Ikhtilaf Seputar Qunut Witir

ikhtilat seputar qunut witir

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ melaksanakan qunut setelah ruku’. (HR. Al-Bukhari)

Shalat Witir merupakan salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ walaupun sedang safar. Di dalam amalan ini terdapat  amalan yang juga dikerjakan yaitu qunut. Kita sering menyebutnya “qunut witir”. Apa hukum qunut yang dikerjakan dalam shalat witir?dan kapan kita mengerjakannya? Berikut penjelasannya.

Hukum Qunut witir

Para ulama berbeda pendapat ketika menjelaskan hukum qunut witir. Pendapat-pendapat mereka yaitu,

Pertama: Hukum qunut witir adalah makruh. Ini pendapat ulama Malikiyah. Hal ini dikarenakan tidak adanya sunnah (contoh dari Rasulullah) dalam hal ini. Yang ada, qunut hanyalah pada shalat Shubuh saat ada peristiwa tertentu. (Mihnah al-Jalil Syarhu ‘Ala Mukhtashar al-‘Alamah Khalil, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad ‘Ulaisy, 1/259)

Kedua: Qunut witir disunnahkan ketika separuh akhir dari bulan Ramadhan saja. Ini pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’iyah, salah satu pendapat Imam Malik, dan Imam Ahmad. Pendapat ini juga pendapat dari Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu ‘Umar.(Ahkamu al-Qunut fi Fiqhi al- Islami, Ismail Syindiy, 267). Asy-Syarbini berkata, “Disunnahkan melaksanakan qunut di rekaat terakhir ketika shalat witir. Qunut juga dikerjakan walaupun witirnya hanya satu rekaat… amalan ini dikerjakan separuh akhir dari bulan Ramadhan.” (Mughni al-Muhtaj, asy-Syarbini, 1/222). Di antara dalil yang menjadi dasar  pendapat ini adalah hadits al-Hasan,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّى لَهُمْ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَلاَ يَقْنُتُ بِهِمْ إِلاَّ فِى النِّصْفِ الْبَاقِى

“Sesungguhnya Umar bin Khattab telah mengumpulkan kaum muslimin dan menunjuk Ubay bin Ka’ab untuk menjadi Imam, ia shalat bersama kaum muslimin selama dua puluh hari. Dan tidaklah ia melaksanakan Qunut bersama mereka kecuali di separuh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud)

Ketiga: Disunnahkan pada bulan Ramadhan saja tidak pada bulan lainnya. Inilah pendapat ulama Malikiyah dan Syafi’iyah. (Al-Majmu’, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, 4/15)

Keempat: Qunut witir disunnahkan untuk dibaca setiap malam sepanjang  tahun. Inilah pendapat Ibnu Mas’ud,  Ibrahim An-Nakha’i, Ishaq, Pendapat ini dianut oleh mazhab Hanafi dan Hambali.

Ibnu Qudamah al-Maqdisiy berkata, “Disunnahkan melaksanakan qunut witir di rekaat terakhir setiap malam sepanjang tahun. Inilah pendapat mazhab kami (Hambali).” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisiy, 1/820). Dan ini salah satu pendapat dari mazhab Syafi’i. (Al-Majmu’, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, 4/15).

BACA JUGA: QUNUT NAZILA DALAM SHALAT JUM’AT

Di antara dalil mereka yaitu, “Al-Hasan bin Ali h berkata, Rasulullah ﷺ mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yang artinya “Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi”. (HR. Abu Daud, An-Nasai dan At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits di atas menunjukkan bahwa doa qunut tersebut dikerjakan di rekaat terakhir pada shalat witir. Sehingga tidak ada pengkhususan qunut witir hanya dikerjakan di bulan Ramadhan atau pertengahan terakhir bulan Ramadhan. (HR. Abu Daud) (Ahkamu al-Qunut fi Fiqhi al- Islami, Ismail Syindiy, 267)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya, “Apa hukum membaca doa qunut setiap malam ketika shalat witir?”

Beliau menjawab: “Hal tersebut tidaklah mengapa. Bahkan amalan ini adalah amalan sunnah. Karena Nabi ﷺ pernah mengajari cucunya al-Hasan bin Ali tentang qunut dalam shalat witir. Al-Hasan tidak diperintahkan untuk meninggalkan dan tidak pula diperintahkan untuk senantiasa mengerjakannya. Maka hal ini menunjukkan kebolehan dua hal tersebut (terkadang tidak mengejakan atau mengerjakan terus-menerus setiap malam sepanjang tahun). Oleh sebab itu, ketika Ubai bin Ka’ab z shalat mengimami para sahabat di masjid Nabi ﷺ, Ia tidak melaksanakan qunut di sebagian malam. Hal ini dilakukan agar kaum muslimin tidak mengira bahwa ini adalah amalan wajib.” (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 30/33)

Mengenai perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini, Ibnu Taimiyah berkata, “Pada hakekatnya, qunut witir adalah sejenis doa yang diperbolehkan dalam shalat. Barang siapa yang mau mengerjakannya, silakan kerjakan. Dan yang tidak mengerjakannya pun dipersilakan. Sebagaimana dalam shalat witir, seseorang boleh memilih tiga, lima, atau tujuh rekaat sesuai keinginannya. Begitu juga ketika ia melakukan witir tiga rekaat, kalau dia ingin melakukannya silahkan. Begitu juga dalam hal qunut witir, ia boleh melakukan atau meninggalkannya sesuai keinginannya. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu sangat baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” (Al-Fatawa al-Kubra, Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 2/144)

Waktu pelaksaan qunut

Para ulama berselisih pendapat mengenai waktu pelaksanaan qunut witir. Dalam masalah ini para ulama terbagi menjadi tiga pendapat, sebagaimana yang dijelaskan oleh DR. Ismail Syindiy dalam bukunya, Ahkamu al-Qunut fi al-Fiqhi al-Islamiy.

Pertama, dilaksanakan sebelum ruku’ setelah membaca surat pendek. Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih mazhab Hanafi, Maliki, dan ini merupakan pendapat Ibnu Suraij dari mazhab Syafi’i.

Pendapat ini diriwayatkan dari Umar, Ali, Ubai bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, al-Bara’ bin ‘Azib, Anas, Umar bin Abdul Aziz, Ubaidah as-Salmani, Humaid ath-Thawil, Ibnu Sirin, ar-Rabi’ bin Khutsaim, Abu Abdurrahman as-Salami, Ishaq, Abdurrahman bin Abi Laila Radhiyallahu ‘anhum. Di antara dalil pendapat ini adalah,

Hadits dari Ubai bin Ka’ab z, ia berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ  melakukan Witir lalu melakukan qunut sebelum ruku`. (HR Ibnu Majah, dan dishahihkan Syaikh al-Albani)

Atsar Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu yang disampaikan Alqamah rahimahullah, ia berkata:

أَنَّ ابْنَ مَسْعُوْدٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن أبي شيبة.

Sungguh, dahulu Ibnu Mas’ud dan para sahabat Nabi ﷺ melakukan qunut dalam Witir sebelum ruku’. (HR Ibnu Abi Syaibah, dan dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil (2/166): “Sanadnya baik dan sesuai syarat Muslim,” setelah itu beliau berkata: “Kesimpulannya, bahwasanya yang shahih benar dari para sahabat ialah qunut sebelum ruku’ dalam Witir”).

Kedua, Dilaksanakan setelah ruku’ sebelum sujud. Pendapat ini adalah yang dipilih oleh para ulama mazhab Syafi’i, Hambali, zhahiri. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar, Utsman, Ali Radhiyallahu ‘anhum.

Imam an-Nawawi berkata, “menurut mazhab kami tempat qunut adalah setelah ruku’.” (Al-Majmu’, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf An-Nawawi, 3/ 475). Di antara dalil yang menjadi dasar pendapat ini adalah,

Dari Abu Hurairah z, bahwasanya Nabi ﷺ melaksanakan qunut setelah ruku’. (HR. Al-Bukhari)

Hadits yang lain, dari Ibnu Sirin, Ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas, apakah Rasulullah ﷺ melaksanakan qunut ketika shalat subuh? Ia menjawab, ‘Iya, beliau melaksanakannya setelah ruku’.’” (HR. Al-Bukhari, Ibnul Hajjaj, Abu Daud dan Thabrani)

Ketiga, boleh memilih dikerjakan sebelum ruku’ atau sesudahnya. Ini adalah pendapat Imam Malik, salah satu pendapat mazhab Syafi’i, yaitu ar-Rafi’i. (Ahkamu al-Qunut fi al-Fiqhi al-Islami, Ismail Syindiy, 279-282) Wallahua’lam [ ]

 

%d bloggers like this: