Investasi fi sabilillah

Investasi fi sabilillah

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَ الصِّدِيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ حَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.

الَلّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيِتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ، وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آل مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه أوْصِيْكُمْ وَ إِيَّايَا نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ وَ تَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقوَى، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاءَنِ الْكَرِيْم: {إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

وَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ:مَنْ قُتِلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُوْنَ دَمِّهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ (رواه أحمد وغيره بهذا اللفظ(

Saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada ikhwan fiddin arsyadakumullah, marilah kita bersama-sama manfaatkan sisa usia yang kita tidak tahu kapan usia ini berakhir, dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Antara lain dengan apa yang pernah saya sampaikan dari atas mimbar ini satu bulan yang lalu, bahwa sejak kita berikrar dengan dua kalimat syahadat. Maka, sejak saat itu pada hakikatnya kita sudah tidak memiliki apapun.

Kepada orang lain kita bisa mengatakan, “Ini tanganku, ini mataku, ini telingaku.” Tapi ingat, semua itu adalah pemberian Allah. Tidak ada seorang pun yang membuat. Kemudian Allah swt membeli semua itu dengan Jannah.

Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman. Kepada orang lain kita bisa mengatakan, “Ini rumahku, perabot di dalamnya aku beli dengan uangku, di garasi ada mobilku, di depanku ada perusahaan milikku, ada kebun cengkehku, ada kebun sawitku, ada tambak udangku, ada tambak bandengku, dan seterusnya”. Secara tegas kita katakan seperti itu kepada orang lain. Tapi, di hadapan Allah kita tundukkan kepala kita. Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: 53)

“Tidak ada satu nikmatpun yang ada pada dirimu kecuali itu dari Allah”.

Kepandaian kita, kecerdasan kita, kepiawaian kita dalam mencari uang, semuanya menjadi tidak ada artinya sama sekali. Allah berfirman:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ.  نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ. (المؤمنون: 55-56)

“Apakah mereka menyangka bahwa apa yang Kami ulurkan kepada mereka, baik harta atau pun anak keturunan. Bahwa itu adalah suatu anugerah kebaikan yang Kami beri­kan dengan segera? Bukan begitu! Bahkan mereka tidak sadar.”

Karunia yang berupa harta yang berlimpah, kekayaan yang siapa saja akan iri ketika menyaksikannya, itu semua merupakan bukti kasih sayang Allah kepada kita.

Ketika berhasil mengumpulkan harta, berhasil mendidik anak menjadi manusia yang mempunyai pangkat dan gelar yang tinggi, manusia merasa itu adalah anugerah kebaikan dari Allah. Namun mereka tidak sadar, bahwa itu semua sebagai ujian.

Setiap sen uang, bahkan rupiah, bahkan seratus, seribu, satu juta, bahkan satu milyar, harus dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk memperlancar, bahkan mempercepat perjalanan dia menuju ridha Allah swt.

Ketika Rasulullah saw menggalang dana untuk perang Tabuk dengan pasukan yang berjumlah sekitar 30.000 orang, datanglah Umar bin Khattab dan berkata, “Wahai Rasulullah, separuh harta saya, saya serahkan untuk kepentingan jihad fi sabilillah seperti yang engkau inginkan”. Umar bin Khattab berharap mudah-mudahan menjadi orang yang paling banyak berinfak khusus untuk perang Tabuk.

Kemudian datang Abu Bakar ash-Shidiq. Rasulullah bertanya, “Berapa yang kamu berikan wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Seluruh harta saya”.

Adakah di antara kita yang menginfakkan satu persen harta kita untuk Islam?, atau sepuluh persen? Dua puluh persen? Separuh dari infaknya Umar bin Khattab? 50 persen sama dengan Umar bin Khattab? 100 persen, sama dengan infaknya Abu Bakar ash-Shiddiq?

Ketika dana yang dibutuhkan untuk perang Tabuk belum cukup, Rasulullah mengumpulkan para sahabat di masjid, “Siapa yang mau berinfak?”

“Saya”, jawab Utsman bin Affan, menantu Rasulullah. Dia menyerahkan seratus ekor unta dengan pelananya.

“Ada yang lain?”, Lanjut Rasulullah kedua kalinya. Lalu Ustman bin Affan langsung menjawab, “Saya, Ya Rasulullah”. Seratus ekor unta lengkap dengan pelananya, untuk yang kedua kalinya.

Ketika itu masih belum mencukupi, Rasulullah membuka kesempatan berinfak lagi. Lagi-lagi Utsman bin Affan mengatakan, “Seratus ekor unta yang ketiga, Ya Rasulullah.” “Saya tambah lagi, dengan uang emas berupa uang dinar yang beratnya 4,25 gram sebanyak seribu dinar.

Alangkah sia-sianya harta saya, jika saya investasikan untuk sesuatu yang tak bernilai. Untuk memperbaiki rumah yang belum rusak dan masih kokoh, membeli kendaraaan yang baru, sementara kendaraaan yang lama masih layak dipakai. Mengadakan walimah dengan mengundang tamu samapai menghabiskan biaya puluhan bahkan ratusan juta. Sikap seperti itulah yang membuat harta kita:

هَبَِاءًا مَنْثوْرًا

“Seperti debu yang beterbangan.” Yang sama sekali tidak ada manfaat dan arti yang sebenar-benarnya dalam menuju Allah.

Aquulu qauli hadza…

Khutbah Kedua

Ikhwani fid din arsyadakumullah

Menginvestasikan harta yang ada pada kita, pada hakikatnya adalah ujian yang diberikan Allah kepada kita. Di bidang pendidikan, tentu pendidikan Islam, mendidik anak-anak sejak dari TK, SD, dan kelas-kelas selanjutnya, merupakan sebuah kebutuhan yang sangat vital untuk hari akhirat kelak.

Alhamdulillah, di kota-kota besar, termasuk kota kita, telah berdiri lembaga-lembaga pendidikan sekolah Islam terpadu yang didirikan oleh para dermawan, jutawan, hartawan, dan para milyader muslim. Mereka mendirikan pendidikan yang berkualitas, mereka pilih guru-guru yang berpengalaman, mereka bangun gedung yang megah, bahkan kelas-kelas yang mewah, ber-AC, dan penuh peralatan elektronika yang canggih. Semua itu disediakn untuk mendidik anak-anak muslim sebagai calon rijalul ghad, ‘pemudah hari ini yang akan menjadi pemimpin yang baik di masa datang’.

Sayangnya, tidak semua para da’i, tidak semua para milyader, dan para hartawan ikhlas dalam mendirikan lembaga pendidikan tersebut.

Ketika wali murid mendaftarkan anaknya, matanya terbelalak. Dia membaca banyaknya uang pangkal yang harus ia bayar. SPP ratusan ribu rupiah setiap bulan. Bahkan, hampir menembus satu juta rupiah, bahkan lebih dari itu. Bagi orang tua yang mampu mungkin ini masalah kecil. Namun, ini semua demi pendidikan masa depan anak-anak. Apapun yang dibutuhkan, asal itu untuk masa depan anak, apapun akan dikorbankan.

Sementara sebagian oknum dari para jutawan mendirikan sekolah dengan menggunakan filsafat, “Sambil menyelam, minum air”. Mereka membuka lembaga pendidikan Islam, tapi di satu sisi mereka juga mengeruk uang orang-orang kaya guna menambah penghasilan mereka yang sudah banyak menjadi semakin banyak.

Ikhwani fid din, saudara kita sesama muslim.

Para buruh pasar yang muslim, tukang sapu jalanan yang muslim, tukang parkir yang muslim, pedagang bakso cilok yang muslim, pedagang sayur yang muslim, pengemudi angkot yang muslim, ketika mereka berkeinginan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah unggulan, seluruh anggota tubuh mereka menjadi lemas.

Mereka menggigit jari dan menelan ludah sebagai ekspresi dari kekecewaan mereka, “Ternyata yang boleh menjadi anak-anak pintar di dalam Islam hanya anak orang kaya.” Inikah yang didengung-dengungkan dengan istilah “Islam rahmatan lil ‘Alamin”?

Saya ingatkan kepada orang-orang kaya, para dermawan, para jutawan, bahwa jalan menuju jannah bukan hanya dengan melaksanakan umrah setiap tahun. Bukan dengan mendaftar haji plus untuk ke sekian kalinya. Bukan hanya dengan memeras air mata di pintu Ka’bah.

Seandainya ada seorang dermawan yang mendirikan sebuah TKIT dengan program 2 tahun hafal juz ‘Amma, dia sisakan penghasilannya yang puluhan juta setiap bulan untuk membiayai anak-anak orang miskin, hanya beberapa persen dari penghasilan mereka, dan ini tidak menyebabkan miskin pada diri mereka. Apabila ini dicontoh oleh para muhsinin yang lain, dua orang, tiga orang, empat orang, sebagaimana di timur tengah sana, sekolah gratis itu sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun silam.

Bahkan beberapa tahun silam, ada muhsini dari Timur Tengah mendirikan Ma’had Abu Bakar ash-Shidiq, membiayai para mahasiswa Indonesia yang tidak sebangsa dan setanah air dengan dia. Wallahu a’lam kalau saat ini telah terjadi perubahan, tapi itu pernah terjadi.

Marilah kita berusaha agar setiap apa yang kita usahakan, bisa kembali kepada umat, yang kecil ini. Apalagi yang besar, diganti oleh Allah swt dengan jannah. Karena itu adalah cita-cita kita. Itu adalah manifestasi dari ridha Allah. Itu juga menjadi bukti bahwa kita telah bisa memahami makna dunia di satu sisi, dan memahami makan akhirat di satu sisi. Nilai dunia yang paling besar adalah nilai akhirat yang paling kecil. Dan akhirat yang paling kecil, lebih mahal dari dunia ayang paling besar.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

%d bloggers like this: