Hijab bukan Jilbab, benarkah?

Hijab bukan Jilbab, benarkah?

Ungkapan mahram dan muhrim mungkin tak asing ditelinga kita. Kelihatanya sama padahal berbeda. Dari sini sekilas kita melihat begitu urgennya sebuah definisi, karena dengannya akan diketahui makna sesuatu. Berangkat dari urgennya definisi, ‘Asymawi seorang alumnus Fakultas Hukum Universitas Farouk II tahun 1955, ia mengotak-atik makna hijab dalam al Quran. Berikut kami paparkan argumentasinya berikut sanggahannya.

 

Surat Al Ahzab ayat 53

Dengan mengutip dari lisanul arab, Asymawi mengatakan bahwa hijab secara bahasa maknanya adalah satir (penutup atau pembatas), menghijabi sesuatu artinya membatasi sesuatu. Jadi, wanita berhijab maksudnya adalah wanita yang dibatasi atau ditutupi sesuatu. Dan ia menyebutkan bahwa hukum khusus perintah hijab dalam surat al Ahzab ayat 53 dikhususkan untuk istri-istri nabi saja, dan tidak berlaku bagi para budak dan juga para mukminah yang lain. Dan pendefinisian hijab dengan penutup kepala itu keliru menurutnya, karena secara bahasa hijab maknanya adalah pembatas atau penutup. (Al ‘Asymawi, Haqiqat al hijab, Hal 15)

Lebih lanjut Asymawi menyatakan bahwa ayat 53 dari surat al Ahzab tidak ada kaitannya sama sekali dengan perintah menutup kepala, bahkan lebih lanjut ia katakan bahwa ini sekedar hasil rabaan hukum syar’i yang tidak ada hukumnya. (Ibid, Hal 36)

(baca juga: Illat Disyariatkannya Jilbab Sudah Hilang, Benarkah?)

Statemen yang menyebutkan bahwa pensyariatan hijab ini dikhususkan bagi istri Nabi saja adalah keliru. Karena hukum yang berlaku bagi istri Nabi juga berlaku bagi para mukminah. Sebab ayat ini berkaitan dengan hukum syari dalam masalah akhlak mulia, yang nota bene dibutuhkan setiap individu. Dalam ayat tersebut disebutkan “Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. Syaikh asy-Syinqithi menyebutkan bahwa ayat ini merupakan indikator paling jelas yang menunjukkan keumuman hukumnya. Karena tidak ada satupun dari umat islam yang menyatakan bahwa selain istri Nabi tidak membutuhkan hati yang bersih dan terjaga. (Asy-Syinqithi, Adwaul Bayan, 6/242) Setiap lelaki maupun perempuan disetiap tempat dan zaman membutuhkan sesuatu demi kebersihan hati dan ketenangan jiwanya. Analogi sederhana yang lain bahwa jika ummahatul mukminin saja perlu dijaga kebersihan hatinya apalagi selain mereka, terlebih lagi para mukminah yang hidup jauh dizaman nubuwah.

Al Qurtubi menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT membolehkan untuk meminta suatu kebutuhan atau bertanya satu permasalahan kepada para istri Nabi dibalik hijab. Dan secara implisit perintah dalam ayat ini mencakup seluruh wanita selain istri Nabi. Selain itu sesuai dengan tuntunan syariat bahwa wanita adalah aurat baik itu badannya, suaranya dan lainnya. Sehingga tidak boleh dinampakkan kecuali diperlukan seperti persaksian, berobat atau bertanya perihal sesuatu yang menimpa dirinya.” (Al Qurtubi, Al Jaami’, 14/227)

Kesimpulan tentang definisi hijab, tidak bisa berhenti hanya pada makna bahasa saja, karena itu akan menimbulkan kerancuan. Sebagaimana kata “sholat” jika diartikan dengan “doa” saja maka akan meruntuhkan makna shalat secara syar’i. Lafadz hijab dalam al Quran secara keseluruhan maknanya berkisar antara penghalang dan penutup. Diantaranya ada 2 ayat yang khusus berbicara tentang hijab antara laki-laki dan perempuan, yaitu surat Maryam ayat 17 dan al Ahzab ayat 53. Adapun makna hijab, Ibnu Hazm menyatakan bahwa dalam bahasa arab sebagaimana yang disampaikan Nabi kepada kita, maksudnya adalah sesuatu yang menutup seluruh badan dan bukan sebagian saja. (Ibnu Hazm, al Muhalla, 3/217) Bahkan bukan hanya sekedar menutupi dirinya didalam rumah (Al Qisthalaani, Irsyaadus Saari, 7/303).

Oleh karena itu, agar makna hijab lebih komprehensif adalah dengan melihat dari tujuan berhijab, yaitu suatu lafadz yang menghimpun beberapa hukum syar’i yang bersifat sosial kemasyarakatan dengan memposisikan wanita dalam masyarakat islami terkait dengan larangan menampakkan perhiasannya didepan yang bukan mahramnya. (Al Muqaddam, Audatul Hijab, 3/71) Dengan makna seperti ini, mencakup hijab yang bermakna pembatas atau pun pakaian serta penutup kepala dan juga terlihat disini kekeliruan sudut pandang Asymawi dalam mendefinisikan hijab, yang berani mengklaim kesalahan definisi hijab yang telah ditentukan para ulama. Maka kita harus selalu waspada dan berhati-hati dalam menyikapi sesuatu.

 

Referensi:

Ibnu Hazm, Al Muhalla bil Atsaar, (Beirut: Darul Fikr, TT)

Muhammad Ahmad Al Muqaddam, Audatul Hijab, (Riyadh: Dar Thibah, Cet-10, 1427 H/2006 M)

Muhammad al Amin asy-Syinqithi, Adwaul Bayan fi Idhahi al Quran bil Quran, (Beirut: Darul Fikr, 1415 H/1995 M)

Muhammad Sa’id al ‘Asymawi, Haqiqat al hijab wa hujjiyah Al hadits, (Maktabah Madbuli As Shaghir, Cet-2, 1415 H- 1995 M)

Syamsyuddin al Qurthubi, Al Jaami’ li Ahkaamil Quran, tahqiq: Ahmad al Birduni dan Ibrahim Athfiisy, (Kairo: Darul Kutub al Mishriyah, Cet-2, 1384 H/1694 M)

Syihabudin al Qisthalaani, Irsyaadus Saari Lisyarhi Shahih al Bukhari, (Mesir: Matba’ah al Kubra al Amiriyah, Cet-7, 1323 H)

%d bloggers like this: