Ijab Qabul Dalam Zakat

Ijab Qabul Dalam Zakat

Diantara yang banyak dilakukan panitia zakat di negeri kita adalah mewajibkan adanya lafadz ijab-qabul ketika menyerahkannya. Lafadz ijab artinya lafadz yang diucapkan pembayar zakat untuk menegaskan perbuatannya membayar zakat, misalnya berkata, “saya serahkan beras ini sebagai zakat fithrah saya dan keluarga”. Lafadz qabul artinya lafadz yang diucapkan penerima zakat untuk menegaskan bahwa ia telah menerima zakat tersebut, misalnya berkata, “saya terima beras ini sebagai zakat dari bapak”. Bahkan sebagian panitia ada yang berlebihan, sehingga menganggap tidak sah zakat jika tanpa disertai lafadz ijab-qabul. Mari kita lihat penjelasan dari beberapa ulama mengenai hal ini.

Perlu diketaui bahwa zakat adalah bentuk shadaqah yang wajib. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah alKuwaitiyah. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah alKuwaitiyah, 23/ 226)

Al-Hafidz al-Iraqi725)   H/ 1325 M – 806 H/ 1404M), ulama besar madzhab Syafi’i menjelaskan:

فِيهِ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِي كُلٍّ مِنْ الْهَدِيَّةِ وَالصَّدَقَةِ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ بِاللَّفْظِ بَلْ يَكْفِي الْقَبْضُ وَتُمْلَكُ بِهِ فَإِنَّ سَلْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اقْتَصَرَ عَلَى مُجَرَّدِ وَضْعِهِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّمَا سَأَلَهُ لِيَتَمَيَّزَ لَهُ الْهَدِيَّةُ الْمُبَاحَةُ عَنْ الصَّدَقَةِ الْمُحَرَّمَةِ عَلَيْهِ وَلَمْ يُوجَدْ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَفْظٌ فِي قَبُولِ الْهَدِيَّةِ ، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ قَرَارُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَقَطَعَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الشَّافِعِيَّةِ وَاحْتَجُّوا بِهَذَا الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْأَحَادِيثِ الَّتِي فِيهَا حَمْلُ الْهَدَايَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقْبَلُهَا وَلَا لَفْظَ هُنَاكَ قَالُوا وَعَلَى هَذَا جَرَى النَّاسُ فِي الْأَعْصَارِ وَلِذَلِكَ كَانُوا يَبْعَثُونَ بِهَا عَلَى أَيْدِي الصِّبْيَانِ الَّذِينَ لَا عِبَارَةَ لَهُمْ وَفِي الْمَسْأَلَةِ وَجْهٌ لِبَعْضِ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيهَا الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ كَالْبَيْعِ وَالْهِبَةِ وَالْوَصِيَّةِ وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَالْمُتَلَقِّينَ عَنْهُ

Dalam hadits ini (Al Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari kurma sedekah, meletakkannya di mulutnya. Lalu Rasulullah SAW berkata, “kuh.. kuh.. ayo keluarkan! Tidakkah Engkau tahu bahwa sesungguhnya kita (keluarga Nabi) tidak memakan harta sedekah?” (HR. Muslim)) ada faidah bahwa tidak disyaratkan lafadz ijab-qabul pada hadiah dan sedekah. Bahkan cukup dengan menyerahkannya dan memindahkannya. Karena Salman radhi’allahu’anhu hanya sekedar meletakkan (kurma tersebut). Dan Nabi SAW bertanya kepada Salman dalam rangka membedakan kurma tersebut hadiah yang mubah ataukah sedekah yang haram (bagi beliau). Tidak ada lafadz qabul dari Nabi SAW ketika menerimanya. Inilah yang shahih, yang dipegang oleh madzhab asy-Syafi’i dan ditegaskan oleh lebih dari satu ulama Syafi’iyah, dan mereka berdalil dengan hadits ini. Dan juga hadits-hadits lain yang menceritakan tentang diberikannya hadiah kepada Rasulullah SAW dan beliau menerimanya tanpa mengucapkan satu lafadz pun. Dan ini lah yang terjadi di masa Nabi ketika itu. Oleh karena itu, mereka biasa memberikan sesuatu kepada anak kecil yang (lafadz ijab-qabul) tidak ada maknanya bagi mereka. Dan dalam masalah ini tidak benar sisi pandang sebagian ulama madzhab Syafi’i yang mensyaratkan lafadz ijab-qabul seperti dalam jual beli, hibah dan wasiat. Dan ini merupakan pendapat Syaikh Abu Hamid al-Ghazali dan murid-murid beliau” (Tharhu At-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, Zainuddin Abu al-Fadhl Abdurrahim bin AlHusain bin Abdurrahman bin Abi Bakr bin Ibrahim al-Iraqi asy-Syafi’i Al-Mishri, 4/40).

As-Suyuthi salah satu ulama madzhab syafi’i (849 H/ 1445 M – 911 H/ 1505 M) menerangkan,

فَالْأَوَّلُ مِنْهُ  الْهِدَيَّةُ فَالصَّحِيْحُ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِيْهَا الْإِيْجَابُ وَالْقَبُوْلُ لَفْظًا بَلْ يَكْفِي الْبَعْثُ مِنَ الْمُهْدِي  وَالْقَبْضُ مِنَ الْمُهْدَى إِلَيْهِ وَمِنْهُ  الصَّدَقَةُ قَالَ الرَّافِعِيْ وَهِيَ كَالْهَدِيَّةِ بِلَا فَرْقٍ

Contoh yang pertama, hadiah. Pendapat yang benar, tidak disyaratkan adanya ijab qabul dengan dilafalkan. Namun cukup memberikan hadiah dari si pemberi, dan diterima oleh orang yang mendapatkannya termasuk juga; sedekah. Ar-Rafii mengatakan, ‘Sedekah seperti hadiah, tidak ada perbedaan.’ (al-Asybah wa An-Nadzair, Jalaluddin al- misri asSuyuthi as-Syafi’I, 1/468)

baca juga: Nikah Misyar, Apa Hukumnya?

Ibnu Qudamah al-Hanbali (541-629 H) berkata,

وَإِذَا دَفْعُ الزَّكَاةِ إِلَى مَنْ يَظُنُّهُ فَقِيْراً لَمْ يَحْتَجُ إِلَى إِعْلَامِهِ أَنَّهَا زَكَاةٌ.

“Apabila memberikan zakat kepada orang yang diangggap fakir, tidak perlu memberitahukan kepadanya bahwa itu adalah zakat.” (al-Mughni, Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali alAlmaqdisi, 2/ 508)

Wallahua’lam bishowab. []

%d bloggers like this: