Hikmah Medis Di Balik Kenajisan Tinja

Hikmah Medis Di Balik Kenajisan Tinja

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah oleh kalian dua hal yang mendatangkan laknat!” Para sahabat bertanya, “Apakah dua hal yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Buang hajat di jalan umum yang dilalui orang-orang atau di tempat orang-orang berteduh.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad)

Dari Abu Qatadah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian buang hajat, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan pula membersihkannya (cebok) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah Medis

Berbagai penemuan ilmiah, salah satunya mikroskop, dapat membantu manusia dalam memahami manfaat tuntunan Rasulullah SAW dalam hadits-hadits shahih di atas.

Di Balik Kenajisan Tinja

ADA APA DALAM TINJA?

Feses (tinja) manusia, baik pada manusia yang sehat maupun manusia yang sakit, mengandung mikroorganisme-mikroorganisme yang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit. Berbagai mikroorganisme tersebut dapat berupa jutaan bakteri, virus, parasit, dan jamur. Jika manusia melanggar tuntunan Rasulullah SAW dalam hadits-hadits di atas, mereka dapat terkena berbagai jenis penyakit akibat mikroorganisme.

Sebanyak 90 persen masa tinja terdiri atas mikroorganisme-mikroorganisme. Tangan yang terkontaminasi oleh mikroorganisme penyebab penyakit dapat menularkan penyakit itu kepada orang lain, hingga akhirnya penyakit itu pun tersebar.

Makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh tinja juga dapat menularkan beberapa penyakit berbahaya. Beberapa penyakit tersebut, antara lain, adalah demam tifus, kolera, disentri, radang liver, polio pada anak-anak, dan muntaber.

ADA SALMONELLA TYPHI

Salah satu mikroorganisme berbahaya dalam tinja adalah bakteri salmonella typhi yang dapat menyebabkan demam tifus. Penularannya terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut. Dari sini bisa dipahami hikmah di balik larangan menyentuh kemaluan atau cebok dengan tangan kanan.

Jika kondisi daya tahan tubuh seseorang yang terserang bakteri ini lemah, ia bisa terkena demam tifus. Masa inkubasi demam tifus berkisar antara 5 – 14 hari. Setelah masuk ke dalam mulut bersama makanan yang terkontaminasi, bakteri salmonella typhi akan masuk ke usus besar hingga akhirnya masuk ke usus halus dan menempel pada sel-sel lapisan usus. Bakteri ini kemudian membakar lapisan dalam usus melalui sel-sel penelan yang biasanya tidak mampu membunuh bakteri.

Setelah masuk dan mengalahkan sel-sel penelan, bakteri salmonella typhi akan sampai ke aliran darah melalui kelenjar limfa (kelenjar getah bening) hingga kemudian terjadilah bakteremia, yaitu beredarnya bakteri di dalam darah. Setelah itu, bakteri salmonella typhi menyebar ke organ hati atau liver, kantong empedu, limfa, ginjal, dan sumsum tulang.

Selama proses tersebut, terjadi peningkatan suhu pada tubuh penderita disertai munculnya gejala-gejala tifus, seperti pusing, tubuh lemah, kadang disertai batuk ringan, rasa sakit dan nyeri di dalam perut, diare, dan sembelit. Biasanya pada kulit perut penderita muncul bercak-bercak berwarna merah mawar.

Dalam fase ini, bakteri salmonella typhi keluar bersama tinja dan air kencing dalam jumlah yang sangat besar.

Penderita demam tifus yang sudah sembuh tetap membawa bakteri salmonella typhi di dalam tubuhnya selama bertahun-tahun. Bakteri ini hidup di dua tempat, yaitu kantong empedu dan lubang ginjal.

Pada kantong empedu, bakteri salmonella typhi dapat menyebar ke usus, kemudian keluar bersama tinja. Sementara itu, bakteri salmonella typhi pada lubang ginjal keluar bersama air kencing.

Tinja atau air kencing penderita demam tifus dan orang yang di dalam tubuhnya masih terdapat bakteri salmonella typhi, bisa mengontaminasi tanah dan air. Bakteri salmonella typhi mampu bertahan di tanah bersama dengan tinja selama tujuh minggu, dan mampu bertahan di dalam air selama empat minggu.

PREVENTIF LEBIH BAIK

Dalam hadits shahih di atas, Rasulullah SAW melarang setiap orang untuk buang hajat di jalan yang dilalui manusia dan di bawah tempat orang-orang biasa berteduh.

Dari tinjauan medis, larangan tersebut merupakan tindakan preventif demi kemaslahatan umum, yaitu menghindarkan penularan penyakit akibat bakteri dalam tinja.

baca juga: Hikmah ,edis di Balik Kenajisan Anjing dan Kesucian Tanah

Rasulullah SAW juga melarang cebok dengan tangan kanan. Telah dibuktikan secara ilmiah bahwa sebagian besar kasus keracunan, tifus, dan disentri disebabkan oleh pengonsumsian makanan yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme dan orang-orang yang tidak menjaga kebersihan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Imam An-Nawawi berkata, “Larangan buang air besar pada tempat berteduh dan jalan yang dilalui manusia, adalah karena hal itu mengganggu kaum muslimin yang lewat dengan najis, bau busuk, dan kotorannya.” Wallahu a’lam. []

 

Sumber:

Yusuf al-Hajj Ahmad, Mawsu’ah al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an wa as-Sunnah.

An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim.

 

Abu Ammar

 

# Hikmah Medis # Hikmah Medis # Hikmah Medis # Hikmah Medis # Hikmah Medis #

 

%d bloggers like this: