Hukum Mengangkat Pemimpin Kafir Sudah Final

Hukum Mengangkat Pemimpin Kafir

Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Zhōng Wànxué alias Ahok membuat pernyataan kontroversial di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Ahok menegaskan bahwa larangan memilih pemimpin non-muslim adalah bentuk pembodohan. Dalam hal ini, umat Islam dibodohi oleh para ulama dengan surat al-Maidah ayat 51, tegas Ahok.

Pernyataan Ahok mengundang reaksi keras umat Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menuntut aparat kepolisian untuk menangkap dan mengadili Ahok atas pasal penistaan agama Islam. Para ulama, ormas Islam, dan umat Islam di berbagai kota besar menggelar aksi unjuk rasa dengan tuntutan yang sama.

Bagi umat Islam, masalah politik dan pemerintahan tak bisa dipisahkan dari syariat Islam. Sebab, seluruh aspek kehidupannya telah diatur oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika urusan buang air kecil dan buang air besar saja terdapat tuntunan yang jelas dan rinci dalam syariat Islam, bagaimana mungkin masalah kepemimpinan yang berkaitan dengan urusan ratusan juta manusia tidak memiliki tuntunan dalam syariat Islam?

AJARAN BAKU

Keharaman mengangkat non-muslim sebagai pemimpin sebenarnya bukan hanya ditegaskan dalam surat Al-Maidah ayat 51 semata. Kaidah tersebut ternyata juga ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga diamalkan oleh Khulafa’ Rasyidun. Sebab, itu adalah ajaran baku dan final dalam Islam, yang tidak bisa diutak-atik dan diubah lagi.

Selain dalam surat al-Maidah: 51, keharaman mengangkat non-muslim sebagai pemimpin juga dijumpai dalam nash berikut ini.

Pertama, Allah mengancam akan menurunkan hukuman-Nya bagi orang Islam yang melanggar larangan tersebut.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali [pemimpin] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?” (QS. An-Nisa’ [4]: 144)

Kedua, Orang Islam yang mengangkat orang kafir sebagai pemimpin adalah orang yang telah terlepas dari petunjuk dan pertolongan Allah. Orang tersebut berlepas diri dari Allah dan Allah pun berlepas diri darinya.
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali [pemimpin, pelindung, dan teman akrab] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (QS. Ali Imran [3]: 28)

Ketiga, Orang-orang Islam yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah orang-orang munafik. Allah telah menyediakan untuk mereka azab yang pedih di akhirat kelak.

Allah berfirman, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin-pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan hanyalah kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 138-139)

Keempat, orang-orang Islam yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah orang-orang yang zalim dan memiliki kesamaan ideologi dengan orang-orang kafir tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin kalian, sebab sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah [5]: 51)

Kelima, orang-orang Islam yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah orang-orang yang keislaman dan keimanannya diragukan. Mereka adalah orang-orang fasik.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang membuat agama kalian jadi buah ejekan dan permainan, dari kalangan orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian (yaitu Yahudi dan Nasrani), dan orang-orang yang kafir sebagai pemimpin kalian. Dan bertakwalah kepada Allah jika kalian betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah [5]: 57, lihat juga AlMaidah [5]: 80-81)

Keenam, orang-orang Islam yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus. (lihat QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

IJMA’ ULAMA

Berdasarkan dalil-dalil syar’i yang sangat tegas tersebut, seluruh ulama Islam telah bersepakat bahwa orang kafir tidak boleh menjadi pemimpin atas kaum muslimin.

Imam Ibnu Mundzir (w. 318 H) berkata, “Seluruh ulama telah bersepakat bahwa seorang kafir tidak memiliki hak kepemimpinan atas seorang muslim dalam kondisi apapun.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ahkamu Ahli Dzimmah, 2/787)

Qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahsabi AlMaliki (w.  544 H) berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang yang kafir. Jika kemudian terjadi kekafiran (pada diri penguasa muslim, edt) maka ia harus dipecat.” (An-Nawawi, Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 12/317) Wallahu a’lam bishshawab. []

%d bloggers like this: