Haruskah Sujud Sahwi?

Haruskah Sujud Sahwi?

كَانَتِ الرَّكْعَةُ وَالسَّجَدَتَانِ نَافِلَةً

Satu rakaat dan dua sujud adalah nafilah (tambahan)”. (HR. Abu Daud)

Lupa adalah salah satu sifat yang melekat pada diri setiap insan. Bahkan terkadang dalam amalan ibadah pun terkadang ada yang terlupa. Misalnya shalat, terkadang kita lupa berapa rakaat yang sudah kita kerjakan dalam shalat, sudahkah tadi melaksanakan ruku’, dll. Tatkala hal ini menimpa kita, ternyata ada amalan yang disyari’atkan Rasulullah ﷺ untuk dikerjakan. Para alim ulama menyebuat amalan ini dengan nama “sujud sahwi.” Apa itu sujud sahwi? Apa hukumnya? Topik di atas, akan menjadi ulasan fikih dalil kali ini.

APA ITU SUJUD SAHWI?

Secara bahasa adalah sesuatu yang terlupakan dan terlalaikan. Adapun pengertian menurut para alim ulama adalah sujud yang dikerjakan di akhir shalat (sebelum salam) atau sesudah salam untuk menutupi kekurangan dalam shalat, baik karena meninggalkan hal-hal yang diperintahkan untuk dikerjakan atau malah mengerjakan beberapa perbuatan yang dilarang tanpa disengaja. (Al-Mausu’ah alFiqhiyah al-Kuwaitiyah, 24/234)

HUKUM SUJUD SAHWI

Hukum sujud sahwi menurut para ulama terbagi menjadi dua sebagaimana yang dijelaskan oleh DR. Wahbah az-Zuhaili. 

Pertama, sujud sahwi hukumnya sunnah. Pendapat ini dipegangi oleh para ulama mazhab Maliki dan Syafi’i. Mereka berpendapat sunnah berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, “Satu rakaat dan dua sujud adalah nafilah (tambahan).” (HR. Abu Daud) Mengenai hadits tersebut, Imam anNawawi menjelaskan, “Tidak mengerjakan sujud sahwi tidaklah membatalkan shalat”. (Al-Majmu’, an-Nawawi, 4/ 151). Kedua, sujud sahwi hukumnya wajib. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh para ulama mazhab Hanafi dan mazhab Hanbali.

Wajib manakala yang ditinggalkan adalah bagian shalat yang hukumnya wajib, seperti bacaan ruku’ atau sujud, dll. Maka dalam kondisi seperti ini diwajibkan sujud sahwi. Sehingga ketika sujud sahwi ini tidak dikerjakan akan mendapatkan dosa, akan tetapi shalatnya tetap sah.

Adapun ketika yang ditinggalkan adalah bagian shalat yang hukumnya sunnah, maka sujud sahwi hukumnya sunnah, bukan wajib. Contohnya, tidak membaca doa iftitah.

BACA JUGA: SUJUD SYUKUR SETELAH SHALAT

Demikian pula ketika rakaat ke tiga dan keempat dalam shalat ruba’iyah (shalat yang jumlahnya empat rakaat) membaca surat pendek, dalam kasus ini sujud sahwi hukumnya jaiz (boleh), bukan wajib.
Kewajiban sujud sahwi menurut pendapat kedua ini berlaku bagi imam dan orang yang shalat sendiri.

Di antara landasan mereka adalah hadits Abdullah bin Mas’ud, “Rasulullah ﷺ pernah shalat bersama kami lima raka’at. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau menambah dalam shalat?’ Lalu beliau pun mengatakan, ‘Memang ada apa tadi?’

“Para sahabat pun menjawab, ‘Engkau telah mengerjakan shalat lima rakaat.’ Lantas beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia semisal kalian. Aku bisa memiliki ingatan yang baik sebagaimana kalian. Begitu pula aku bisa lupa sebagaimana kalian pun demikian.’ Setelah itu beliau melakukan dua kali sujud sahwi.” (HR. Muslim no. 572. Ikhtiyar Lita’lili al-Mukhtar, Abdullah bin Mahmud bin Maudud al-Hanafi, 1/78, Fiqhul Islami wa Adilatuhu, Wahbah az-Zuhaili, 2/ 264.)

SEBAB DIBERLAKUKANNYA SUJUD SAHWI

Sujud sahwi disyariatkan disebabkan karena adanya ziyadah (penambahan), Naqsh (pengurangan) dan Syakk (ragu-ragu) dalam gerakan atau bacaan shalat. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan.

ZIADAH (PENAMBAHAN)

Apabila seorang yang shalat menambah rukun shalatnya, baik menambah berdiri, duduk, rukuk, atau sujud secara sengaja, maka shalatnya tidak sah. Jika dia melakukannya karena lupa dan dia tidak ingat bahwa dia telah menambah shalatnya hingga selesai shalat, maka dia tidak terkena beban apa pun kecuali hanya mengerjakan sujud sahwi, dan shalatnya tetap sah. 

Tetapi jika dia telah menyadari adanya tambahan tersebut di tengah mengerjakan shalat, maka dia wajib kembali ke posisi yang benar, lalu mengerjakan sujud sahwi, dan shalatnya tetap sah.

Dalilnya adalah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah shalat dhuhur 5 (lima) rakaat. Maka ada yang bertanya kepada beliau: ‘Apakah shalat sengaja ditambah?’ Beliau menjawab: ‘Memangnya apa yang terjadi?’ Kemudian mereka menjawab: ‘Anda telah mengerjakan shalat (zhuhur) lima rakaat.’ Maka beliau langsung sujud dua kali kemudian salam.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

NAQSH (PENGURANGAN)

Bentuk pengurangan dalam mengerjakan shalat ada beberapa macam, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Pengurangan rukun shalat

Apabila seorang yang shalat mengurangi (tidak mengerjakan) salah satu rukun shalat, maka jika yang kurang tadi adalah takbiratul ihram, maka tidak ada shalat baginya, baik ketika dia meninggalkannya karena sengaja maupun karena lupa, sebab shalatnya belum dianggap dimulai. Jika yang kurang tadi bukan takbiratul ihram, dia sengaja meninggalkannya, maka shalatnya batal.

Tetapi jika dia meninggalkannya karena lupa, bila dia telah sampai pada rakaat kedua maka dia harus membiarkan rukun shalat yang tertinggal tadi dan mengerjakan rakaat berikutnya sebagaimana posisinya. Tetapi jika dia belum sampai pada rakaat kedua, maka dia wajib mengulangi kembali rukun shalat yang tertinggal tadi, kemudian menyempurnakannya dan rukun-rukun setelahnya. Dalam kedua kondisi ini, maka dia wajib mengerjakan sujud sahwi setelah salam.

2. Kekurangan pada bagian yang diwajibkan dalam shalat

Sesungguhnya orang yang shalat lalu sengaja tidak mengerjakan salah satu dari hal-hal yang diwajibkan dalam shalat, maka shalatnya tidak sah.

Apabila tidak mengerjakannya karena lupa, kemudian dia baru ingat kembali sebelum mengerjakan kewajiban-kewajiban shalat yang lainnya, maka dia harus menyempurnakan kewajiban yang terlupa tadi dan dia tidak terkena beban apapun. Apabila baru ingat kembali setelah tidak pada posisinya tetapi belum sampai pada rukun shalat berikutnya, maka dia harus kembali dan mengerjakan kewajiban shalat yang terlupakan tadi, kemudian baru menyempurnakan shalatnya dan salam. Setelah itu hendaknya dia bersujud sahwi dan salam lagi.

Tetapi jika dia baru ingat setelah sampai pada rukun shalat berikutnya, maka tidak perlu dan dia tidak boleh kembali untuk mengerjakan rakaat yang terlupakan tadi, kemudian dia diharuskan melanjutkan shalatnya dan mengerjakan sujud sahwi sebelum salam.

Akan tetapi, jika dia baru ingat setelah berdiri dengan sempurna, maka gugurlah kewajiban baginya untuk mengerjakan tasyahud yang terlupakan tadi dan dia tidak boleh kembali untuk mengerjakan tasyahud tersebut. Selanjutnya dia hanya tinggal menyempurnakan shalatnya dan mengerjakan sujud sahwi sebelum salam.
Dasarnya adalah sebuah hadits dari Abdullah bin Buhainah z, “Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah shalat zhuhur bersama para sahabat, kemudian beliau langsung berdiri pada rakaat kedua (tasyahud awal) dan beliau tidak duduk, maka orang-orang pun juga ikut berdiri bersama beliau hingga shalat selesai. Kemudian semua orang menunggu-nunggu beliau salam, tetapi beliau bertakbir lagi padahal beliau sedang duduk, kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, setelah itu baru beliau salam.” (HR. Al-Bukhari)

ASY-SYAKK (RAGU-RAGU)

Asy-Syakk adalah keraguan antara dua perkara, mana di antara keduanya yang benar. Ragu-ragu yang tidak perlu dihiraukan dalam ibadah adalah dalam tiga kondisi.

Pertama, Apabila keraguan itu hanya berupa angan-angan belaka yang tidak nyata, seperti perasaan was-was.

Kedua, Apabila seseorang sering sekali dihinggapi perasaan ragu-ragu, sehingga setiap kali dia ingin melaksanakan suatu ibadah pasti akan ragu-ragu.

Ketiga, Apabila keragu-raguan itu muncul setelah melaksanakan suatu ibadah. Maka dia tidak perlu menghiraukan perasaan raguragu tersebut selama perkaranya belum jelas dan dia harus mengerjakan sesuai dengan apa yang diyakininya.

Sedangkan merasa ragu selain dalam tiga kondisi tersebut, maka perlu dipertimbangkan (diperhatikan). Apabila tidak mampu menentukan mana yang lebih kuat antara kedua perkara tersebut, maka dia harus mengerjakan sesuai dengan apa yang diyakininya (yakni dia tidak mendapatkan rakaat tersebut), lalu dia harus menyempurnakan shalatnya dan sujud sahwi sebelum salam, kemudian baru salam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-Utsaimin, 14/9499) Wallahu a’ lam. [ ]

%d bloggers like this: