Hukum shalat jama’ah kedua dalam satu masjid

Hukum shalat jama’ah kedua dalam satu masjid

Umat Islam diperintahkan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid. Dalam pelaksanaannya, terkadang beberapa orang terlambat sehingga baru tiba di masjid saat shalat jama’ah telah selesai dilaksanakan. Dalam kondisi demikian, mereka dihadapkan pada beberapa pilihan sikap; melakukan shalat secara berjama’ah sehingga menjadi shalat jama’ah kedua untuk shalat yang sama di masjid tersebut, shalat sendiri-sendiri, atau shalat di rumah.

Manakah pilihan sikap yang lebih benar? Dalam hal ini perlu ditinjau terlebih dahulu kondisi masjid dan orang-orang yang tertinggal dari shalat berjama’ah tersebut.

Kondisi pertama:

Masjid atau mushalla berada di pasar, terminal, pelabuhan, bandara, atau pinggir jalan raya yang menjadi tempat lalu-lalang masyarakat. Biasanya masjid atau mushalla ini tidak memiliki imam tetap dan masyarakat datang silih-berganti. Dalam hal ini seluruh ulama sepakat diperbolehkan melaksanakan jama’ah lebih dari satu kali di masjid tersebut.

Imam An-Nawawi (wafat 676 H) berkata: “Jika masjid tidak memiliki imam tetap maka tidak dibenci (tidak makruh) melaksanakan jama’ah yang kedua, jama’ah yang ketiga, atau lebih, berdasar ijma’.” (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, Jeddah: Maktabah Al-Irsyad, t.t., juz 4 hlm. 119-120)

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafi (wafat 1252 H) berkata: “…atau masjid jalan raya maka boleh (melakukan jama’ah kedua) menurut ijma’, sebagaimana pada sebuah masjid yang tidak memiliki imam dan muadzin, sedangkan masyarakat menunaikan shalat di dalamnya rombongan demi rombongan.” (Ibnu Abidin, Raddul Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar Syarh Tanwir Al-Abshar, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1423 H, juz 2 hlm. 288)

 

baca juga: Menjamak Shalat di Masjid Karena Hujan

Kondisi kedua:

Masjid atau mushalla berada di sebuah desa atau kota yang memiliki imam tetap. Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama tentang hukum melakukan jama’ah kedua dan seterusnya.

(1) Makruh mengulang shalat jama’ah di masjid tersebut

Pendapat ini dipegangi oleh mayoritas ulama hadits dan fiqih dari generasi tabi’in dan tabi’it tabi’in. Diantara imam madzhab yang memegang pendapat ini adalah Abu Hanifah, Al-Awza’i, Malik bin Anas, Abdullah bin Mubarak, Asy-Syafi’i dan Al-Laits bin Sa’ad.

Imam ‘Alauddin Abu Bakar bin Mas’ud Al-Kasani Al-Hanafi (wafat tahun 587 H) mengutip dari imam Al-Qaduri Al-Hanafi: “Jika ia luput dari shalat jama’ah, hendaknya ia melaksanakan shalat berjama’ah dengan keluarganya di rumahnya. Jika ia shalat sendirian, maka hal itu boleh…” (Al-Kasani, Badai’u Ash-Shanai’ fi Tartib Asy-Syarai’, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, cet. 2, 1424 H, juz 1 hlm. 665)

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa alasan:

  1. Pada zaman Nabi SAW para sahabat yang tertinggal dari shalat jama’ah bersama Nabi SAW biasa melakukan shalat sendiri-sendiri.
  2. Melakukan jama’ah kedua akan menyebabkan perselisihan hati, permusuhan, dan sikap meremehkan shalat jama’ah dengan imam tetap.

Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H) berkata: “Telah kami hafal (riwayat-riwayat) bahwa beberapa orang sahabat luput dari shalat berjama’ah bersama Nabi SAW. Maka mereka shalat sendiri-sendiri atas sepengetahuan beliau, padahal mereka mampu untuk menunaikannya secara berjama’ah. Shalat jama’ah juga telah luput dari sekelompok orang (sahabat), lalu mereka datang ke masjid dan masing-masing mereka menunaikan shalat secara sendirian, padahal mereka mampu untuk menunaikannya secara berjama’ah. Namun masing-masing mereka menunaikan shalat secara sendirian. Mereka tidak menyukai (shalat berjama’ah kedua) agar mereka tidak menunaikan dalam satu masjid shalat jama’ah sebanyak dua kali. Dan tidak mengapa jika mereka keluar ke sebuah tempat untuk mengerjakan shalat tersebut secara berjama’ah.” (Asy-Syafi’i, Al-Umm, Al-Manshurah: Darul Wafa’, cet. 1, 1422 H, juz 2 hlm. 294)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (wafat tahun 620 H) berkata: “Adapun Salim, Abu Qilabah, Ayyub, Ibnu ‘Aun, Al-Laits, Al-Batti, Ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Al-Awza’i dan Asy-Syafi’I berpendapat tidak diulang jama’ah di sebuah masjid yang memiliki imam tetap, pada selain jalan raya yang biasa dilalui manusia. Barangsiapa luput dari jama’ah, hendaknya ia shalat sendirian agar tidak menyebabkan perselisihan hati, permusuhan, dan sikap meremehkan shalat bersama imam tetap. Lagipula ia adalah masjid yang telah memiliki imam tetap, sehingga dimakruhkan mengulang jama’ah di dalamnya, sebagaimana masjid Nabi SAW.” (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Mughni Syarh Mukhtashar Al-Khiraqi, Riyadh: Dar ‘Alam Al-Kutub, cet. 3, 1417 H, juz 3, hlm. 10)

(2) – Boleh mengulang shalat jama’ah di masjid tersebut

Ini adalah pendapat sebagian sahabat dan tabi’in. Diantara imam madzhab yang memegang pendapat ini adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan Daud bin Ali (madzhab Zhahiri).

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata: “Tidak dimakruhkan mengulang jama’ah di sebuah masjid. Maknanya, jika imam masjid di desa tersebut telah menunaikan shalat jama’ah, lalu datang jama’ah lainnya, disukai jika mereka menunaikan shalat secara berjama’ah. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Atha’, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i, Qatadah dan Ishaq bin Rahawaih.”

Pendapat ini didasarkan kepada beberapa dalil berikut:

  1. Keumuman hadits tentang keutamaan shalat berjama’ah. Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA bahwasanya Rasulullah SAW melihat ada seorang laki-laki yang shalat sendirian. Maka beliau bersabda:

أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ

Tidakkah ada seseorang yang mau bersedekah kepadanya, dengan shalat bersamanya?”(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Abdur Razzaq, dan Al-Hakim)

  1. Dari Utsman An-Nahdi berkata: “Anas bin Malik RA mendatangi kami di masjid Bani Tsa’labah. Beliau bertanya: ‘Kalian telah selesai shalat Subuh?’ Kami menjawab: ‘Ya.’ Maka beliau berkata kepada seseorang: ‘Kumandangkanlah adzan!’ Orang itu pun mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau pun shalat berjama’ah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq)
  2. Dari Salamah bin Kuhail bahwasanya Ibnu Mas’ud RA memasuki masjid, ternyata orang-orang telah selesai shalat berjama’ah. Maka beliau melaksanakan shalat jama’ah bersama dengan Alqamah, Al-Aswad dan Masruq.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

 

Tarjih

Dari perbedaan pendapat para ulama tersebut bisa disimpulkan bahwa boleh-tidaknya melakukan jama’ah kedua dan seterusnya sangat tergantung juga kepada faktor para pelakunya.

  • Rutinitas yang berjalan adalah semua orang melakukan shalat jama’ah bersama imam tetap, lalu kadang-kadang karena ada udzur sebagian orang terlambat datang ke masjid tersebut. Maka disunahkan bagi mereka untuk melakukan shalat jama’ah kedua, berdasar dalil-dalil yang diketengahkan oleh pendapat kedua.
  • Beberapa orang secara rutin sengaja melakukan jama’ah kedua atau lebih di masjid tersebut tanpa mau shalat berjama’ah di belakang imam tetap. Misalnya karena mereka berbeda madzhab fiqih, kelompok pengajian, atau organisasi Islam dengan imam tetap. Maka hukum shalat jama’ah kedua tersebut adalah terlarang dan dibenci karena menyebabkan perselisihan hati, perpecahan, permusuhan dan meremehkan shalat bersama imam tetap. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fiqh As-Sunnah, Kairo: Al-Maktabah at-Tawqifiyah, t.t, juz 1 hlm. 561-562 dan Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar et.al, Al-Fiqh Al-Muyassar, Riyadh: Madar Al-Wathan, cet. 2, 1433 H, hlm. 378)

%d bloggers like this: