Hukum Dan Lafal Ucapan Selamat Hari Raya

Hukum Dan Lafal Ucapan Selamat Hari Raya

Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari raya kaum muslimin. Pada hari raya tersebut, kaum muslimin di tanah air berkumpul dengan keluarga besar dan sanak kerabatnya. Suasana pertemuan yang kadang hanya terjadi sekali dalam setahun tersebut selalu diwarnai oleh suasana keakraban dan kegembiraan.

Satu sama lain saling memberikan ucapan selamat. Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri / Idul Adha adalah ucapan selamat yang sangat populer di tengah kaum muslimin. Terkadang ucapan selamat tersebut lebih popular dari Taqabbalallahu minnaa wa minkum.

Seiring dengan semangat untuk mengamalkan sunnah Nabi n, di tengah kaum muslimin tanah air mulai muncul “gugatan” terhadap ucapan-ucapan selamat seperti itu. Bagaimana sebenarnya ilmu fikih memandang persoalan ini?

PENDAPAT PERTAMA

Sebagian kelompok pengajian di zaman sekarang, yang menisbahkan diri mereka kepada sunnah Nabi n, berpendapat bahwa ucapan selamat pada hari raya yang disyariatkan hanyalah ucapan ‘Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum’ (Semoga Allah menerima amal perbuatan kami dan kalian). Adapun ucapan-ucapan lainnya menurut mereka, adalah bid’ah dan tidak ada dasarnya dari hadits Nabi n maupun riwayat generasi sahabat.

BACA JUGA: BERSALAMAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM

Mereka menguatkan pendapat ini dengan beberapa argumentasi.

Pertama, Riwayat yang secara sanad mencapai derajat hasan, hanyalah ucapan “Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum” semata.

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Adalah para sahabat Nabi n jika mereka bertemu pada hari raya, sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya ‘Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum” (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).” (HR. Zahir bin Thahir, Abu Ahmad Al-Faradhi, dan Al-Mahamili. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Sanadnya hasan)

Dari Muhammad bin Ziyad Al-Alhani, ia berkata, “Saya bersama Abu Umamah Al-Bahili z dan para sahabat lainnya g. Jika mereka pulang dari shalat Iid, sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya ‘Taqabbalallahu Minnaa wa minkum’.” (HR. Zahir bin Thahir dan Ibnu At-Turkmani. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Sanad hadits Abu Umamah ini bagus)

Kedua, Ucapan-ucapan lainnya, seperti Minal Aidin wal Faizin, tidak pernah diucapkan di negeri Arab sendiri, negerinya para Nabi. Menurut riwayat Rasulullah n juga tidak pernah memakai ucapan ini ketika hari raya Idul Fitri.

Ucapan Minal Aidin wal Faizin ini barulah digunakan Nabi ketika menyambut pasukan Muslim yang kembali dari medan perang. Misalnya saja, perang Tabuk, Badar, dan perang lainnya. Jadi, bukan pada saat hari raya Idul Fitri.

Ketiga, Jika tujuannya untuk mendoakan, ucapan kalimat Minal Aidin wal Faizin ini sah-sah saja. Namun ketika seorang muslim ingin menegakkan sunnah Rasulullah n, maka kalimat ucapan tersebut tergolong bid’ah. Sebab, Nabi sendiri tidak pernah mengajarkannya. (Lihat: www.ilmusiana. com/2016/07/ternyata-ucapan-selamat-idul- fitri-ini-salah.html?m=1)

PENDAPAT KEDUA

Para ulama fikih dari keempat madzhab menyatakan ucapan selamat pada hari raya itu termasuk perkara adat (kebiasan), bukan perkara ibadah. Hukum asal dari perkara adat adalah boleh, selama tidak ada dalil syar’i yang melarangnya.

Oleh karena itu, ucapan selamat pada hari raya itu bebas dan fleksibel, selama kalimatnya baik. Boleh saja ucapan selamat tersebut berbunyi “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H”, atau “Mohon Maaf Lahir dan Batin”, atau “Minal Aidin wal Faizin”, “Iid Mubaarak” (semoga menjadi hari raya yang diberkahi), “Kullu ‘Aam wa Antum bi-Khair” (Semoga hari raya datang setiap tahun dalam keadaan kalian yang baik), Ghafarallahu Lanaa wa Lakum (Semoga Allah mengampuni kami dan kalian), dan lain-lain.

Berikut ini pernyataan para ulama fikih dari keempat madzhab tentang masalah ini.

MADZHAB HANAFI

Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Ismail Ath-Thathawi Al-Hanafi berkata,

“Ucapan selamat dengan mengatakan ‘Taqabbalallahu minnaa wa minkum’ itu boleh tidak perlu diingkari, bahkan disunahkan karena adanya riwayat tentang hal itu….

Demikian pula ucapan selamat yang biasa dipergunakan di negeri Syam dan Mesir, yaitu seseorang mengatakan kepada orang lain ‘Iid Mubaarak ‘Alaik’ (Semoga Hari Raya Ini Diberkahi Untukmu) dan ucapan sejenisnya adalah boleh. Lafal ini boleh disamakan dengan lafal Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum dalam hal kebaikan dan kesunahannya, karena keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.” (Hasyiyah AthThahtawi ‘ala Maraqil Falah Syarh Nuril Idhah, 2/527)

MADZHAB MALIKI

Ibnu Habib Al-Maliki berkata, “Imam Malik ditanya tentang perkataan seseorang kepada orang lain pada hari raya “Taqabbalallahu Minnaa wa Minka” dan “Ghafarallahu Lanaa wa Laka” (Semoga Allah mengampuni kami dan Anda). Maka beliau menjawab, “Saya tidak mengetahui riwayat tentang itu, namun aku juga tidak mengingkari ucapan tersebut.”

Ibnu Habib Al-Maliki berkata, “Maksud perkataan Imam Malik ini adalah beliau tidak mengetahui ucapan tersebut sebagai sebuah kesunahan (sunah berarti harus memiliki dasar ayat atau hadits, pent). Namun beliau juga tidak mengingkarinya, karena ucapan tersebut adalah perkataan yang baik.”

Lebih lanjut Ibnu Habib Al-Maliki berkata, “Saya melihat para ulama madzhab kami, yang pernah saya temui, tidak memulai dengan memberikan ucapan selamat tersebut kepada orang lain. Namun mereka juga tidak mengingkari kalau ada orang lain mengucapkan ucapan selamat tersebut kepada mereka. Mereka membalasnya dengan ucapan yang sama. Kalau menurut saya pribadi, tidak mengapa jika mereka lebih dahulu memberi ucapan selamat. Demikian ditegaskan dalam Syarh Syaikh Zaruq atas kitab Risalah Abi Zaid Al-Qairawani.”

Dalam Syarh Abul Walid Al-Baji atas Muwatha’ Malik, ditulis bahwasanya Imam Malik ditanya ‘Apakah makruh seseorang mengatakan kepada orang lain pada hari raya ‘Taqabbalallahu Minnaa wa Minka wa Ghafarallahu Lanaa wa Laka”, lalu orang lain itu menjawab dengan ucapan yang sama?” Maka Imam Malik menjawab, “Tidak makruh.” (Asyraful Masalik fi Al-Fiqh Al-Maliki, 1/67)

MADZHAB SYAFI’I

Muhammad Al-Khathib Asy-Syarbini berkata, “Menurut pendapat saya, ucapan selamat di hari raya itu mubah, tidak ada kesunahan di dalamnya dan juga tidak ada kebid’ahannya.” (Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazh Al-Minhaj, 1/314)

Sulaiman Al-Jamal Asy-Syafi’i berkata, “Sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada hari-hari tasyriq dan Idul Fitri memberikan ucapan selamat. Hal itu tidak dilarang, karena tiada dalil yang melarangnya. Juga karena maksud dari ucapan selamat tersebut adalah menunjukkan rasa cinta dan menampakkan kegembiraan. Adapun waktu memberikan ucapan selamat itu dimulai dari masuknya fajar hari Iid, bukan pada malam Iid.” (Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Manhaj Ath-Thullab, 3/70)

MADZHAB HANBALI

Ibnu Taimiyah Al-Harrani berkata, “Adapun ucapan selamat pada hari raya, yaitu sebagian orang mengatakan kepada sebagian lainnya jika bertemu dengannya setelah selesainya shalat Iid

“Taqabbalallahu Minnaa wa Minkum”, “Ahaalahullah ‘alaika (Semoga Allah mengembalikan hari raya ini kepadamu), dan lain sebagainya, maka yang seperti ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat g, bahwa mereka melakukannya. Para ulama seperti Imam Ahmad dan lainnya juga telah memberikan keringanan untuk hal itu.”

“Hanya saja,” kata beliau lagi, “Imam Ahmad menyatakan ‘Saya tidak akan memulai dalam memberikan ucapan selamat kepada seorang pun. Adapun jika ada orang lain mengucapkan ucapan selama tersebut kepadaku, niscaya aku akan menjawabnya’. Hal itu karena menjawab ucapan selamat adalah wajib. Adapun memulai pemberian ucapan selamat bukanlah perkara sunah yang diperintahkan, pun bukan perkara yang dilarang. Barangsiapa melakukannya, ia memiliki suri tauladan. Dan barangsiapa tidak melakukannya, ia pun memiliki suri tauladan.” (Majmu’ Fatawa, 24/253)

Hal senada ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Ala Zadil Mustqani’ (5/226).

KESIMPULAN

Dari penjelasan para ulama fikih semua madzhab tersebut menjadi jelas bahwa ucapan selamat pada hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan momen-momen bahagia lainnya adalah perkara adat (kebiasaan). Ia boleh dilakukan, dengan beragam ucapannya yang isinya baik, karena tidak ada dalil syar’i yang melarangnya.

Banyak dalil syar’i yang menegaskan hal itu. Di antaranya, hadits al-Bukhari dan Muslim mengisahkan para sahabat memberikan ucapan selamat kepada Ka’ab bin Malik, setelah taubatnya diterima Allah f. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: