Hukum Jual Beli Online

Hukum Jual Beli Online

Perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi  memiliki pengaruh kuat terhadap sektor ekonomi. Dewasa ini, jual beli online tak kalah ramainya dengan jual beli di dunia nyata. Banyak perusahaan, toko, dan produsen barang menawarkan dan menjual produk mereka kepada konsumen melalui situs internet dan media jejaring sosial. Konsumen pun mencari, memesan, dan membeli barang melalui sarana internet.

Fenomena ini, bagi kalangan umat Islam yang memiliki kepedulian terhadap ajaran syariat Islam, menimbulkan pertanyaan, bagaimana hukum jual-beli via internet seperti itu?

Pertama, perlu dipahami bahwa hukum asal mu’amalah adalah mubah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kebiasaan (al-‘adah) adalah perkara-perkara yang biasa dilakukan manusia, berupa urusan duniawi yang mereka butuhkan, hukum asalnya adalah tidak terlarang, sehingga perkara adat ini tidak boleh dilarang kecuali yang dilarang oleh Allah Ta’ala.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ul Fatawa, 29/17).

“Hukum asal kebiasaan adalah boleh, sehingga hal-hal yang berasal darinya tidak dilarang kecuali hal-hal yang diharamkan Allah.” (Majmu’ul Fatawa, 29/18)

Di antara dalil dari kaedah ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dia-lah (Allah) yang telah menciptakan untuk kalian segala apa yang ada di bumi.” (QS. al-Baqarah [2]: 29). Ayat ini menegaskan bahwa semua hal di muka bumi ini diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan cara pemanfaatan apa pun, kecuali jika ada dalil syar’i yang melarang cara pemanfaatan tersebut.

Dalil lainnya adalah Allah mengingkari orang yang mengharamkan hal-hal yang Allah ciptakan untuk hamba-Nya seperti makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya. “Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Allah keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan hal-hal yang baik dari rizki?” (QS. al-A’raf [7]: 32).

Kedua, jual beli adalah bagian dari mu’amalah dan adat sehingga ia memiliki hukum asal boleh. Allah Ta’ala menegaskan kebolehan jual beli dalam firman-Nya, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. al-Baqarah [2]: 275).

Nabi SAW melarang para sahabat untuk beberapa jenis jual beli yang biasa mereka lakukan, namun beliau tidak menjelaskan kepada mereka jenis-jenis jual beli yang diperbolehkan. Maka ayat 275 surat al-Baqarah ini menunjukkan kebolehan semua jenis jual beli, kecuali yang dikhususkan. Nabi SAW hanya menjelaskan jenis-jenis jual beli yang dikecualikan dari hukum asal kebolehannya. (an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, 12/83-84).

baca juga: Jual Beli Sistem ‘Dropshipping’

Ketiga, jual beli sebagai sebuah akad mu’amalah dianggap sah menurut syariat apabila memenuhi syarat-syarat dan tidak mengandung penghalang-penghalang sahnya akad. Syarat-syarat jual beli adalah: (1) adanya penjual dan pembeli; (2) adanya barang halal yang diperjualbelikan dan bisa diserahterimakan; (3) adanya alat pembayaran; (4) adanya akad jual-beli; dan (5) adanya kerelaan dari kedua belah pihak.

Adapun penghalang-penghalang yang menyebabkan jual beli tidak sah adalah (1) adanya unsur riba; (2) adanya unsur perjudian; (3) adanya unsur penipuan (gharar); (4) adanya kezaliman atau memakan harta orang lain secara batil; (5) adanya ketidak jelasan; (6) adanya unsur membahayakan orang lain; (7) barangnya adalah barang haram atau najis; (8) adanya unsur yang menimbulkan perbuatan dosa dan permusuhan; (9) adanya unsur paksaan dari salah satu pihak; dan (10) tidak terpenuhinya salah satu atau lebih syarat jual beli. (Sa’duddin Muhammad al-Kiby, al-Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah fi Dhau’ al-Islam, hlm. 151-153).

Dari penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan hukum umum akad jual beli barang online adalah sah dan boleh apabila: (1) penjual adalah orang yang baligh, berakal sehat, dan memiliki barang secara sah; (2) barang yang dijual adalah barang yang halal, bermanfaat, dan bisa diserahterimakan kepada pembeli;(3) penjual memberikan penjelasan yang benar, jujur, dan sesuai fakta tentang spesifikasi barang dan sifat-sifatnya. Penjelasan tersebut tidak  mengandung unsur penipuan, manipulasi, dan menyembunyikan cacat barang; (4) pembeli adalah orang yang baligh, berakal sehat, dan setuju dengan barang yang dijual; (5) pembeli menyerahkan uang pembayarannya sesuai harga yang telah disepakati dan penjual menyerahkan barang sesuai spefisikasi dan sifat-sifat yang telah disepakati.

Jika syarat-syarat umum jual beli ini terpenuhi, maka jual beli dihukumi sah. Adapun penggunaan sarana modern seperti situs internet, sms, dan telepon untuk melakukan jual beli tersebut tidaklah berpengaruh terhadap keabsahannya. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

%d bloggers like this: