jual barang KW

jual barang KW

Barang KW adalah istilah yang biasa dipakai untuk barang tiruan, imitasi atau replika. KW berasal dari kata “Kwalitas”, lawan katanya “ori” yang diambil dari kata “original”. Istilah “KW” sebenarnya merupakan istilah yang salah. Menurut KBBI, kata “kwalitas” seharusnya adalah “kualitas”, namun karena istilah ini sudah memasyarakat, yang biasa dipakai tetap KW dan bukan KU.

Istilah ini jamak dipakai seiring menjamurnya barang tiruan di pasaran. Barang KW identik dengan harga yang lebih murah dibanding versi originalnya. Merk dan bentuknya hampir sama tapi kualitasnya berbeda. Perbedaan kualitas barang KW akan ditandai dengan nomor KW-nya. KW super adalah istilah untuk barang imitasi dengan kualitas hampir sama dengan versi aslinya. Harganya juga relatif hampir mendekati versi original, namun tetap saja kualitasnya berbeda. KW 1, KW 2 dan seterusnya adalah grade kualitas di bawahnya. Harganya lebih murah dengan kualitas yang tentu saja lebih rendah dibanding KW super apalagi versi asli.

BACA JUGA: Menjual Kulit Hewan Kurban

Produsen barang KW biasanya tidak terdeteksi. Tentu saja, sebab memproduksi barang tiruan merupakan pelanggaran undang-undang Hak cipta. Memang ada rumor yang beredar, produsen original mengeluakran produk KW guna menjaga penguasaan market. Namun hal itu hampir mustahil karena bisa merusak branding dari versi aslinya.

Memproduksi dan menjual barang tiruan, KW, replika, barang “Aspal” atau asli tapi palsu, imitasi atau apapun istilahnya adalah perbuatan melanggar hukum. Ada dua hukum yang dilanggar dalam hal ini; hukum Islam dan hukum negara.

Secara Islam, memproduksi dan menjual barang KW berarti melanggar hak cipta. Merek dagang merupakan hak milik seseorang yang memiliki nilai harta. Merek adalah aset yang meskipun abstrak namun secara riil dikonversikan ke dalam nominal harga. Jadi, sebuah merek dagang adalah hak seseorang yang tidak boleh dipakai, diambil dan digunakan tanpa seizin yang punya.

“Dan janganlah kalian memakan harta orang lain dengan cara yang batil.” (QS an Nisa:29)

Rasulllah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Tidak halal harta seseorang kecuali dengan ridha pemiliknya.” (HR. Ahmad)

Alasan lain, memproduksi dan menjual barang KW adalah tindak penipuan terhadap konsumen. Barang KW memiliki merek, ciri dan bahkan bentuk yang serupa dengan versi originalnya. Namun pada kenyataanya, kualitas barang berbeda dari aslinya. Reduksi kualitas bisa berasal dari banyak hal; bahan, kualitas pengerjaan, warna, keawetan dan lain sebagainya. Konsumen yang membeli barang KW akan tertipu dan menyangka bahwa produk yang dibeli adalah asli padahal palsu. Dan dalam jual beli, penjual wajib memberitahukan cacat pada barang yang dijual kepada pembeli dan haram menutupinya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102).

Namun demikian, biasanya penjual akan memberitahu konsumen bahwa barang yang dia jual adalah KW atau hanya imitasi. Hal ini memang akan meniadakan faktor “penipuan” dalam jual beli. Masalahnya, kebiasaan ini tidak bisa dijadikan patokan karena tidak ada yang bisa menjamin semua penjual akan melakukan menjelaskan status barangnya kepada konsumen. Untuk produk KW super, sangat mungkin beberapa penjual menjualnya dengan harga seperti barang original agar disangka asli, padahal palsu. jadi, kebiasaan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk membolehkan produksi dan penjualan barang KW karena tidak berlaku pasti.

Adapun menurut undang-undang negara, perbuatan memproduksi dan memperdagangkan barang palsu telah diatur dalam Undang-Undang no.15 tahun 2001 tentang merek, pasal 90-94. Dalam ayat-ayat yang tertera dalam pasal-pasal tersebut dijelaskan mengenai larangan menggunakan merek milik orang lain yang sudah terdaftar dan larangan memperdagangkan barang palsu. Ancamannya penjara dan atau denda miliaran rupiah.

Keberadaan barang KW tak lepas dari sikap masyarakat kita yang secara umum tidak merasa gengsi memakai barang tiruan. Sikap semcam ini ada muncul dari hasrat memakai barang bagus namun tidak didukung oleh finansial yang memadai. Barang KW mampu mengakomodasi dua kepentingan itu; tetap terlihat memakai barang bagus tapi dengan harga terjangkau. Sikap semacam ini tidak layak dilestarikan karena akan mengurangi semangat kreativitas dan muamalah yang sehat. Lebih baik membuat merek baru dan membangun branding yang sehat daripada memalsukan merek orang lain. Sebagai pembeli, sebaiknya kita juga tidak mendukung peredaran barang palsu dengan menjadi konsumennya. Dengan begitu, kita telah membantu tersebarnya kezhaliman dan penipuan. Wallahua’lam. [ ]

 

 

%d bloggers like this: