Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba

hukuman mati bagi pengdar narkoba

Menanggulangi narkoba tidak akan efektif jika hanya mengandalkan tindakan represif kepada para pengguna. Pemberantasan harus benar-benar mengakar pada induk semangnya; produsen dan bandar atau pengedar kelas kakapnya. Karena merekalah narkoba tersedia, sementara pengguna sebagian besar hanyalah korban bujukan dari kawan atau pengaruh buruk lingkungan.

Untuk itu, pantas kiranya jika hampir seluruh negara mengkriminalkan pengedaran dan penggunaan narkoba dan menerapkan hukuman berat kepadanya. Sanksi berat  akan membuat seseorang berpikir seribu kali untuk melakukannya, kecuali mereka yang benar-benar nekat. Di Saudi, pengedar narkoba dihukum pancung. Republik Cina juga menerapkan hukuman mati bagi pengedar narkoba dan koruptor. Indonesia pun demikian, sesuai Undang-undang no. 35 tahun 2009, produsen dan atau pengedar narkoba dikenai sanksi mati atau penjara seumur hidup.

April lalu, pengadilan Indonesia mengeksekusi dua warga Australia; Myuran Sukumaran dan Andrew Chan atas kasus pengedaran (ekspor) narkoba seberat 8,2 kg bersama tujuh orang lainnya. Setelah sebelumnya dikabarkan eksekusi batal karena desakan dari Australia, eksekusi akhirnya diberikan pada dua pengedar ini melalui keputusan pengadilan.

Mengenai hukuman mati bagi produsen atau pengedar narkoba, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bolehnya hukuman mati bagi pengedar narkoba. Fatwa no 53 tahun 2014 tersebut menyatakan bolehnya memberikan sanksi berat hingga hukuman mati kepada produsen, bandar, pengedar, dan penyalah guna narkoba.

Pertimbanganya, narkoba memiliki dampak serius pada kerusakan fisik dan mental dan berpengaruh besar pada kerusakan moral dan sosial masyarakat. Kecanduan narkoba pada level parah dapat mengakibatkan kematian. Ini tidak berbeda dengan bunuh diri. Dan mengedarkan narkoba seakan-akan menebar racun bagi manusia lain. MUI menegaskan bahwa bahaya narkoba jauh lebih dahsyat daripada khamr (minuman keras).

Padahal Islam mengharamkan bunuh diri atau merusak fisik apalagi mental yang merupakan karunia Allah. Lebih dari itu, merusak diri orang lain tentunya lebih berat hukumnya.

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. anNisa’ : 29)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(QS. alMaidah: 90)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”

Dalam fatwa ini, hukuman bagi produsen, bandar, pengedar, dan penyalahguna narkoba dapat dikategorikan sebagai ta’zir (sanksi) yang berat-ringannya ditentukan oleh kebijksanaan pihak berwenang. Sanksi ta’zir bisa berupa hukuman penjara hingga vonis mati. Sanksi disesuaikan dengan kadar narkoba yang dimiliki atau tindakan tersebut berulang.

baca juga: Islam Menafikan Tindakan yang Membahayakan dan Merugikan

Pada poin selanjutnya, ditegaskan pula bahwa pihak berwenang haram memberi ampunan kepada pihak yang telah terbukti menajadi produsen, pengedar atau penyalahguna narkoba. Dan bagi penegak hukum yang terlibat dalam produksi atau pengedaran narkoba harus diberi pemberatan hukuman. Namun demikian, dalam rekomendasinya, MUI juga menekankan pentingnya rehabilitasi bagi para pecandu narkoba.

Selain fatwa dari Majelis Ulama Indonesia, Komisi Fatwa dari Kerajaan Saudi Arabia juga memfatwakan hal serupa. Majelis Ulama di pertemuan yang ke-29, yang diadakan di kota Riyadh, 9 – 20 Jumadi Tsaniah 1407 H, telah mempelajari telegram yang dikirim oleh Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Fahd bin abdul Aziz, dengan nomor: S: 8033, tertanggal 11 Jumada Tsaniah 1407 H. Dalam surat itu dinyatakan:

“Melihat bahwa narkoba memberikan dampak yang sangat buruk, sementara kita perhatikan saat ini mulai banyak tersebar, serta menimbang tuntutan kemaslahatan bagi umat, maka penting untuk diputuskan hukuman yang membuat jera bagi orang yang berusaha menyebarkan dan memasarkannya, baik ekspor atau impor. Karena itu, kami memohon kepada anda sekalian untuk membahas masalah ini di sidang Majelis Ulama dengan segera. Kami akan menyesuaikan dengan apa yang diputuskan.”

Dan hasil diskusi Majelis Kibar Ulama menetapkan:

Pertama, untuk bandar narkoba, hukumannya adalah dibunuh, karena perbuatanya menjadi bandar pengedaran narkoba, menyebarkanya obat terlarang ke dalam negara, menyebabkan kerusakan yang besar, tidak hanya bagi bandarnya, namun menjadi sebab masalah yang serius bagi seluruh umat. Termasuk bandar narkoba adalah orang yang mendatangkan obat terlarang ini dari luar, kemudian dia distribusikan ke penjual langsung.

Kedua, untuk pengedar obat terlarang, keputusan Majelis Kibar Ulama untuk pelaku telah diterbitkan pada keputusan no. 85, tertanggal 11 Dzulqa’dah 1401 H dinyatakan:

“Orang yang mengedarkan narkoba, baik dengan membuat sendiri atau impor dari luar, baik dengan jual-beli, atau diberikan cuma-cuma, atau bentuk penyebaran lainnya, maka untuk pelanggaran yang dilakukan pertama, dia dihukum ta’zir yang keras, baik dipenjara, dihukum cambuk, atau disita hartanya, atau diberikan semua hukuman tersebut, sesuai keputusan mahkamah. Kemudian jika dia mengedarkan lagi, dia diberi hukuman yang bisa menghindarkan masyarakat dari kejahatannya, meskipun harus dengan hukuman mati. Karena perbuatannya ini, dia termasuk orang yang merusak di muka bumi dan potensi berbuat maksiat telah melekat dalam dirinya.”

Menanggulangi narkoba memerlukan ketegasan dan hukuman yang benar-benar mampu membuat jera. Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu biang kemaksiatan yang sangat merusak masyarakat secara luas, khususnya generasi muda. Fatwa mati bagi bandar sangatlah pantas demi menjaga maslahat orang banyak. Wallahua’lam.

 

Taufik Anwar

%d bloggers like this: