Hukum Buang Hajat Menghadap Kiblat

Hukum Buang Hajat Menghadap Kiblat

 وَيَجْتَنِبُ اسْتِقْبَالَ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاءِ

“Dan menghindari dari menghadap kiblat maupun membelakanginya ketika (qadha’ul hajjah) di padang pasir.”

Di antara adab yang harus dijaga ketika qadha’ul hajjah adalah tidak mengadap kiblat dan membelakanginya bila hal itu dilakukan di padang pasir atau di suatu tempat yang terbuka.

Illat dari larangan menghadap dan membelakangi kiblat karena Ka’bah adalah arah yang paling mulia, Ka’bah adalah kiblat seorang hamba melakukan shalat, haji, umrah dan thawaf. Maka dari itu wajib bagi umat Islam untuk mengagungkannya dengan menjauhkan dari semua hal yang dapat merusak kesuciannya, dengan alasan ini umat Islam dilarang untuk qadha’ul hajjah menghadap kiblat dan membelakanginya.

Berdasarkan hadits Abu Ayub al-Anshari yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda, “Jika kalian hendak buang air besar maka jangan menghadap kiblat saat buang air besar dan saat buang air kecil, juga jangan membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau barat.” Pada saat itu Rasulullah berada di sebelah utara Masjidil Haram.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang dari kamu duduk untuk membuang hajatnya, janganlah ia menghadap atau membelakangi kiblat.” (HR. Muslim)

Para ulama sepakat atas dilarangnya qadha’ul hajjah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika hal itu dilakukan di tempat terbuka, kesepakatan ini berdasarkan hadits-hadits shahih yang dua di antaranya telah disebutkan di atas.

Adapun yang diperselisihkan adalah bagaimana bila qadha’ul hajjah dilakukan di dalam ruangan tertutup, arah kiblat terhalangi dinding atau bangunan dan semacamnya yang dapat menutupi arah kiblat.

Ada dua pendapat ulama, pertama, secara mutlak melarang qadha’ul hajjah menghadap dan membelakangi kiblat, baik dalam ruangan tertutup maupun terbuka, baik hajjat kecil maupun besar, baik sekedar istinja’ maupun istijmar. Demikian ini adalah pendapat ulama mazhab Hanafi. Kedua, apabila qadha’ul hajjah dilakukan di tempat yang tertutup maka tidak mengapa menghadap atau membelakangi kiblat. Berdasarkan sebuah hadits yang disebutkan dalam ash-Shahihain, yaitu hadits Ibnu Umar, ia berkata, “Suatu hari saya naik di atas rumah Hafshah untuk suatu keperluan tiba-tiba saya (tidak sengaja)  melihat Rasulullah buang air membelakangi kiblat menghadap Syam (arah baitul maqdis).” Ini adalah pendapat ulama mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Bahkan ulama Syafi’i berpendapat bolehnya beristinja’ dan istijmar menghadap kiblat atau membelakinya, karena larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah untuk buang air besar dan kecil.

Pendapat pertama beralasan bahwa hadits Ibnu Umar tersebut menunjukkan kekhususan Rasulullah dalam hal ini, karena beliau melakukannya di rumah dan tidak diketahui oleh orang lain, Ibnu Umar pun mengetahuinya karena ketidaksengajaan, sehingga menurut mereka secara mutlak umat Islam tidak boleh qadha’ul hajjah menghadap dan membelakangi kiblat.

Adapun pendapat yang lebih shahih adalah pendapat yang kedua, yaitu tidak mengapa qadha’ul hajjah menghadap dan membelakangi kiblat bila dilakukan di dalam tempat yang tertutup. Pendapat ini dipilih oleh sebagian besar para ulama, seperti Ibnu Qudamah, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, Syaikh Shalih al-Utsaimin, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini al-Mas’udi menambahkan, terkait kondisi seseorang yang menjadikan dinding sebagai pembatas antara dia dan kiblat, bahwa disyaratkan posisisi qadha’ul hajjah dekat dengan dinding, apabila antara dia dan bangunan berjarak dua shaf maka sama seperti di padang pasir atau tempat terbuka.

Tidak disyaratkan berbentuk sebuah bangunan atau sesuatu yang beratap, bahkan seandainya antara dia dan kiblat ada binatang, atau membatasi dengan baju dari belakang maka sudah dianggap seperti bangunan, karena hal itu menutupinya dari arah kiblat.

Apabila berada pada posisi tanah yang lebih rendah, antara dia dan kiblat tertutupi oleh tanah, atau tertutupi dengan pepohonan maka dalam hal ini ada dua pendapat para ulama: pertama hal itu tidak dianggap seperti bangunan, kedua (yaitu pendapat yang shahih) hal itu dianggap seperti bangunan karena sudah cukup menutupi dari ara kiblat.

Namun demikian, seyogiyanya seorang muslim mampu menjaga keshalihannya dengan tidak menghadap dan membelakangi kiblat saat qadha’ul hajjah meskipun itu diperbolehkan ketika dilakukan dalam ruangan tertutup, bisa jadi hal ini lebih menghadirkan ketentraman dalam menghormati arah kiblat. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun kamar kecil yang tempat qadha’ul hajjah-nya tidak menghadap dan membelakangi kiblat. Sekali lagi, meskipun hal itu diperbolehkan. Wallahu a’lam. []

baca juga: Menghadap Kiblat Ketika shalat

Referensi:

  1. Al-Bayan fi Mazhabi asy-Syafi’i, Yahya bin al-Khair, 1/204.
  2. Kifayahtul Akhyar fi Hilli Ghayatil Ikhtishar, Muhammad al-Husain al-Hushni, hal. 51
%d bloggers like this: