Homoseksual Kembali Dibela

homoseksual

Di Aceh terdapat peraturan hukum cambuk bagi pelaku homo. Moment ini dimanfaatkan untuk mengaburkan ajaran Islam yang benar. Dengan mengutip ayat al-Quran dan hadits, kemudian menafsirkannya sesuai kemauan.

ANALISA NYELENEH

Dalam sebuah artikel, seorang koordinator Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) aktifis GUSDURian, mengulas hukuman cambuk bagi pelaku homoseksual. Baginya, mencambuki pelaku praktik homoseksual tersebut tidak hanya melecehkan kemanusiaan tapi juga menghina akal sehat.

Lebih lanjut dia paparkan bahwa kisah kaum Nabi Luth menunjukkan pengutukan al-Quran sangat kuat terasa dalam hubungan seksual sejenis yang bersifat koersif (paksaan). Bahkan ia katakan, seluruh pihak (Muslim) yang menyandarkan luapan kebenciannya terhadap homoseksual tidaklah cermat membaca seluruh narasi qur’anik yang tersebar setidaknya dalam 7 surat. Jika pembumi hangusan kaum Luth karena praktik homoseksual, apakah kita berani menyatakan istri Luth–yang juga terkena azab– adalah seorang lesbian?

Dia juga memaparkan perihal aktivitas seksual sesama jenis yang berbasiskan cinta kasih non-eksploitatif. Tulisnya, “Dapat dikatakan, al-Qur’an tidak bersikap secara tegas, jika tidak bisa dibilang diam. Memang terdapat dua ayat dalam QS. Al-Nisa, ayat 15-16, yang secara literal terkesan merestriksi homoseksualitas. Namun demikian, hampir semua mufassir bersepakat dua ayat ini berkaitan dengan perzinahan heteroseksual, bukan homoseksual. Alih-alih merepresi para gay, al-Qur’an justru malah menyebut mereka sosok pria yang tidak punya hasrat seksual terhadap perempuan (QS. al-Nur 31)”.

Sedangkan hadits Nabi yang mengutuk praktik kaum Luth. Baginya, hanya berlaku pada pemerkosaan anal homoseksual sebagaimana kaum Luth. Ia juga mengutip hadits Nabi riwayat Abu Dawud nomor 5125 Kitab al-Adab, yang menurutnya nabi bersikap apresiatif terhadap erotisisme sejenis. (http://geotimes.co.id/mencambuki-homoseksual-mencambuki-keislaman-kita/diakses 10 Juni 2017, 14: 11 WIB).

TANGGAPAN SYUBHAT

Orang yang manusiawi dan berakal sehat, pasti akan berusaha menghindari atau bahkan membuang jauh sumber penyakit. Fakta-fakta empirik menunjukkan bahwa homoseksual—baik yang bersifat koersif (paksaan), tanpa paksaan (mutual consent), atau seksual eksploitatif (tipu daya)—merupakan perilaku seksual yang paling beresiko tertular HIV-Aids dan penyakit kelamin lainnya.

Penyakit HIV-Aids ditemukan pertama kali pada kelompok Homoseksual di Amerika dan saat ini bermunculan berbagai jenis penyakit kelamin mematikan yang hanya ditemui pada kelompok homoseksual. Menurut CDC (2016), insiden HIV pada homoseksual pada anak usia 13 tahun sebanyak 67% dari semua penderita HIV pada tahun 2014. Sementara antara usia 13 sampai 24 tahun, tercatat 92% dari semua penderita yang ada (www.cdc.gov/hiv/pdf/group/msm/cdc-hiv-msm.pdf/diakses 23 juni 2017, 10:24 WIB).

Disisi lain, Plato menyatakan bahwa hubungan sejenis adalah hubungan yang tidak alami atau bertentangan dengan hukum alam (natural law). Plato berargumen bahwa tidak ditemukan binatang yang melakukan tindakan homoseksual. Selain itu, menurut Plato hubungan homoseksual juga memperlemah kekuatan militer karena pria akan kehilangan sifat kelaki-lakiannya ketika menempatkan diri dalam peran wanita. (Louis Crompton, Homosexuality and Civilizations, (Cambridge: The Belknap Press of Harvard University Press, 2003), 62).

Terkait dengan ayat al-Quran. Rasanya sangat naif dan gegabah jika menyatakan bahwa seluruh pihak muslim kurang cermat. Sementara fakta empirik banyak membuktikan efek buruk dari perilaku homoseksual. Kalau masalah istri Nabi Luth, memang tidak bisa kita pastikan bahwa dia lesbian. Tapi perlu kita ingat, bahwa masalah kebejatan moral akan membawa dampak kepada orang banyak, bahkan yang tidak melakukannya pun bisa terkena getahnya (lihat dan cermati Al-Anfal 25).

Selanjutnya mengkaitkan gay dengan surat an-Nur ayat 31, perlu dicek ulang. Sebab, yang dimaksud dalam ayat itu adalah mereka yang tidak lagi memiliki syahwat baik dalam hati maupun alat kelaminnya. Baik karena kurang akal atau karena cacat (Abdurahman as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir kalam al-Manan, (Muassasah Risalah, Cet-1, 1420 H), 566). Kalau mau dipaksakan, pelaku homoseks masuk dalam kategori yang mana? Kurang akal atau cacat?

 

BACA JUGA: LEGALISASI LGBT

 

Kemudian, terkait dengan apresiasi Rasul dengan dalil hadits. Untuk mengetahui makna hadits, perlu ditanyakan kepada ahlinya. Bukan hanya persangkaan pribadi. Apalagi tidak disertai kapabilitas yang memadai.

Dalam hadits tersebut, yang disebutkan adalah suka atau cinta karena Allah. Maksudnya adalah suka atau cinta untuk mencari ridha Allah (Al-Adhim Abadi, Aunul Ma’bud, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, Cet-3, 1415 H), 14/24). Homoseks adalah perilaku yang merusak dan jauh dari fitrah manusia. Tanpa disertai rasa benci pun orang akan merasa perlu menjauhi sumber penyakit. Maka keridhaan Allah mana yang diinginkan melalui perilaku yang merusak? Wallahu A’lam. [-]

 

Oleh: Ilyas Mursito

 

 

 

Baca juga kumpulan materi Khutbah Jum’at:

  1. Carilah Pemimpin Yang Mengantarkan Pada Takwa
  2. Berinfaqlah Untuk Mencari Ridho Allah Semata

  3. Khawatir Soal Rezeki, Tak Khawatir Soal Akidah Buah Hati

  4. Jauhi Dosa Besar Dosa Kecil Terampuni

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda,
info dan pemesanan majalah fikih hujjah
hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

 

 

%d bloggers like this: