Hukum Safar Haji Bagi Wanita Tanpa Mahram

Hukum Safar Haji Bagi Wanita Tanpa Mahram

Setiap muslim memiliki beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan. Di antara kewajiban yang harus dilaksanakan adalah ibadah haji. Kewajiban ibadah haji ini tidak hanya bagi kaum laki-laki saja. Namun kaum wanita yang sudah baligh pun juga wajib.

Haji bagi kaum wanita akan menjadi sesuatu yang sulit ketika tidak ada mahram yang menemaninya. Mengingat safar bagi wanita tanpa mahram tidak diperbolehkan.

Maka dibawah ini kami nukilkan beberapa fatwa ulama mengenai safar seorang wanita dalam rangka melaksanakan kewajiban ibadah haji tanpa ditemani mahramnya, apakah diperbolehkan atau tidak?

 

ULAMA YANG MEMBOLEHKAN

Imam an-Nawawi (631-676 H) berkata,

أَنَّهُ يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ لِلْحَجِّ الْوَاجِبِ مَعَ زَوْجٍ أَوْ مَحْرَمٍ أَوِ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ وَلَايَجُوْزُ مِنْ غَيْرِ هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانَ الطَّرِيْقُ أَمَنًا.

Sesungguhnya (bagi wanita) diperbolehkan keluar (safar) untuk melaksanakan ibadah haji yang wajib (haji yang pertama baginya) disertai oleh suami, mahram atau wanita yang tsiqoh (taat dalam beragama). (al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 8/ 342)

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَخْرُجَ فِي غَيْرِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ إِلَّا الْهِجْرَةَ مِنْ دَارِ الْحَرْبِ.

Para ulama telah bersepakat bahwa seorang wanita tidak diperbolehkan keluar (safar) dalam rangka selain untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah kecuali dalam safar tersebut disertai oleh mahramnya. (bagi wanita tidak diperbolekan safar) kecuali juga karena hijrah dari wilayah perang.  (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 36/ 206)

Imam Malik berkata,

يَجُوزُ أَنْ تَخْرُجَ فِي الْفَرْضِ مَعَ نِسَاءٍ ثِقَاتٍ ، لَكِنْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَخْرُجَ مَعَ امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ.

(seorang wanita) Diperbolehkan keluar (safar) untuk melaksanakan amalan ibadah wajib (haji) bersama dengan para wanita yang tsiqah (baik agamanya). Akan tetapi, tidak diperbolehkan baginya keluar (safar) hanya dengan satu wanita saja. (Al-Hawi al-Kabir, Abu al-Hasan al-Mawardi, 4/ 924)

Ad-Dasuqi yang merupakan salah satu ulama madzhab Maliki berkata,

أَنَّ السَّفَرَ إذَا كَانَ فَرْضًا جَازَ لَهَا أَنْ تُسَافِرَ مَعَ الْمَحْرَمِ وَالزَّوْجِ وَالرُّفْقَةِ وَأَمَّا إنْ كَانَ مَنْدُوبًا جَازَ لَهَا السَّفَرُ مَعَ الزَّوْجِ وَالْمَحْرَمِ دُونَ الرُّفْقَةِ.

Sesungguhnya safar yang dilaksanakan dalam rangka mengerjakan amalan yang hukumnya wajib, maka boleh baginya (wanita) melaksanakan safar tersebut dengan disertai mahram, suami atau teman dekatnya. Sedangkan safar dalam rangka melaksanakan amalan yang hukumnya sunnah, maka boleh baginya melakukan safar dengan disertai suami, mahram dan tidak boleh hanya ditemani oleh teman dekatnya. (Hasyiyatu ad-Dasuqi ‘ala Syarhi al-Kabir, ad-Dasuqi al-Maliki, 5/294)

(baca juga: MAHRAM BAGI PEREMPUAN)

MEREKA YANG TIDAK MEMBOLEHKAN

Imam  Abu Hanifah berkata,

لَا يَجُوزُ أَنْ تَخْرُجَ فِي الْفَرْضِ وَالتَّطَوُّعِ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ.

(seorang wanita) tidak diperbolehkan keluar (safar) baik untuk amalan yang wajib (haji) atau sunnah (umrah) kecuali bersama dengan mahramnya. (al-Hawi al-Kabir, Abu al-Hasan al-Mawardi, 4/ 924)

Imam Ahmad berkata,

لَا تَحُجُّ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ لِأَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ نَهَى أَنْ تَحُجَّ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ .

Seorang wanita tidak diperbolehkan melaksanakan haji kecuali bersama dengan mahramnya, karena Rasulullah f melarang wanita melaksanakan haji kecuali bersama dengan mahramnya. (Syarhu al-Umdah fi al-Fiqhi, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 2/7)

Muhammad Shalih bin Utsaimin berkata,

هَذَا الْعَمَلُ وَهُوَ الْحَجُّ بِدُوْنِ مَحْرَمٍ  مُحَرَّمٌ لِحَدِيْثِ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ وَهُوَ يَخْطُبُ  لَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ  فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ  إِنَّ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ انْطَلِقْ فَحَجِ مَعَ امْرَأَتِكَ .فَلَا يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ السَّفَرُ بِدُوْنِ مَحْرَمٍ.

Amalan ini yaitu bahwa haji tanpa disertai dengan mahram haram hukumnya, hal ini karena hadits dari Ibnu Abbas RA, “saya mendengar janganlah seorang wanita bepergian kecuali disertai oleh mahramnya.” Seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, isteriku hendak pergi mengerjakan haji, sedangkan aku telah mendaftarkan diri dalam peperangan ini dan ini.” Rasulullah bersabda: “Berangkatlah haji bersama isterimu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka bagi wanita tidak diperbolehkan melakukan safar tanpa mahramnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-Utsaimin, 21/219)

Wallahu a’lam bishowab.

%d bloggers like this: