Hukum Merokok Hanya Makruh? Kok Membunuh

hukum merokok

Kementerian Kesehatan RI bersinergi dengan Tobacco Control Support Center (TCSC) dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyelenggarakan The 4th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) pada tanggal 14-16 Mei 2017 lalu di Jakarta.

Konferensi tersebut dilatar belakangi oleh epidemi konsumsi rokok di Indonesia yang saat ini telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga (36,3%) penduduk Indonesia saat ini dikategorikan sebagai perokok.

BACA JUGA: Iklan Rokok, Kreatif atau Menipu?

 

BKKBN Pusat menyebutkan jumlah penduduk Indonesia pada bulan Juli 2017 adalah 262 juta jiwa. Hal itu berarti saat ini sekitar 95,1 juta penduduk Indonesia adalah perokok!

Angka ini menunjukkan peningkatan tak kurang dari 5 juta orang dalam setahun terakhir. Seperti dikatakan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, jumlah perokok di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa.

Berdasarkan riset Atlas Tobbaco pada 2016, Indonesia menduduki rangking satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia, disusul Rusia, Cina, Filipina, dan Vietnam. Sebanyak dua dari tiga laki-laki di Indonesia adalah perokok.

GENERASI MUDA YANG RAPUH

Generasi pelajar dan mahasiswa adalah generasi muda yang akan menjadi tulang punggung setiap bangsa. Kejayaan dan keruntuhan sebuah bangsa bisa diukur, salah satunya, dari kualitas generasi pelajar dan mahasiswanya.

Mengacu kepada hal yang sudah menjadi rahasia umum ini, kita layak prihatin dengan kondisi generasi pelajar Indonesia. Pasalnya, paparan ICTOH 2017 menunjukkan bahwa dari total jumlah perokok di Indonesia pada tahun 2017, sebanyak 20% di antaranya adalah remaja usia 13–15 tahun. Itu artinya, tak kurang dari 19 juta pelajar SLTP di negeri ini adalah para perokok.

Masih berdasar paparan data ICTOH 2017, total para pelajar usia SLTP, SLTA, dan mahasiswa yang menjadi perokok di negeri ini adalah 44,5%. Sebanyak 41% di antaranya, yaitu sekitar 38,9 juta orang, adalah remaja laki-laki. Sedangkan 3,5% di antaranya, yaitu sekitar 3,32 juta orang, adalah remaja perempuan.

DEBAT HUKUM YANG TAK PERNAH KELAR

Hukum merokok sejak dahulu hingga kini masih menjadi ajang perdebatan sengit para ulama fikih dan ormas Islam. Masing-masing pihak memiliki argumentasi dalil syar’i dan dalil logika sendiri-sendiri.

Di antara ulama fikih terdahulu yang mengharamkan rokok adalah Syaikh as-Sanhuri Al-Bahuti al-Hambali, Ibrahim al-Laqqani al-Maliki, Najmuddin Ibnul Ghazi al-Amiri asy-Syafi’i, Abu Bakar bin Ahdal al-Yamani asy-Syafi’i, dan Muhammad Khawajah al-Hanafi.

 

BACA JUGA: Fatwa Rokok, Fatwa Yang Diabaikan

 

Mayoritas ulama fikih kontemporer mengikuti pendapat ini. Di Indonesia, ormas Muhammadiyah juga memfatwakan pendapat yang sama.

Di antara ulama terdahulu yang memakruhkan rokok adalah Syaikh Abu Sahl Muhammad bin Wa’izh Al-Hanafi. Di Indonesia, ormas NU sependapat dengan fatwa ini.

Cukup menarik di sini untuk menyebut nama mantan Rektor Universitas Al-Azhar Kairo dan Mufti Mesir, Syaikh Mahmud Syaltut rahimahullah. Sejak usia muda hingga akhir hayatnya, beliau adalah seorang perokok berat. Namun beliau sendiri memfatwakan keharaman rokok, berdasar kaedah-kaedah umum syariat dan dampak-dampak negatifnya dari sisi kesehatan.

MEMBUNUH PELAN-PELAN

Berbeda dengan kalangan ulama fikih yang masih berkutat dalam perdebatannya, dunia kedokteran dan ilmuwan telah mencapai kata sepakat tentang bahaya rokok. Bahkan, produsen rokok pun seiya sekata dengan mereka.

Semua kemasan bungkus rokok yang beredar di Indonesia, tanpa terkecuali, pada periode 2002 hingga November 2013, selalu mencantumkan peringatan bagi para perokok. Bunyinya: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

Sejak bulan Desember 2013 hingga hari ini, tulisan peringatan dalam setiap kemasan bungkus rokok bahkan telah berubah bunyinya: “Peringatan: Merokok Membunuhmu”.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Dr. H.R. Dedi Kuswenda, M.Kes, menjelaskan kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya dan memerlukan biaya pengobatan yang cukup besar.

Tahun 2014 terdapat 4,8 juta kasus penyakit jantung (klaim 8,189 triliun) dan 894 ribu kasus penyakit kanker (klaim 2 triliun). Sedangkan tahun 2015 mencapai 3,9 juta kasus penyakit jantung (klaim 5,462 triliun) dan 724 ribu kasus kanker (klaim 1,3 triliun).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) perokok laki-laki dewasa di Indonesia adalah yang paling tinggi (68,8%) di dunia.

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Ridwan Thaha menuturkan biaya yang ditanggung akibat konsumsi tembakau saat ini sangat tinggi. “Pada 2013 saja, beban yang ditanggung Rp 378 triliun,” tuturnya. (Sumber: kemkes.go.id tempo.co)

Di hadapan bahaya ganas yang membunuh korbannya secara perlahan ini, seorang muslim sudah seharusnya memegang teguh petunjuk Nabi n, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad) Wallahu a’lam bish-shawab. [-]

 

 

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda, info dan pemesanan majalah fikih hujjah hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

 

%d bloggers like this: