Istighfar, Agar Tak Diadzab

Istighfar Agar Tak Diadzab

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى، وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (الأنفال: 25)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ القُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (هود : 117)

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (القصص: 59)

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi, juga kepada saudara-saudaraku Ikhwani fiddin arsyadakumullah untuk senantiasa mengisi sisa-sisa usia kita dengan memperbanyak istighfar kepada Allah. Rasulullah senantiasa beristighfar 70 kali dalam sehari. Bahkan dalam satu riwayat disebutkan, istighfar itu dilakukan sebagaimana terdapat dalam sebuah ayat, “…wal mustaghfirina bil ashar…,”  “…yaitu orang-orang yang beristighfar kepada Allah di waktu sahur…” (QS. Ali Imran: 17). Maknanya, orang yang dimaksud sudah bangun sebelum dikumandangkan adzan shubuh.

Dalam ayat yang lain, “wa bil ashari hum yastaghfirun,” Rasulullah diingatkan oleh Allah bahwa penghuni jannah adalah orang-orang yang semasa hidupnya sedikit menggunakan waktu malam untuk tidur. Dan di waktu sahur, mereka beristighfar kepada Allah.

Seorang laki-laki datang menghadap ulama besar di zaman tabi’in, al-Hasan al-Bashri. Dia seorang petani yang mengeluh atas kegagalan panen di kebunnya. Setelah ia menyampaikan keluhannya, apa kata ulama tersebut? “Perbanyaklah istighfar kepada Allah”. Orang tadi termangu mendengar jawaban singkat sang ulama. Barangkali dalam pikiran dia, jawaban tersebut tidak ada hubungannya dengan yang ia hadapi.

Lalu, datang tamu yang kedua sementara tamu pertama belum meninggalkan rumah beliau. Tamu yang kedua mengadukan tentang kondisi dirinya yang miskin. Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dipenuhi dengan jerih payahnya dalam bekerja. Ternyata, jawaban beliau sama dengan jawaban yang dilotarkan kepada tamu pertama, “Istaghfirillah, akuilah kesalahan-kesalahanmu, mintalah ampun kepada Allah, dan berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi.”

Tidak puas dengan jawaban al-Hasan al-Bashri yang tidak memenuhi nilai-nilai ilmiah sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah, lalu datang lagi tamu ketiga. Ia meminta kepada al-Hasan al-Bashri agar didoakan agar Allah mengaruniakan keturunan. Dan ternyata, jawaban beliau sama dengan jawaban tamu pertama dan kedua, “Istaghfirillah”.

Akhirnya tamu yang ke tiga juga belum puas dengan jawaban al-Hasan, hingga datang tamu yang keempat. Ia mengadu kenapa ladang yang ia miliki tidak mendapatkan pengairan dari langit hingga membuat gagal panen. Al-Hasan menjawab, “Istaghfirillah.”

Ketika keempat tamu tersebut mendapatkan jawaban yang sama dari al-Hasan al-Bashri, mereka sama-sama menampakkan wajah ketidakpuasan. Lalu, apa kata al-Hasan? “Yang saya ucapkan tadi bukanlah jawaban ngawur. Tetapi betul-betul saya landaskan pada firman Allah yang tercantum dalam surat Nuh ayat 10,11, dan 12. Dalam ayat tersebut Nabi Nuh berkata kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا()يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ()وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Ayat di atas mengingatkan kepada kita agar tidak terlalu optimis dalam mengandalkan logika. Sebab, terkadang ada sesuatu yang mungkin sulit diterima oleh akal, ditambah lagi tidak terbiasa akrab dengan ibadah, dan tidak terbiasa akrab mempelajari kandungan al-Qur’an. “Masalah gagal panen kalian bisa diselesaikan dengan istighfar, kefakiran kalian bisa diselesaikan dengan istighfar, pernikahan kalian yang sudah berjalan beberapa tahun dan belum muncul tanda-tanda Allah akan mengaruniakan seorang anak bisa diselesaikan dengan istighfar. Bahkan, kemarau panjang pun bisa diselesaikan dengan istighfar.

Istighfar akan memberikan kedamaian kepada setiap warga yang mengakui kerendahan dan banyaknya dosa yang ia lakukan. Setiap warga yang seperti ini, melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi Nuh as, diwasiatkan oleh al-Hasan al-Bashri, kampung mereka, tempat tinggal mereka, bahkan negara mereka akan menjadi sebuah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allah berfirman dalam surat al-A’raf: 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

Persyaratannya itu saja, beriman dan bertaqwa. Meskipun di negeri itu tidak ada doktor yang ahli di bidang pertanian. Meskipun di negeri itu tidak ada doktor di bidang peternakan. Syaratnya hanya dua; beriman dan bertakwa, maka Allah akan bukakan untuk mereka barakah dari langit dan bumi.

Langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman. Dari sanalah kehidupan akan tampak. Dari sanalah kebutuhan yang dibutuhkan untuk kepentingan jasmani manusia akan dipenuhi oleh Allah swt.

Apalagi, di penduduk negeri tersebut banyak yang ahli di bidang pertanian, peternakan, kelautan, pengobatan, maka baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan diberikan Allah kepada mereka. Di satu sisi mereka beristighfar, di satu sisi negeri mereka dihuni oleh warga negara yang baik. Warga negara yang baik adalah warga yang shalih-shalihah, mukmin-mukminah, muslim-muslimah, maka Allah akan membuka pintu barakah bagi mereka dari langit maupun dari bumi.

Khutbah Kedua

Pada khutbah yang pertama saya bacakan firman Allah swt yang tercantum dalam surat Hud ayat 117, tidaklah Rabb kalian akan membinasakan penduduk negeri-negeri secara zhalim dengan beraneka ragam bencana: gunung meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi, Tsunami, sementara penduduknya adalah orang-orang shalih yang senantiasa berbuat baik dan taat kepada Allah.

Di dalam surat al-Qashash: 59 diterangkan bahwa Allah tidak akan menghancurkan kota-kota kecuali apabila penduduk mereka berbuat zhalim. Musibah yang datang secara bertubi-tubi, bencana pertama datang dan belum teratasi, lalu datang musibah yang lain, lalu disusul musibah yang lain lagi. Allah tidak akan mengancurkan negeri-negeri secara zhalim jika penduduknya adalah orang-orang yang berbuat baik menurut ketentuan Allah.

Apa yang kita lihat, apa yang kita alami akhir-akhir ini mestinya menyadarkan kita semua bahwa diri kita terlalu jauh dari Allah dan tidak adanya amar ma’ruf-nahi munkar di tengah-tengah kita.

Kita lebih senang diam apabila ada orang melakukan kemunkaran. Kita lebih senang pura-pura tidak tahu apabila ada undang-undang syariat Allah yang secara jelas secara demonstratif dilakukan di depan orang banyak, hanya karena alasan daripada nanti timbul banyak salah paham, putus hubungan silaturrahim, “sudahlah, saya akan diam. Pokoknya saya tidak akan melakukan, orang lain silahkan, yang penting saya tidak ikut-ikutan.” Padahal, hal ini menjadi prinsip bagi setiap muslim, Amar ma’ruf nahi munkar.

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfal: 25)

Orang yang zhalim disiksa Allah karena kezhaliman mereka, sementara orang yang alim juga disiksa Allah karena mereka diam tidak mau amar ma’ruf nahyi munkar. Seperti penumpang kapal yang sebagian di atas dan sebagian di bawah. Yang di bawah, apabila ingin mencari air maka ia harus ke atas, tapi ia tidak mau dan lebih memilih melubangi sisi kapal, akhirnya seluruh isi kapal ikut tenggelam lantaran yang berada di atas tidak mau menegur yang melubangi sisi kapal di bawah.

%d bloggers like this: