Haram Muhaddad Dan Haram Maftuh Menurut Syahrur

Haram Muhaddad Dan Haram Maftuh Menurut Syahrur

Kita sering mendengar—atau paling tidak pernah mendengar— istilah haram li dzatihi (haram dikarenakan zatnya) dan haram li ghairihi (haram disebabkan faktor lain). Namun ada pembagian haram lain yang ingin diperkenalkan oleh seorang tokoh liberalArab ternama, Muhammad Syahrur, yaitu haram muhaddad (terbatas) dan haram maftuh (terbuka).

IDE SYAHRUR

Menurut klaim Syahrur, telah terjadi mengada-adakan suatu hukum atas nama Allah dalam persoalan halal dan haram. Suatu yang diharamkan saling tumpangtindih sehingga menjadi tanpa batas. Dapat terus bertambah melalui fatwa yang tak terhitung dan tak terhingga.

Dalam pandangan Syahrur, haram adalah suatu hukum komprehensif, abadi, dan paten yang berupa larangan, serta tidak ada rukhshah (keringanan) di dalamnya. Menetapkan hukum haram adalah mutlak otoritas milik Allah. Tidak seorang pun berhak menambahkan suatu yang haram atau menghapusnya, termasuk Rasulullah ﷺ, kecuali dalam konteks risalah.

Menurut Syahrur, muharramat (yang diharamkan) dalam al-Quran terbatas jumlahnya. Tidak lebih dari 14 item, yaitu:

(1) menyekutukan Allah,

(2) durhaka kepada kedua orang tua,

(3) membunuh anak lantaran miskin atau khawatir miskin,

(4) mendekati perbuatan yang keji,

(5) membunuh jiwa tanpa alasan yang benar (baca QS. Al-An’am: 151),

(6) memakan harta yatim,

(7) curang dalam takaran dan timbangan,

(8) persaksian palsu,

(9) melanggar perjanjian (baca QS. Al-An’am: 152),

(10) memakan bangkai, darah, daging babi, dan mengundi nasib dengan anak panah (QS. Al-Maidah: 3),

(11) perbuatan dosa dan zalim tanpa alasan yang benar,

(12) mengada-adakan sesuatu atas nama Allah (QS. Al-A’raf: 33),

(13) menikahi mahram (QS. An-Nisa’: 23), dan

(14) riba (QS. Al-Baqarah: 275).

Haram seperti inilah yang ia sebut dengan haram muhaddad (terbatas).

Adapun selain itu, menurut Syarhur, baik berupa hadits Nabi ﷺ yang berisi perintah dan larangan, maka ia tunduk pada kondisi yang terjadi agar seorang bisa berijtihad untuk menentukan syatat-syaratnya. Syahrur lalu memberi contoh seperti rijs (kekejian) khamar misalnya, adalah karena memabukkan. yang karenanya Allah melarang kita. Namun memanfaatkan khamar untuk keperluan kedokteran hukumnya tidak ada masalah (la ghubara ‘alaih). Haram seperti inilah yang ia maksud dengan haram maftuh (terbuka) (lihat http://www.shahrour.org/?p=4225)

TANGGAPAN

Seorang Muslim meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pembuat syariat, yang berhak menentukan syariat halal-haram. Sementara Rasul n adalah sebagai muballigh (penyampai syariat) dan mujtahid sebagai mukhbir (pemberi kabar tentang syariat). Akan tetapi di antara rahmat-Nya adalah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberi kaidah-kaidah umum kepada Rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum, yang kemudian disampaikan oleh Rasul-Nya kepada para mujtahid di kalangan umatnya.

BACA JUGA: TAFSIR SHIYAM ALA SYAHRUR

Oleh itu, manakala seorang mujtahid menetapkan suatu hukum berdasarkan dalil syar’i atau kaidah-kaidah umumnya, bukan berarti bahwa ia mengadakan-adakan suatu hukum atas nama Allah. Mengada-adakan suatu hukum atas nama Allah yang dilarang adalah ketika tidak berdasarkan dalil syar’i atau kaidah-kaidah umum syariat. (Muhammad Sulaiman al-Asyqar, Al-Wadhih fi Ushulil Fiqh, h. 21).

Perkara-perkara haram yang disebutkan para ahli fikih bukan berarti mempersempit keluasan agama Islam. Justu hal itu adalah pengamalan firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang memerintahkan umatnya untuk mengambil pelajaran dari al-Quran (baca QS. Hasyr: 2).

Dan jika dibandingkan apa yang tidak dihukumi haram dengan apa yang dihukumi haram oleh ahli fikih, jelas yang tidak dihukumi haram jauh lebih banyak dibanding dengan yang dihukumi haram. Ini menunjukkan bahwa mengharamkan sesuatu yang berdasarkan kaidah syariat bukanlah usaha untuk mempersempit keluasan agama Islam.

Point lain yang perlu dikritisi dari ide Syahrur adalah tentang definisi haram dan pembagiannya menjadi muhaddad dan maftuh. Pendapat Syahrur bahwa definisi haram adalah ‘suatu hukum komprehensif, abadi, dan paten yang berupa larangan, serta tidak ada rukhshah (keringanan) di dalamnya’ belum teruji kebenarannya. Bahkan dari 14 perkara haram yang ia sebut dengan muhaddad, ada beberapa rukhshah yang diberikan syariat. Bahkan itu disebut dalam al-Quran, seperti ruhkshah mengucapkan kata-kata kekufuran (yang berarti menyekutukan Allah) saat dalam kondisi terpaksa (baca QS an-Nahl: 106).

Dari sana tampak ketidak-konsistenan Syahrur dalam membagi haram menjadi muhaddad dan maftuh. Jika pembagian itu adalah berdasarkan muharramat yang dinyatakan tegas dalam al-Quran dan tidak ada rukhshah di dalamnya, jelas Syahrur tidak konsisten dengan pendapatnya.

Selain rukhshah mengatakan perkataan kekufuran di atas, misal lainnya yaitu hukum khamar yang dinilai Syahrur ada rukhshah di dalamnya. Secara tegas, al-Quran menyebutnya sebagai suatu perbuatan keji (rijs) yang harus dijauhi (ungkapan lain untuk menyatakan haram) [baca QS al-Maidah: 90]. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: