Idul Adha Hari Pembantaian?

idul adha hari pemantaian?

Menyembelih Udhiyah pada hari raya Idul Adha rutin dijalankan umat Islam seluruh dunia. Sebagai bentuk implementasi dari perintah Allah SWT, berawal dari kisah ketaatan Nabi Ibrahim dalam menjalankan titah Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail putranya. Namun, ternyata tak semua masyarakat memberikan tanggapan positif terhadap syariat yang agung ini.

IDUL ADHA DI MATA UMAT LAIN

Jamak diketahui bahwa sapi adalah hewan yang disucikan oleh umat Hindu. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna,President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali, di sela-sela dialog Islam-Hindu di Jawa Tengah.

I Gusti Ngurah Arya menghimbau semeton Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan hewan lainnya. Menurutnya ini penting. Karena di Bali sapi adalah hewan yang disucikan, dan dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme (http://www.tribunnews.com/ nasional/2012/10/24/raja-bali-umat muslim-diimbau-jangan-sembelih-sapi).

Maka tak heran bila ada anggapan di sebagian orang Hindu atau bahkan mayoritas, bahwa penyembelihan udhiyah yang serentak dilakukan adalah bentuk pembantaian massal (Lihat https:// diskusihindu.wordpress.com)
Suatu hal yang logis bilamana umat Hindu berpikiran seperti itu. Namun sangat mengherankan bilamana pernyataan itu keluar dari seorang muslim. Tepatnya di mesir, ada seorang seniman atau penyair yang bernama Fatima Naoot, menurutnya penyembelihan udhiyah sebagai kebiasaan buruk yang telah dilakukan beberapa kurun.

Dalam sosmed dia sebutkan bahwa penyembelihan hewan udhiyah adalah “pembantaian terbesar yang dilakukan oleh manusia.”  Dan ini merupakan pembantaian tahunan karena orang baik yang satu hari mengalami mimpi buruk. Meski mimpi buruk telah berlalu, domba harus membayar untuk mimpi buruk suci itu (http://www.hespress. com/international/242520.html).

KEMANUSIAAN DALAM UDHIYAH

Tak diragukan lagi, bagi umat Islam, penyembelihan hewan udhiyah pada hari raya idul adha merupakan amal shalih yang disyariatkan dalam Islam, bahkan termasuk bentuk ibadah yang paling utama dan taqarub yang paling agung.

Menanggapi syubhat yang memunculkan penyembelihan udhiyah sebagai sesuatu yang mengerikan. Perlu kiranya merenungi ibadah ini dari beberapa tinjauan. Pertama, berdasarkan nash syar’i, Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk memakan yang baik dan halal. Termasuk di antaranya adalah hewan, yang dicipta untuk dimanfaatkan manusia. Beberapa ayat yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 1, an-Nahl ayat 5 dan al-Mukminun ayat 21.

Selanjutnya perlu diketahui, bahwa daging hewan udhiyah yang disembelih dalam rangka bertaqarub kepada Allah, akan dimanfaatkan oleh shahibul udhiyah. Baik dia mengambil sebagian untuk dirinya dan keluarganya, atau dia sedekahkan semuanya untuk orang lain. Artinya hewan itu tidak disia-siakan, tetapi dimanfaatkan. Firman Allah SWT yang menjelaskan hal tersebut tertera dalam surat Al-Hajj ayat 28 dan 34. Kedua, dari tinjauan maqashid. Maslahat yang timbul dari penyembelihan hewan udhiyah lebih banyak dari madharatnya. Madharat bagi shahibul udhiyah adalah kehilangan harta. Namun dengan itu, ia mendapat maslahat di akhirat begitu juga di dunia dengan protein hewani yang dia konsumsi.

Maslahat yang lain adalah manfaat yang dirasakan oleh masyarakat yang tidak setiap waktu dapat merasakan nikmatnya daging sapi atau kambing. Yang pasti maslahat akhirat itulah tujuan utama seorang muslim. Sementara maslahat di dunia hanyalah tambahan yang tak selalu ada (Asy-Syatibi, al-Muwafaqat, Tahqiq: Abu Ubaidah Alu Salman, (Dar Ibnu Affan, Cet-1, 1417 H), 2/65) Ketiga, dari tinjauan logika. Di dalam daging terdapat vitamin dan protein lengkap yang hanya terdapat pada daging. Dan tubuh manusia membutuhkan 23 asam amino esensial yang tidak semua dihasilkan tubuh, tetapi terdapat pada daging.

Lebih lanjut lagi, bentuk gigi hewan ada yang rata semua, sehingga termasuk herbivora, atau runcing semua yang menunjukkan bahwa hewan itu termasuk karnivora. Sementara manusia adalah omnivora yang memiliki gigi rata dan runcing, perpaduan antara herbivora dan karnivora.

Pertanyaan yang timbul, jika Allah SWT menghendaki kita makan sayuran saja kenapa kita diberi gigi taring? jika Allah SWT menghendaki kita makan daging saja kenapa kita diberi gigi yang rata? pasti ada maksudnya disana

Jika membunuh hewan adalah dosa maka membunuh tumbuhan juga dosa. Jika alasannya karena tumbuhan tidak merasakan sakit, itu menurut indera kita. Padahal sebenarnya tumbuhan itu juga merasa sakit.
Membunuh manusia yang inderanya kurang mungkin dianggap tidak manusiawi karena kekurangan inderanya.

baca juga: Berkah Kesehatan Dalam Daging Kurban

Tentunya membunuh tumbuhan lebih kejam dari pada membunuh hewan karena indera tumbuhan tak selengkap indera hewan. (Disarikan dari jawaban Dr. Zakir Naik dalam sesi tanya jawab, lihat https://www.youtube. com/watch?v=HyZsHV0tdrg). Wallahu A’lam Bisshowab . []

%d bloggers like this: