barang antik dan semisalnya, maka transaksi murabahah tidak bisa dilanjutkan. Sebab, penentuan harga kedua serta keuntungannya tidak dapat dipastikan dengan jelas.

Keempat, hendaknya transaksi yang pertama adalah transaksi yang sah. Jika transaksi pertama rusak, murabahah tidak dapat diberlakukan. Sebab murabahah berdasar pada harga pertama ditambah keuntungan. Sementara transaksi yang rusak kepemilikan berdasar pada nilainya, bukan harganya.

Kelima, murabahah tidak terjadi antar komoditi ribawi seperti beras dengan beras, uang dengan uang atau uang dengan emas. Baik itu berupa riba fadhl atau riba nasiah. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Damaskus: Darul Fikr, Cet-4, TT), 5/423-424)

Selain itu, hendaknya tidak mengandung praktek ribawi. Maksudnya adalah sebagaimana dalam murabahah lil amir bi syira yang berpotensi terjadi riba.

 

MURABAHAH LIL AMIR BI SYIRA

Perlu diketahui, bahwasanya praktek murabahah yang dipraktekkan oleh banyak lembaga keuangan saat ini, bukan sepenuhnya murabahah seperti dalam penjelasan sebelumnya. Namun ada istilah lain untuk transaksi tersebut, yaitu murabahah lil amir bi syira atau murabahah kepada pemesanan pembelian.

Ilustrasinya, misalkan ada orang hendak membeli barang, namun ia tidak memiliki dana cukup untuk membayar kontan nilai barang yang ingin dibeli. Lalu mengajukan permohonan kepada lembaga keuangan. Kemudian, lembaga keuangan membeli barang yang dia inginkan dengan kontan dan menjualnya kepada pemohon secara kredit dengan harga yang lebih tinggi (Ibid, 5/429).

Ada perbedaan ilustrasi pada murabahah dan murabahah lil amir bis syira. Di antaranya adalah pada murabahah hanya melibatkan 2 pelaku transaksi, sementara murabahah lil amir bis syira melibatkan 3 pelaku transaksi. Maka tentunya ada perbedaan ketentuan disana.

AGAR SESUAI SYAR’I

Model transaksi murabahah lil amir bi syira sudah ada sejak dahulu. Sebagaimana dipaparkan oleh Imam asy-Syafi’i, beliau menjelaskan bahwa apabila seseorang menunjukkan kepada orang lain satu barang seraya berkata, “Belilah itu, dan saya akan berikan keuntungan padamu.” lalu ia membelinya, maka jual belinya dibolehkan.

Dan yang mengatakan “Saya akan memberikan keuntungan kepadamu memiliki hak pilih (khiyâr)” apabila ia ingin, maka ia akan melakukan jual-beli; dan bila tidak, maka ia akan tinggalkan. (Imam Asy-Syafi’i, Al-Umm, (Beirut: Darul Ma’rifah, 1410 H), 3/39)

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa janji yang disampaikan calon pembeli bukanlah janji yang mengikat. Sebab dia masih memiliki hak khiyar; untuk meneruskan transaksi yang dilakukan atau tidak. Apabila janji itu mengikat, maka janji itu beralih menjadi transaksi. Sehingga melanggar larangan syar’i, yaitu menjual sesuatu yang belum dimiliki.

Selain itu di saat pemohon datang meminta untuk dibelikan sesuatu, tidak boleh ada kesepakatan harga antara penjual dan pembeli. Sebab, di saat itu posisi pembeli seakan menjadi orang yang berhutang. Dan keuntungan atau selisih harga adalah riba. Karena tambahan dalam pengembalian hutang adalah riba. (Ash-Shawi al-Maliki, Bulghatus Salik li Aqrabil masalik, (Darul Ma’rifah, TT), 3/129). Wallahu A’lam []

%d bloggers like this: